Tribunjogja.com Kulon Progo - Musim kemarau dimanfaatkan oleh pengusaha tahu di Kulon Progo dan Bantul untuk membangun Jembatan Apung Sungai Progo.
Jembatan sementara ini menghubungkan Kalurahan Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo dengan Kalurahan Sendangsari, Pajangan, Bantul.
Salah satu inisiator, Sukidi Tresno Utomo, pengusaha tahu asal Ngentakrejo, menyebut jembatan pertama kali dibangun pada 2025.
“Saya dan dua teman yang menginisiasi pembangunan jembatan sementara itu,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Keputusan membangun jembatan didasari keresahan pengusaha tahu. Mobil pengangkut tahu sebelumnya hanya bisa melewati Jembatan Srandakan dengan jarak tempuh hingga 10 kilometer.
Dengan jembatan baru, jarak distribusi lebih singkat.
Sukidi menambahkan, pengalaman membangun Jembatan Sesek Temben untuk sepeda motor menjadi bekal perencanaan matang Jembatan Apung.
Biaya pembangunan mencapai Rp 150 juta, hasil patungan pengusaha tahu. Jembatan dibuat dari kayu yang ditopang puluhan tong bekas berisi angin bertekanan agar mengapung.
Tong dirangkai dengan kanal baja sehingga kokoh.
“Jembatan ditambat dengan tali besi agar tak tersapu aliran Sungai Progo, seperti yang terjadi pada 2025 lalu,” jelas Sukidi.
Warga ditempatkan sebagai penjaga secara sukarela. Sugeng, salah satu penjaga, menyebut setiap hari sekitar 50 kendaraan melintas, mulai dari sepeda motor, mobil angkutan barang, hingga kendaraan pribadi.
Jembatan mampu menahan beban hingga 1 ton.
“Ramainya mulai dini hari sampai pagi saat pengantaran tahu dan berangkat kerja, lalu sore saat pulang kerja,” ujarnya.
Pengendara tidak dikenakan biaya, hanya sumbangan sukarela. Jembatan beroperasi hanya saat musim kemarau, dan akan dibongkar menjelang musim hujan.
Toib, warga Pandak, Bantul, mengaku sangat terbantu. Ia sering ke Lendah untuk menemui temannya. Dengan Jembatan Apung, waktu tempuh lebih singkat dibanding melewati Bendung Kamijoro.
“Jelas sangat terbantu dengan adanya jembatan ini, jadi saya tidak harus memutar jauh,” katanya.
Jembatan Apung Sungai Progo menjadi bukti inisiatif warga dan pengusaha lokal dalam mengatasi keterbatasan akses.
Meski bersifat sementara, jembatan ini memberi manfaat besar bagi distribusi usaha tahu dan mobilitas warga. (alx)
• NIK Kecantol Deposit Judol, 10.000 Warga Bantul Ditangguhkan dari Bantuan PKH