Kasus pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan belum mendapat ruang rawat inap setelah menunggu selama delapan jam memicu polemik di media sosial. Sejumlah dokter dan tenaga kesehatan turut menjadi sorotan setelah melontarkan komentar bernada negatif terhadap pasien tersebut.
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan agar persoalan tersebut tidak berujung pada benturan antara pasien dan tenaga kesehatan. Menurutnya, ada dua persoalan yang perlu mendapat perhatian, yakni perilaku tenaga kesehatan di ruang digital serta sistem pelayanan kesehatan yang membuat pasien harus menunggu lama untuk mendapatkan ruang rawat.
"Ada dua hal utama tentang kejadian sekarang ini, dan dua-duanya perlu dibenahi," ucapnya saat dihubungi detikcom, Jumat (7/8/2026).
Prof Tjandra menegaskan komentar tenaga kesehatan yang bernada negatif terhadap pasien tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, tenaga kesehatan perlu memiliki empati sekaligus kemampuan untuk memahami dan merasakan kondisi yang dialami pasien.
"Nakes selain harus empati maka juga harus ada 'einfuhlung'," ujarnya.
Untuk itu, Prof Tjandra menilai setidaknya ada tiga pihak yang perlu berperan lebih aktif, yakni organisasi profesi, institusi pendidikan, dan otoritas kesehatan.
Organisasi profesi, menurut Prof Tjandra, perlu diberi ruang yang memadai untuk menjalankan perannya dalam membina tenaga kesehatan, termasuk melalui lingkungan peer group.
Sementara itu, institusi pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan prinsip etika dan empati selama tenaga kesehatan menjalani pendidikan. Setelah lulus, pembinaan tersebut perlu dilanjutkan melalui organisasi profesi.
"Ketiga adalah otoritas kesehatan, baik RS setempat, Dinas Kesehatan maupun Kementerian Kesehatan," tuturnya.
Tjandra juga menilai masyarakat perlu mendapat pemahaman mengenai kondisi tenaga kesehatan di lapangan, termasuk berbagai aturan pelayanan di rumah sakit yang harus dipatuhi.
"Tentu sebaiknya ada juga penjelasan ke masyarakat luas tentang kerja Nakes di lapangan, apa yang mereka bisa lakukan, aturan apa yang mungkin ada di RS dll yang harus diikuti walaupun kadang-kadang "berbenturan" dengan kemudahan pelayanan, dll," lanjutnya.
Pasien Tunggu 8 Jam Juga Tak Bisa Dianggap Wajar
Di sisi lain, Prof Tjandra menilai persoalan pasien yang harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat juga tidak dapat diabaikan.
"Kedua tentang pasien sampai 8 jam tidak dapat ruang rawat. Ini juga jelas tidak dapat diterima karena tentu jadi amat kasihan pada pasien dan keluarganya," ujarnya.
Menurutnya, jika kondisi tersebut masih terjadi bahkan di ibu kota negara, hal itu seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi sarana dan prasarana rumah sakit, termasuk ketersediaan tempat tidur dan ruang rawat.
Menurutnya, fasilitas kesehatan memang membutuhkan peralatan medis canggih. Namun, ketersediaan tempat tidur dan kamar rawat juga merupakan bagian mendasar dari pelayanan kesehatan yang tidak boleh luput dari perhatian.
Selain sarana dan prasarana, sistem pelayanan di dalam rumah sakit juga perlu diperbaiki. Begitu pula dengan sistem jejaring rujukan antar-rumah sakit jika kapasitas suatu fasilitas kesehatan sudah tidak mencukupi.
Pengaturan jam kerja tenaga kesehatan juga perlu menjadi perhatian untuk mencegah burnout yang dapat berdampak pada kualitas pelayanan.
"Jumlah dan jenis petugas juga harus tersedia memadai, ingat ini bukan hanya tentang dokter yang sangat ahli dan bertaraf internasional tetapi juga tentang dokter dan tenaga kesehatan yang jaga malam, atau yang sehari-hari di IGD atau poliklinik penuh pengunjung dll," jelasnya.
Prof Tjandra menambahkan, berbagai aturan pelayanan yang justru membuat pasien tidak nyaman juga perlu dievaluasi, baik yang berasal dari jajaran kesehatan maupun BPJS Kesehatan.
Menurutnya, perbaikan pelayanan kesehatan tidak seharusnya berhenti pada persoalan individu, baik pasien maupun tenaga kesehatan. Sistem yang mendukung kedua pihak juga perlu dibenahi agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
"Semoga dunia pelayanan kesehatan di Indonesia dapat lebih sejuk dan harmonis," pungkasnya.





