TRIBUNMANADO.CO.ID - Jembatan Sukarno, Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menjadi saksi perjuangan hidup Iniesta Pontoh (Nesta) dan Alfalino Mokotika (Tayo).
Keduanya ketiduran di jembatan itu.
Kejadian tak biasa itu viral.
Lantas keduanya kepergok patroli Sat Pol PP Manado, dibina di shelter Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Namun keduanya tak heran.
Kembali ditemukan di jembatan itu.
Selidik punya selidik, keduanya bukan anak jalanan.
Mereka tidur di jembatan karena ketiduran akibat kelelahan bekerja memulung serta menjual kantong plastik.
Kedua bocah itu melakukannya demi membantu dapur ibu mereka tetap mengepul.
Ayah Nesta sudah tiada, menyisakan perjuangan bertahan hidup yang berat di pundak sang ibu.
Pahitnya ekonomi sempat merenggut ruang kelas dari hidup mereka.
Nesta dan Tayo putus sekolah dari SD GMIM 3 Tuminting.
Kisah pilu ini akhirnya mengetuk pintu hati jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Manado.
DP3A Kota Manado bergerak cepat turun tangan.
Dipimpin langsung oleh Kepala DP3A Manado, Meisje Wollah, instansi ini melakukan gerak kemanusiaan yang menyentuh.
Mereka tidak hanya datang memberi nasihat, tapi membawa solusi konkret demi masa depan kedua bocah tersebut.
"Kami memfasilitasi mereka untuk kembali ke sekolah.
Kondisi ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi hak anak untuk mendapatkan pendidikan," ujar Meisje dengan nada penuh empati.
DP3A Manado langsung berkoordinasi dengan pihak SD GMIM 3 Tuminting.
Guna memastikan Nesta dan Tayo tidak minder saat kembali ke kelas, Meisje membawa langsung buah tangan khusus: seragam sekolah baru yang bersih, tas, sepatu, kaus kaki, hingga buku tulis.
Semua perlengkapan itu diserahkan langsung kepada kedua anak.
Tak tanggung-tanggung, aksi jemput bola ini melibatkan sinergi total di tingkat bawah.
Kunjungan ke rumah keluarga dan pihak sekolah turut didampingi oleh Lurah Tuminting, Kepala Lingkungan III, hingga Pelayan Khusus/Penatua Kolom 9 GMIM Nazareth Tuminting.
Sinergi ini memastikan bahwa lingkungan sekitar ikut mengawasi dan menjaga agar kedua anak tidak lagi kembali tidur di jembatan yang berbahaya.
"Besok mereka sudah harus langsung melapor ke sekolah dan mulai mengikuti kegiatan belajar," tegas Meisje Wollah memberikan arahan.
Di balik baju kumal dan wajah lelah mereka saat mengasong di pasar, Nesta dan Tayo ternyata menyimpan bara api yang menyala-nyala.
Saat ditanya tentang masa depan, mata mereka berbinar.
Keduanya kompak menjawab satu cita-cita yang gagah: menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Meisje Wollah pun melepas kedua anak tersebut dengan pesan penutup yang sarat akan motivasi dan haru.
"Anak-anak harus tetap semangat belajar. Masa depan masih terbuka lebar, dan harapan tidak pernah hilang," kuncinya tersenyum optimis menatap masa depan Nesta dan Tayo.
(TribunManado.co.id/Art)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK