TRIBUNMANADO.COM, BITUNG - Kementerian Investasi Hilirisasi/BKPM RI menyorot Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung yang berjalan lambat.
Direktur Wilayah III Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Abdul Qodir mengungkapkan, nilai investasi KEK Bitung yang sudah ditetapkan lebih dari satu dekade belum sesuai harapan.
"Sejak beroperasi hingga kini, total nilai investasinya baru Rp 6,5 triliun," kata Qodir saat membawakan arah kebijakan investasi dan hilirisasi dalam North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026 di Manado, Jumat (7/8/2026).
Sebagai pembanding Qodir bilang, KEK Batam memberi kontribusi nilai investasi rata-rata Rp 15 triliun per tahun.
"KEK Batam pada semester satu 2026 nilai investasinya 6,1 triliun. Hampir setiap bulan ada investor baru, ada ground breaking," katanya.
Di hadapan Wagub Sulawesi Utara, Victor Mailangkay dan jajaran Kepala OPD dan pelaku usaha, ia mengungkapkan, kunci proyek investasi sukses adalah pemerintah mengawal.
"Semua dikawal, difasilitasi, perizinan, bangunan dan termasuk keamanannya. Dipastikan juga, investor memastikan kemitraan pelatihan vokasi bagi warga sekitar," katanya lagi.
Terkait itu, Abdul Qodir menyanyangkan adanya konflik di KEK Bitung yang melibatkan PT Futai dengan warga belum lama ini.
"Status KEK lebih dari kawasan industri. KEK itu harus clear. Barang masuk dan keluar tidak sembarang," jelasnya.
Karena itu, ia minta Pemprov Sulawesi Utara memberi perhatian terkait konflik di KEK Bitung.
Baca juga: Gempa Baru Saja Guncang di Sulawesi Utara Siang Ini Jumat 7 Agustus 2026, Berikut Info BMKG
"Jangan sampai jadi instrumen buruk bagi iklim investasi di daerah," katanya.
Menurutnya, penyelesaian sengkarut KEK Bitung harus menjadi perhatian semua stakeholder.
"Kita melihat, investasi di KEK itu selalu menjadi pendorong ekonomi. Kalau KEK jalan, akan diikuti investais seperti hotel, sektor perdagangan, bahkan mal, dan lain-lain," katanya lagi.(*)