TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Orangtua siswa SDN 026 Bojongloa, Kota Bandung menyayangkan adanya aksi penggembokan gerbang sekolah yang dilakukan oleh pihak ahli waris akibat terjadi sengketa lahan, pada Kamis (6/8/2026).
SDN 026 Bojongloa terletak di Jl. Cibaduyut No.39-43, Kb. Lega, Kec. Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat.
Berdasarkan video yang beredar, sejumlah siswa yang sudah siap untuk belajar tampak berkumpul di depan gerbang pada pagi hari dengan kondisi kebingungan karena mereka tidak bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah.
Berdasarkan pantauan Tribun Jabar pukul 10.00 WIB, gembok di gerbang sekolah itu sudah dibuka, namun kondisi di sekolah sudah kosong karena pihak sekolah memutuskan untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
"Tadi anak saya pulang sama temannya, saya tanya kenapa malah pulang. Katanya digembok sekolahnya," ujar orangtua siswa SDN 026 Bojongloa, Robi Rahmawan (36), Kamis (6/8/2026).
Padahal, pada hari itu siswa sudah menunggu kegiatan menonton film bersama guru sekitar pukul 10.00 WIB.
Baca juga: Gerbang Digembok Ahli Waris, SDN 026 Bojongloa Bandung Terapkan PJJ, Siapkan Relokasi Sementara
Akibat gerbang digembok, agenda yang sudah dinanti itu batal karena diterapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sehingga dia menyangkan adanya kejadian ini.
"Iya (menyayangkan) karena enggak ada kabar, langsung digembok saja gitu. Kalau kita sebagai orang tua mah menginginkan yang terbaik saja untuk anaknya supaya tidak terganggu belajarnya," katanya.
Atas hal tersebut, Robi mengaku tidak keberatan apabila untuk sementara ini siswa harus belajar di sekolah lain agar proses KBM tetap berjalan.
Sedangkan jika direlokasi ke sekolah baru dia meminta lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah.
"Yang penting bisa sekolah walaupun harus pindah, tapi jangan terlalu jauh lokasi. Kalau PJJ sebenarnya saya keberatan karena orang tua jadi ikut repot," ucap Robi.
Sementara Ketua Komite SDN 026 Bojongloa, Lina Herlina mengatakan, kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi di sekolah anaknya yang kini sudah duduk di bangku kelas 6.
"Kejadian seperti ini sebenarnya bukan pertama kali. Anak saya kan kelas 6 nih, jadi katakanlah kurun waktu kurang lebih 5-6 tahun yang sudah dijalani sudah 2 kali, berupa penyegelan, terus sekarang penggembokan," kata Lina.
Atas hal tersebut, kata dia, kejadian ini diharapkan tak terjadi lagi, apalagi pemerintah itu sedang memberikan solusi dengan menyiapkan relokasi tempat atau sekolah.
Pembangunan sekolah itu sudah dilakukan peletakan batu pertama.
"Kalau dari sekolah yang lama ke yang baru itu kurang lebih ada sekitar 2-3 kilometer. Tapi saya kurang paham kenapa pas sudah mau tahap pembangunan, ternyata di sana dapet penolakan juga ya," ucapnya.(*)