TRIBUNLOMBOK.COM — Kinerja impor Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juni 2026 tercatat melemah.
Meski nilai impor bulanan mengalami penurunan signifikan, struktur komoditas yang masuk ke NTB didominasi bahan baku industri dan barang modal.
Dari sisi komoditas, karet dan barang dari karet menjadi kelompok impor terbesar dengan nilai US$ 3.570.530, atau setara 54,49 persen dari total impor NTB pada Juni 2026.
Posisi kedua ditempati mesin-mesin dan pesawat mekanik senilai US$ 1.862.834 (28,43 persen).
Baca juga: Ekspor NTB Juni 2026 Tembus 83 Juta Dolar, Tembaga Jadi Andalan Utama
Selanjutnya, berbagai produk kimia tercatat senilai US$ 443.102 (6,76 persen), disusul benda-benda dari besi dan baja sebesar US$ 336.680 (5,14 persen), serta kendaraan dan bagiannya senilai US$ 117.887 (1,80 persen).
Impor NTB juga mencakup besi dan baja (1,15 persen), perangkat optik (1,12 persen), plastik (0,32 persen), dan mesin atau peralatan listrik (0,26 persen).
Dari sisi negara asal, Jepang kembali menempati posisi teratas sebagai pemasok utama barang impor ke NTB dengan nilai US$ 3.494.920, atau 53,34 persen dari total impor.
Posisi berikutnya diisi Kanada dengan nilai US$ 950.000 (14,50 persen) dan Amerika Serikat sebesar US$ 829.958 (12,67 persen).
Singapura turut menjadi pemasok signifikan dengan nilai US$ 693.666 (10,59 persen), diikuti Australia sebesar US$ 447.681 (6,83 persen), dan Tiongkok yang menyumbang US$ 136.492 (2,08 persen).
Karet dan barang dari karet sebagian besar didatangkan dari Jepang, Tiongkok, dan Australia.
Sementara itu, mesin-mesin dan pesawat mekanik mayoritas dipasok dari Kanada, Amerika Serikat, dan Singapura.
Adapun untuk kelompok berbagai produk kimia, seluruh pasokannya tercatat berasal dari satu negara, yakni Singapura.
Secara kumulatif, nilai impor NTB sepanjang Januari–Juni 2026 telah mencapai US$ 43,03 juta.
Kendati nilai impor bulanan pada Juni 2026 menurun tajam dibandingkan tahun sebelumnya, komposisi barang yang didatangkan tetap mencerminkan kebutuhan mendasar sektor industri dan infrastruktur di wilayah NTB, dengan karet, mesin-mesin, dan bahan kimia sebagai penopang utama arus impor daerah ini.
(*)