TGB Soroti Meninggalnya Pasien BPJS, Ajak Semua Pihak Berbenah dan Tingkatkan Empati
Idham Khalid August 07, 2026 09:19 AM

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tokoh agama Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), turut menyampaikan keprihatinannya atas meninggalnya pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan (29), yang diduga terlambat mendapatkan ruang rawat inap setelah menunggu selama sekitar delapan jam.

Kasus tersebut menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah muncul sejumlah tanggapan dari tenaga kesehatan yang dinilai sebagian masyarakat kurang menunjukkan empati.

Menanggapi peristiwa itu, TGB menyampaikan bahwa meninggalnya Yurizal harus menjadi bahan introspeksi dan pembelajaran bagi semua pihak.

"Pertama, BPJS Kesehatan sebagai program kebanggaan kita merupakan salah satu program pelayanan kesehatan publik terbesar di dunia, dan sampai hari ini, program tersebut masih terus memerlukan penyempurnaan," ujar TGB dalam unggahan di akun instragram mliliknya, Kamis (6/8/2026).

Ia menilai manfaat BPJS Kesehatan sangat besar, namun pelaksanaannya masih perlu banyak pembenahan agar pelayanan yang diberikan semakin manusiawi.

"Manfaatnya memang luar biasa, namun pelaksanaannya masih harus banyak dibenahi. Pelayanan harus lebih manusiawi, tidak ada yang terlantar, tidak ada yang terpinggirkan, dan semua mendapatkan pelayanan yang terbaik," katanya.

Baca juga: Cakupan JKN Tembus 284 Juta Jiwa, BPJS Kesehatan Optimalkan Layanan Digital

Mantan Gubernur NTB itu juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan empati terhadap sesama, terutama menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

"Kemerdekaan kita itu selain dari rahmat Allah, karena kita berkerja sama sebagai sesamA anak bangsa, saling peduli dan saling membantu,” ujarnya.

Menurut TGB, empati perlu diberikan kepada seluruh pihak, baik pasien maupun tenaga kesehatan.

"Empati kepada saudara kita yang sedang sakit, termasuk pasien BPJS. Kita tahu bahwa sakit adalah musibah, tidak ada seorang pun yang memilih untuk sakit. Semua tentu ingin sehat. Di sisi lain, kita juga perlu berempati kepada para tenaga kesehatan yang telah mendedikasikan ilmu, keahlian, dan tenaga mereka untuk melayani masyarakat," tuturnya.

Selain itu, TGB mengingatkan masyarakat agar lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial dan tidak memperkeruh situasi dengan komentar yang bernada merendahkan atau menyerang pihak lain.

Ia menegaskan, perilaku arogan, tendensius, maupun perundungan di ruang digital tidak boleh dinormalisasi, terlebih oleh kalangan terdidik yang semestinya menjadi teladan dalam bersikap dan bertutur kata.

TGB berharap insiden tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

"Tenaga kesehatan telah mengambil pelajaran yang sangat berharga. Insyaallah semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan akan ditingkatkan kualitas pelayanannya, dan insyaallah akan semakin manusiawi. Kita harus ingat bahwa kesehatan adalah urat nadi dari kehidupan bangsa," pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.