Kisah Pengusaha Tahu Kulon Progo dan Bantul Gotong Royong Bangun Jembatan Apung di Sungai Progo
Joko Widiyarso August 07, 2026 07:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Musim kemarau ini dimanfaatkan oleh pengusaha tahu di Kulon Progo dan Bantul untuk membangun jembatan sementara di atas aliran Sungai Progo. 

Jembatan ini menghubungkan Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo dengan Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul.

Keputusan membangun Jembatan Apung didasarkan pada keresahan para pengusaha tahu. 

Sebab, mobil untuk pengangkut tahu hanya bisa melewati Jembatan Srandakan yang menjadi akses terdekat, di mana jarak yang ditempuh bisa mencapai 10 kilometer.

Salah satu inisiator pembangunan Jembatan Apung tersebut adalah Sukidi Tresno Utomo, pengusaha tahu asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah. Jembatan itu pertama kali dibangun pada 2025 lalu.

"Saya dan dua teman yang menginisiasi pembangunan jembatan sementara itu," kata Sukidi ditemui pada Kamis (6/8/2026).

Sukidi menilai jarak akan menjadi lebih dekat jika jembatan dibangun di antara Lendah dan Pajangan.
Itu sebabnya, jembatan itu kemudian dibangun namun tetap dengan perencanaan matang.

"Sebab sebelumnya saya ikut serta dalam pembangunan Jembatan Sesek Temben yang juga dibangun di Lendah, namun hanya untuk sepeda motor," ujarnya.

Biaya pembangunan Jembatan Apung sepenuhnya mengandalkan patungan dari pengusaha tahu, yang totalnya bisa mencapai Rp150 juta. 

Uang digunakan untuk membeli bahan hingga untuk operasional selama proses pembangunan.

Ditopang tong bekas

Jembatan dibangun dengan material kayu yang ditopang dengan puluhan tong bekas yang diisi angin bertekanan agar bisa mengapung. 

Tong bekas itu dirangkai menggunakan kanal baja agar kokoh terpasang dengan badan jembatan sehingga aman dilewati.

"Jembatan ditambat dengan tali besi agar tak tersapu aliran Sungai Progo, seperti yang terjadi pada 2025 lalu," jelas Sukidi.

Warga pun ditempatkan untuk menjadi penjaga di Jembatan Apung secara sukarela. 

Salah satunya adalah Sugeng, yang saat ditemui sedang berjaga di tepi Sungai Progo sisi Kulon Progo, dekat jembatan tersebut.

Setiap harinya bisa 50 kendaraan yang lewat jembatan tersebut, mulai dari sepeda motor hingga mobil angkutan barang, bahkan kendaraan pribadi. 

Jembatan ini mampu menahan beban setidaknya hingga 1 ton.

"Jembatan ramainya mulai dini hari sampai pagi hari saat pengantaran tahu dan berangkat kerja dan sore hari saat pulang kerja," tutur Sugeng.

Ia mengatakan, pengendara yang melintas tidak perlu membayar untuk lewat di Jembatan Apung. 

Kalaupun ada, sifatnya lebih ke sukarela tanpa ditarik nominal tertentu.

Menurut Sugeng, Jembatan Apung hanya akan beroperasi selama musim kemarau. 

Saat memasuki musim hujan nanti, jembatan itu tidak difungsikan lagi, sampai musim kemarau berikutnya. 

"Kalau sudah mau musim hujan, jembatannya akan kami bongkar," jelasnya.

Toib adalah salah satu warga yang memanfaatkan Jembatan Apung itu untuk menyeberang Sungai Progo. 

Warga asal Pandak, Bantul itu kerap ke Lendah untuk mampir ke tempat temannya.

Ia juga memanfaatkan Jembatan Apung pada 2025 lalu, karena waktu tempuhnya menjadi lebih singkat. 

Biasanya, ia melewati jembatan di Bendung Kamijoro, yang jarak tempuhnya lebih lama 10 menit dibandingkan lewat Jembatan Apung.

"Jelas sangat terbantu dengan adanya jembatan ini, jadi saya tidak harus memutar jauh," kata Toib. (Alexander Ermando)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.