Kisah Sifa, Petugas PPSU Kapuk Muara Jalani Banyak Peran Tiap Hari Demi Mimpi yang Belum Selesai
Wahyu Septiana August 07, 2026 02:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Ini adalah cerita tentang Sifa Fauziah, perempuan yang punya banyak peran dalam kehidupan kesehariannya.

Pagi hari merupakan waktu yang krusial, karena Sifa harus bangun lebih awal untuk siap-siap berangkat kerja sembari merapikan keperluan anak dan suaminya.

Siangnya, ia beraksi di jalanan: menyapu debu-debu, mengangkuti sampah-sampah.

Tatkala petang tiba, ia pulang ke rumah membayar lelah dengan bercengkerama bersama anak-anak dan suaminya.

Selepas itu, menuju malam, ia mencari uang tambahan sambil menyerap ilmu baru, sampai lelah tak bisa ditahan lagi dan akhirnya ia terlelap sampai rutinitas yang sama di hari yang baru membangunkannya.

Sifa Fauziah adalah seorang anggota petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Di balik seragam oranye yang dikenakannya setiap hari, perempuan berusia 32 tahun itu menyimpan kisah perjuangan yang panjang.

Ia adalah ibu dari empat anak, seorang mahasiswi yang tengah berjuang menyelesaikan pendidikan sarjana, sekaligus konten kreator yang mencari tambahan penghasilan demi membantu perekonomian keluarga.

PETUGAS PPSU - Sifa Fauziah (32), petugas PPSU Kelurahan Kapuk Muara. Sifa berbagi peran dalam kehidupan sehari-harinya: dari menjalani berbagai pekerjaan hingga niat kejar mimpinya.
PETUGAS PPSU - Sifa Fauziah (32), petugas PPSU Kelurahan Kapuk Muara. Sifa berbagi peran dalam kehidupan sehari-harinya: dari menjalani berbagai pekerjaan hingga niat kejar mimpinya. (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Sifa ialah lulusan SMK yang baru bergabung menjadi anggota PPSU sekitar satu tahun lalu. 

Keputusan menjadi petugas PPSU bukan datang begitu saja.

Saat itu, ia masih bekerja di perusahaan swasta ketika mendengar informasi pembukaan rekrutmen PPSU dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Tanpa banyak pertimbangan, ia mencoba mengadu peruntungan.

Ia mengikuti seluruh tahapan seleksi mulai dari pendaftaran, tes lapangan, wawancara, hingga akhirnya menandatangani kontrak kerja pada Oktober 2025.

"Kenapa memilih PPSU, karena saya lihat jangka panjangnya. Pekerjaan yang sangat mulia, membersihkan kotoran, sampah, saluran. Waktu ada pengumuman saya mencoba, siapa tahu itu rezeki saya. Alhamdulillah prosesnya lancar sampai sekarang," ujar Sifa ketika berbincang bersama awak media, Kamis (6/8/2026), di kediamannya di Kapuk Muara.

Sifa bercerita, hari pertama bertugas sebagai pasukan oranye menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan.

Karena belum pernah bekerja di lapangan dengan kondisi yang harus bersentuhan langsung dengan sampah maupun saluran air, rasa kaget langsung menghampirinya.

"Pertama kali sangat kaget karena sebelumnya belum pernah pekerjaan seperti ini. Sempat nangis juga karena menghadapi sampah, debu, polusi, bau saluran," katanya.

Bagian tersulit baginya adalah membersihkan sampah yang menumpuk di dalam saluran.

Selain basah, tak jarang terdapat kotoran yang harus diangkat menggunakan tangan yang sudah dilindungi sarung tangan.

Menurutnya, semua itu merupakan konsekuensi dari pekerjaan yang sudah dipilihnya sendiri.

"'Emang nggak jijik? Begitu kata orang. Saya bilang nggak dong. Membersihkan sampah itu kan sebagian dari iman," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, rasa kaget itu perlahan berubah menjadi kebanggaan.

Lingkungan kerja yang saling mendukung membuatnya semakin menikmati profesi tersebut.

Baginya, menjadi petugas PPSU bukan sekadar bekerja demi menerima gaji setiap bulan, melainkan ikut menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman bagi masyarakat.

Selepas bekerja hingga pukul 15.00 WIB, perjuangannya belum selesai.

Di rumah sudah menunggu empat buah hati yang membutuhkan perhatian ibunya.

Anak sulungnya kini duduk di bangku SMP.

Anak kedua masih kelas lima SD, disusul anak ketiga yang masih TK, serta si bungsu yang baru berusia dua setengah tahun.

Agar semua kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, Sifa dan sang suami, Nur Taslim (40) yang bekerja sebagai pengemudi ojek online, membagi peran dengan sangat rapi.

Saat Sifa bekerja sejak pagi, sang suami berada di rumah menjaga anak-anak.

Setelah Sifa pulang, giliran suaminya mencari penumpang di jalan.

"Kita bagi tugas. Saya kerja dari pagi, suami yang jaga anak. Pas saya pulang, suami lanjut ojol," ujarnya.

Karena setiap hari bergelut dengan sampah dan saluran air, ia memiliki kebiasaan mandi hingga tiga sampai empat kali sehari.

Hal itu dilakukannya agar kebersihan tetap terjaga sebelum kembali memeluk anak-anaknya.

Namun perjuangan keluarga kecil itu ternyata jauh lebih berat.

Salah satu anaknya mengalami dekstrokardia atau kondisi ketika posisi jantung dan organ dalam berada di sisi yang berlawanan.

Kondisi tersebut membuat sang anak membutuhkan terapi, vitamin, serta kontrol kesehatan secara rutin.

Biaya pengobatan itulah yang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa Sifa terus berusaha bekerja keras.

"Pekerjaan apa pun aku ambil karena anak butuh terapi, butuh vitamin, terus juga kontrol," katanya.

Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, Sifa ternyata masih menyimpan mimpi yang belum selesai.

Pada 2020, ia memutuskan melanjutkan pendidikan S-1 Manajemen di Universitas Terbuka.

Saat itu ia bahkan menjalani kuliah sambil mengurus anak yang baru lahir dan tetap bekerja.

Karena keterbatasan biaya, kuliahnya terpaksa berhenti ketika memasuki semester empat pada 2022.

Meski begitu, semangatnya tidak ikut berhenti.

Belakangan ia mengetahui statusnya sebagai mahasiswa masih aktif sehingga kini ia bertekad melanjutkan kuliah setelah memiliki pekerjaan tetap sebagai anggota PPSU.

Baginya, pendidikan merupakan bekal penting, bukan hanya untuk meningkatkan jenjang karier, tetapi juga untuk mendidik anak-anaknya kelak.

"Pendidikan benar-benar penting. Kita melihat jangka panjangnya. Sebagai ibu, dengan bekal pendidikan insyaallah kita bisa membentuk karakter anak-anak dengan baik," tuturnya.

Masih belum cukup sampai di situ.

Di sela waktu luangnya, Sifa juga menjadi konten kreator.

Awalnya ia membuat ulasan produk kecantikan, kemudian berkembang hingga menerima pekerjaan mengulas makanan, toko, pusat perbelanjaan, hingga produk fesyen melalui akun media sosialnya.

Penghasilan tambahan tersebut menjadi penopang lain bagi kebutuhan rumah tangga.

Meski menjalani banyak peran sekaligus, Sifa mengaku pernah merasa lelah.

Namun, ia tidak pernah benar-benar berpikir untuk menyerah.

Sesekali ia memilih mengambil satu hari penuh untuk beristirahat dari seluruh aktivitasnya.

Pada hari itu ia meminta bantuan suaminya agar dapat memulihkan tenaga sebelum kembali menjalani rutinitas.

Bagi Sifa, setiap pekerjaan memiliki kehormatan selama dilakukan dengan cara yang baik dan halal.

Ia juga ingin meluruskan anggapan sebagian masyarakat yang mengira menjadi petugas PPSU harus memiliki orang dalam atau membayar sejumlah uang.

"Alhamdulillah aku 100 persen nol rupiah dan tanpa ordal. Kita berusaha, kita ngelamar kerja, ikutin aja prosesnya. Kalau memang itu rezekinya, pasti ada jalannya. Kalau belum rezeki, cari pekerjaan apa pun yang penting berkah."

Kalimat itu menjadi penutup dari perjalanan panjang seorang perempuan yang setiap hari berganti peran tanpa banyak mengeluh.

Pagi menjadi petugas PPSU, sore menjadi ibu bagi empat anak, malam mengejar tambahan penghasilan dan mimpi yang sempat tertunda.

Di balik seragam oranye yang sering dipandang sebelah mata, Sifa membuktikan bahwa kerja keras, pendidikan, dan kasih sayang kepada keluarga dapat berjalan beriringan dalam satu kehidupan.

Lurah Kapuk Muara: Sifa Rajin dan Selalu Datang Tepat Waktu

Lurah Kapuk Muara Aditya Riski P. mengatakan, Sifa Fauziah merupakan salah satu petugas PPSU yang dikenal disiplin dalam menjalankan tugasnya.

Menurut dia, Sifa selalu datang tepat waktu untuk memulai pekerjaan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

"Untuk sosok PPSU kita yang bernama Sifa, sosok yang rajin ya tentunya. Sifa juga sendiri memang rajin di wilayah, kadang juga memang datang tepat waktu selalu," kata Aditya.

Selama hampir satu tahun bertugas di Kelurahan Kapuk Muara, Sifa dinilai konsisten menjalankan tanggung jawabnya di lapangan.

Aditya juga menyebut pihak kelurahan rutin menggelar briefing mingguan dan evaluasi bulanan sebagai bentuk pembinaan bagi seluruh petugas PPSU.

Selain itu, pembagian tugas dan zona kerja juga dirotasi secara berkala agar para petugas tidak jenuh.

Berita Lainnya

Baca juga: Banyak Penyandang Disabilitas Miskin di Jakarta Tak Terima Bansos, PPDFI Soroti Masalah Data Desil

Baca juga: Temuan 995 Senjata di Sekolah Jaksel Diklaim Sudah Berizin, Disebut Buat Ekskul Menembak

Baca juga: DPRD Jakarta Dorong Pajak Kendaraan Listrik, Potensi PAD Diproyeksi Rp 2 Triliun

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.