TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Pengerjaan ruas Jalan Batas Kota Makassar-Pamanjengan-Benteng Gajah di Kecamatan Moncongloe terus berjalan.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman didampingi Bupati Maros Chaidir Syam melakukan groundbreaking proyek pada 23 Juli 2026.
Panjang ruas yang akan dikerjakan sekitar 9,3 kilometer.
Salah satu titik pengerjaan adalah di kawasan Simpang Tiga SPBU Moncongloe.
Kawasan tersebut merupakan titik strategis yang menghubungkan Kabupaten Maros dengan dua akses menuju Kota Makassar.
Satu jalur terhubung ke Borong Raya, Kecamatan Manggala, sedangkan jalur lainnya menuju Kompleks BTP yang menghubungkan Kecamatan Tamalanrea dan Kecamatan Biringkanaya.
Baca juga: Inilah Kekhawairan Pedagang saat Jalan Moncongloe Maros - Daya Makassar Ditutup Total
Sementara ke arah Maros, ruas tersebut menjadi akses menuju kawasan wisata Bantimurung.
Pekerjaan meliputi rekonstruksi jalan, pengecoran beton, pengaspalan di sejumlah titik, pembangunan drainase, talud, hingga box culvert untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini dikeluhkan warga.
Pemerintah menyiapkan skema penutupan total jalan mulai 21 Agustus hingga 17 September 2026, meski pelaksanaannya masih menunggu perkembangan pekerjaan di lapangan.
Pantauan Tribun Timur, Kamis (6/8/2026), arus lalu lintas di Simpang Tiga SPBU Moncongloe terpantau lancar.
Namun, kepulan debu tampak beterbangan saat kendaraan melintas.
Debu berasal dari material tanah dan batu hasil galian drainase yang berserakan di sepanjang pinggir jalan.
Saat ini, baru satu sisi drainase yang dikeruk. Pengerjaan satu sisi itu pun belum menyeluruh hingga ke perbatasan Makassar-Kompleks BTP.
Kepala Desa Moncongloe, Muhammad Iqbal, mengatakan sejauh ini belum dilakukan pengaturan lalu lintas secara ketat.
Menurutnya, pengaturan akan ditingkatkan saat pengerjaan drainase memasuki ruas jalan menuju perbatasan Makassar-Kompleks BTP.
"Rencananya pengaturan akan dibuka tutup. Dibuka tutup maksudnya bergantian dua lajur," jelasnya.
Iqbal mengatakan sistem buka tutup diterapkan karena material proyek dan alat berat akan mengganggu arus kendaraan.
"Kawasan itu juga memang sempit," ucapnya.
Pengecoran jalan baru akan dilakukan setelah seluruh pekerjaan drainase selesai.
"Kita tunggu perkembangannya, rencananya itu tanggal 21," ujarnya.
Iqbal mengatakan sosialisasi mengenai rencana penutupan jalan telah dilakukan kepada masyarakat, baik melalui pertemuan maupun media sosial.
"Ada sosialisasi di kantor kecamatan dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat. Kami juga sosialisasi lewat media sosial," katanya.
Ia menjelaskan spanduk petunjuk jalur alternatif telah dipasang di tiga titik menuju Simpang Tiga SPBU yang nantinya akan ditutup.
Menurut Iqbal, masyarakat diimbau menggunakan jalur alternatif selama proses pengerjaan berlangsung.
"Ketika ada yang ingin beraktivitas, sebaiknya mencari jalur alternatif terdekat. Hindari jam-jam macet. Lebih sabar untuk sementara karena proses perbaikan jalan ini untuk kebaikan bersama," jelasnya.
Seorang pedagang lalapan, Rudi Febrianto, berharap ada skema lain selain penutupan total ruas jalan.
Ia menilai penutupan total akan berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi para pedagang di sepanjang Jalan Moncongloe.
Rudi mencontohkan usahanya tetap harus membayar biaya sewa ruko dan menggaji lima karyawan setiap bulan.
Apabila jalan ditutup total, ia mengaku bingung mencari cara menutupi biaya operasional tersebut.
"Sangat terganggu aktivitas ekonomi ini. Bagaimana dengan pedagang-pedagang di sepanjang jalan ini yang usahanya tidak berputar," ujarnya.
Rudi menyarankan agar pengerjaan dilakukan secara bertahap, misalnya dengan menutup separuh badan jalan.
"Kami mendukung pengerjaan ini. Sangat bagus. Tapi bagaimana caranya pengerjaan tetap berjalan dan aktivitas para pedagang juga tetap bisa berlangsung," jelasnya.