Di Balik Jeruji, Benang-Benang Harapan Ditenun di Lapas Perempuan Kupang
OMDSMY Novemy Leo August 07, 2026 12:41 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Suara kayu alat tenun beradu pelan memecah keheningan pagi di Lapas Perempuan Kupang, Jumat 7 Agustus 2026. 

Bukan suara pintu besi yang terkunci atau langkah petugas yang mendominasi suasana, melainkan irama tenun yang mengalun dari sebuah ruangan terbuka di tengah kompleks lapas.

Di ruangan itu, belasan perempuan duduk berjejer di depan alat tenun bukan mesin.

Jemari mereka bergerak lincah, menarik, menyusun, lalu mengunci helai demi helai benang menjadi selembar kain yang perlahan memperlihatkan motif khas Nusa Tenggara Timur.

Mereka mengenakan kaus merah marun bertuliskan Warga Binaan Lapas Perempuan Kupang. Status sebagai warga binaan memang melekat pada diri mereka.

Namun di balik label itu, mereka adalah para perempuan yang sedang belajar menata kembali masa depan.

Sesekali terdengar percakapan ringan dan tawa kecil di antara mereka. Wajah-wajah yang dahulu mungkin dipenuhi penyesalan, kini terlihat fokus menyelesaikan setiap jalinan benang. Di tempat inilah mereka menemukan ruang untuk kembali percaya pada kemampuan diri sendiri.

Tak jauh dari mereka, Kepala Lapas Perempuan Kupang, Dewi Andriani, S.H., M.H., memperhatikan proses itu dengan senyum bangga.

"Bagi kami, pembinaan di lapas bukan hanya soal menjalani hukuman, tetapi bagaimana mempersiapkan mereka ketika kembali ke masyarakat," ujar Dewi Andriani.

Karena itu, selain pembinaan kerohanian yang rutin bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Kupang bagi umat Kristen, Katolik, dan Islam, Lapas Perempuan Kupang juga membekali warga binaan dengan berbagai keterampilan.

Ada pelatihan tata boga, salon, menjahit, hingga tenun. Namun dari semua program tersebut, tenun menjadi kebanggaan sekaligus ikon pembinaan kemandirian di lapas ini.

Program itu telah berjalan sejak akhir 2023. Setiap tahun, pelatihan terus diberikan kepada warga binaan baru bekerja sama dengan perajin lokal Ina Ndau.

Ketika ada penghuni yang telah bebas, pelatihan kembali dibuka agar keterampilan itu terus diwariskan kepada penghuni berikutnya.

Hasilnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Di ruang pameran lapas, berbagai karya tersusun rapi.

Ada selendang dengan warna-warna cerah, kain tenun bermotif khas NTT, hingga aneka kerajinan rajut yang dibuat dengan tangan-tangan yang sama, tangan yang kini lebih akrab merangkai benang daripada mengingat masa lalu.

Kepercayaan terhadap kualitas karya mereka pun terus tumbuh.

Belum lama ini, Lapas Perempuan Kupang menerima pesanan khusus sebanyak 50 selendang dari Kapolda NTT. 

Nama Kapolda ditenun pada setiap selendang sebagai identitas khusus. Karya serupa juga dibuat untuk Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTT.

"Melihat hasil karya mereka, saya bangga. Mereka sangat antusias. Walaupun berada di dalam lapas, mereka memiliki keahlian yang nantinya bisa menjadi bekal mencari nafkah ketika kembali ke tengah keluarga," kata Dewi Andriani.

Tak hanya tenun, kreativitas warga binaan juga berkembang melalui kerajinan rajut. Menariknya, keterampilan itu lahir tanpa pelatih khusus.

Dewi Andriani mengaku hanya memperlihatkan video tutorial dari YouTube. Selebihnya, warga binaan belajar sendiri. 

"Mereka mencoba, gagal, memperbaiki, lalu kembali mencoba hingga akhirnya mampu menghasilkan tas, dompet, tempat tisu, gantungan kunci, dan berbagai kerajinan lain yang rapi dan bernilai jual," tutur Dewi Andriani.

Produk-produk tersebut kini dipasarkan kepada instansi pemerintah, tamu resmi yang datang ke lapas, keluarga warga binaan, keluarga pegawai, hingga masyarakat melalui media sosial resmi Lapas Perempuan Kupang.

Harganya pun cukup terjangkau. Selendang dijual mulai Rp 50 ribu, sedangkan kain tenun bermotif rumit dapat mencapai Rp 500 ribu.

Namun bagi para perempuan di balik jeruji itu, nilai karya mereka tak hanya diukur dari angka rupiah. 

Setiap helai benang yang tersusun adalah simbol kesabaran. Setiap motif yang selesai dikerjakan menjadi bukti bahwa kehidupan, seperti selembar kain tenun, selalu bisa dirajut kembali meski pernah kusut.

Di Lapas Perempuan Kupang, mereka bukan sekadar membuat kain.

Mereka sedang menenun harapan, merangkai kepercayaan diri, dan mempersiapkan lembaran baru agar saat pintu lapas terbuka nanti, mereka tidak hanya keluar sebagai mantan warga binaan, tetapi sebagai perempuan yang memiliki keterampilan, harga diri, dan harapan untuk memulai hidup kembali. (ray)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.