Sudah 19 Warga Terluka Diserang Monyet Ganas di Tembilahan Riau, Ada Tanda Codet di Pipi
Firmauli Sihaloho August 06, 2026 07:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, TEMBILAHAN - Serangan monyet ekor panjang di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, membuat warga resah.

Hewan liar yang diduga hanya satu individu itu disebut telah menyerang sedikitnya 19 warga sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli hingga 5 Agustus 2026.

Serangan tersebut terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14 dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota.

Korban mengalami luka akibat serangan monyet tersebut. Pola serangannya terbilang cepat dan mengejutkan.

Monyet biasanya menyerang ketika korbannya sedang seorang diri atau lengah.

Satwa itu kemudian menggigit bagian kaki korban sebelum segera melarikan diri.

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menduga serangan dilakukan oleh satu ekor monyet ekor panjang dewasa.

Monyet tersebut diperkirakan berjenis kelamin jantan dan memiliki ciri khusus berupa bekas luka atau codet pada bagian pipinya.

Hingga kini, petugas masih berupaya menemukan individu monyet yang diduga menjadi penyebab serangkaian serangan tersebut.

Baca juga: Pengedar Narkoba di Inhu Ditangkap di Pondok Kebun Sawit, Simpan Sabu di Dalam Tanah

Baca juga: Polisi Ekshumasi Makam Remaja di Pekanbaru Untuk Pastikan Penyebab Kematian, Dalami Unsur Pidana

Upaya penanganan sebelumnya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan hingga masyarakat telah melakukan penyisiran di lokasi menggunakan jaring dan tangguk.

Namun, monyet yang diduga menyerang warga tersebut belum berhasil diamankan.

Bahkan, umpan berupa pisang yang telah disiapkan petugas sejauh ini belum membuat satwa tersebut keluar atau merespons.

Pada Rabu (5/8/2026), Tim WRU BBKSDA Riau kembali melakukan koordinasi dengan Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan dan Lurah Tembilahan Kota.

Koordinasi berlangsung di Kantor Lurah Tembilahan Kota untuk mengevaluasi perkembangan serangan sekaligus menyusun langkah penanganan berikutnya.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam penanganan konflik satwa liar.

"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi," kata Supartono, Kamis (6/8/2026).

Ia mengatakan penanganan akan dilakukan dengan pemantauan dan identifikasi terhadap individu satwa yang diduga menjadi penyebab konflik.

Dalam rapat tersebut, seluruh pihak sepakat tidak melakukan perburuan terhadap monyet tersebut.

Petugas akan memperkuat pemantauan dan menyiapkan kandang perangkap untuk mengevakuasi satwa secara aman apabila berhasil ditemukan.

BBKSDA Riau mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di lokasi yang menjadi jalur pergerakan monyet.

Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas seorang diri, tidak memberikan makanan kepada satwa liar, serta segera melapor kepada petugas jika melihat monyet dengan ciri bekas luka atau codet di bagian pipinya.

Warga diminta tidak panik dan tidak mengambil tindakan sendiri terhadap monyet tersebut. Sebab, selain berisiko kembali menimbulkan korban, tindakan pengejaran atau perburuan dapat membuat satwa semakin sulit ditangani.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.