TRIBUNPEKANBARU.COM - Keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kelestarian sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.
Berangkat dari semangat tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan menggelar Pelatihan Penguatan Kelembagaan Kelompok Pengelola Mangrove di Desa Kelapapati, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis.
Pelatihan yang diikuti oleh 24 peserta ini merupakan bagian dari Program Konservasi Mangrove untuk Pengembangan Ekowisata dan Edukasi Lingkungan.
Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas kelompok pengelola mangrove melalui peningkatan kompetensi dalam tata kelola organisasi dan pengelolaan keuangan, sehingga mampu mengembangkan kawasan mangrove secara profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
Program ini juga merupakan bagian dari komitmen PT PLN (Persero) UIP Sumbagteng dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 14 – Ekosistem Laut melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi Manajemen Pengelolaan Kelompok yang disampaikan oleh Khairul Saleh, S.P., M.Si., dosen Politeknik Negeri Bengkalis sekaligus pegiat lingkungan.
Materi yang diberikan mencakup tata kelola organisasi, pembagian peran, kepemimpinan partisipatif, penyusunan program kerja, hingga strategi membangun jejaring kemitraan.
Menurut Khairul, kelembagaan yang kuat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi.
"Kelompok yang memiliki tata kelola organisasi yang baik akan lebih siap mengembangkan kawasan mangrove menjadi destinasi yang memberi manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
Peserta juga mendapatkan materi Pengelolaan Keuangan Kelompok yang disampaikan oleh Defitri Akbar, S.P., M.Si. Materi tersebut menitikberatkan pada penyusunan administrasi keuangan yang transparan dan akuntabel, mulai dari pencatatan kas, penyusunan laporan keuangan sederhana, hingga perencanaan anggaran kelompok sebagai bekal dalam mengelola kawasan mangrove secara berkelanjutan.
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Camat Bengkalis, Fitra Rama, S.STP. Ia mengapresiasi langkah PLN yang tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat sebagai pengelola kawasan mangrove.
"Kami berharap pelatihan ini mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola kawasan mangrove sehingga dapat berkembang sebagai destinasi ekowisata sekaligus media edukasi lingkungan," katanya.
Assistant Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) UIP Sumbagteng, Muhammad Jamil, yang ditemui di tempat terpisah, mengatakan bahwa penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dari strategi keberlanjutan program TJSL PLN.
"Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga sekaligus mengembangkan kawasan mangrove. Karena itu, selain konservasi, kami juga memperkuat kelembagaan, tata kelola organisasi, dan kemampuan pengelolaan keuangan agar kelompok mampu berkembang secara mandiri," ujar Muhammad Jamil.
Melalui pelatihan ini, PLN berharap kelompok pengelola mangrove di Desa Kelapapati mampu menjadi motor penggerak pengembangan ekowisata berbasis konservasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.