TRIBUNJOGJA.COM - Drama transfer Rodri baru-baru ini makin panas.
Setelah berbulan bulan disebut sebagai incaran utama Real Madrid, kabar terbaru menyebut Barcelona justru berhasil masuk dan mengambil alih posisi terdepan dalam perburuan gelandang timnas Spanyol ini.
Beberapa sumber termasuk jurnalis ternama, Fabrizio Romano, bahkan melaporkan Rodri sudah menyepakati persyaratan pribadi dengan Barcelona, meninggalkan Madrid yang sempat begitu percaya diri bakal mendapatkan tanda tangannya.
Di luar drama siapa yang menang rebutan, ada pertanyaan menarik yang jarang dibahas, sebenarnya gaya main Rodri lebih cocok diterapkan di Madrid atau Barcelona?
Ketertarikan Barcelona bukan tanpa sebab mendesak.
Frenkie de Jong mengalami cedera lutut serius saat Piala Dunia 2026 dan harus absen berbulan bulan.
Praktis, Barcelona kehilangan satu pivot kelas dunia di lini tengah, posisi yang sebenarnya belum jadi prioritas belanja mereka musim ini sebelum cedera itu terjadi.
Rodri dilihat sebagai solusi instan untuk masalah ini.
Kehadirannya juga diyakini bakal mempermudah proses adaptasi, mengingat delapan pemain Barcelona saat ini merupakan rekan setimnya di skuad juara dunia, mulai dari Pedri, Cubarsi, Lamine Yamal, sampai Dani Olmo.
Dari sisi taktik, filosofi permainan Barcelona di bawah Hansi Flick sebenarnya cukup dekat dengan karakter Rodri selama ini.
Barcelona mengutamakan penguasaan bola, build up dari lini belakang, dan kontrol tempo, mirip dengan peran yang biasa dijalankan Rodri di Manchester City bersama Pep Guardiola.
Rodri dikenal sebagai gelandang yang piawai membaca ruang, mengatur distribusi bola, dan jarang melakukan kesalahan dalam build up.
Karakter ini pas dengan kebutuhan Barcelona yang mengandalkan possession football dan transisi cepat lewat penguasaan bola dominan.
Sebaliknya, Real Madrid di bawah Jose Mourinho punya pendekatan berbeda.
Mourinho selama ini identik dengan gaya main lebih pragmatis, mengandalkan soliditas pertahanan dan serangan balik cepat dibanding penguasaan bola berkepanjangan.
Beberapa laporan bahkan menyebut Rodri sendiri mulai meragukan apakah proyek Madrid di bawah Mourinho benar benar cocok dengan gaya mainnya.
Selain soal taktik, faktor kedekatan personal juga berperan besar.
Rodri disebut punya hubungan dekat dengan sosok sosok penting di Barcelona, termasuk direktur olahraga Txiki Begiristain dan tentu saja Pep Guardiola, mantan mentornya di Manchester City.
Ikatan emosional dengan rekan rekan timnas yang kini membela Barcelona turut jadi pertimbangan besar.
Bermain bersama pemain pemain yang baru saja merasakan euforia juara dunia, tentu punya daya tarik tersendiri dibanding harus beradaptasi dari nol di lingkungan baru.
Kalau dilihat murni dari kecocokan gaya main, Barcelona memang tampak lebih pas untuk karakter permainan Rodri yang mengandalkan penguasaan bola dan build up terstruktur.
Namun Real Madrid tetap punya daya tarik tersendiri, terutama soal ambisi klub yang sedang habis habisan berbenah demi mengejar ketertinggalan dari Barcelona musim ini.
Yang jelas, siapa pun yang akhirnya berhasil mendapatkan tanda tangan Rodri, satu hal pasti terjadi, lini tengah klub tersebut bakal naik kelas signifikan musim depan.
(MG Farhatiy Rijal)