TRIBUNJOGJA.COM - Ada satu jembatan bersejarah asal London yang sekarang justru berdiri kokoh di tengah gurun Arizona, ribuan kilometer jauhnya dari Sungai Thames.
Kisahnya bermula dari keputusan bisnis yang terdengar gila di zamannya, membeli jembatan tua seharga jutaan dolar, membongkarnya batu demi batu, lalu mengangkutnya dengan kapal menyeberangi samudra.
London Bridge yang dimaksud adalah jembatan rancangan John Rennie yang selesai dibangun pada 1831 di atas Sungai Thames.
Seiring berjalannya waktu, jembatan ini mulai kewalahan menampung beban lalu lintas kendaraan bermotor modern.
Kondisinya makin memprihatinkan pada era 1960-an, ketika struktur jembatan diketahui terus tenggelam sekitar satu inci setiap delapan tahun, dengan salah satu ujungnya bahkan sudah beberapa inci lebih pendek dibanding ujung lainnya.
Pihak Kota London akhirnya memutuskan membangun jembatan baru dan melelang bangunan lama ini daripada membongkarnya begitu saja.
Di sisi lain dunia, pengusaha asal Amerika Serikat bernama Robert P. McCulloch sedang membangun kota baru bernama Lake Havasu City di tepi danau buatan di Arizona sejak 1963.
McCulloch dikenal sukses di bisnis gergaji mesin, tapi ia butuh sesuatu yang bisa menarik perhatian orang untuk pindah dan berkunjung ke kota barunya yang masih berupa lahan gersang.
Ketika mengetahui London Bridge akan dilelang, McCulloch bersama rekan bisnisnya, C.V. Wood, melihat ini sebagai kesempatan emas.
Setelah proses negosiasi yang menurut McCulloch sendiri butuh "banyak sekali wiski Scotch" untuk mencairkan suasana dengan pihak otoritas London, McCulloch akhirnya memenangkan lelang pada April 1968 dengan harga 2.460.000 dolar AS.
Setelah pembelian resmi, proses paling menantang baru dimulai.
Setiap satu dari 10.276 blok granit yang menyusun bagian luar jembatan diberi tanda khusus yang menunjukkan posisi lengkungan, baris, dan urutannya masing-masing.
Setelah dibongkar dan diberi nomor, seluruh bongkahan batu itu dikemas dan dikirim lewat kapal melintasi Terusan Panama menuju Long Beach, California.
Dari sana, barulah rangkaian truk mengangkut material tersebut menyeberangi gurun menuju lokasi barunya di Lake Havasu City.
Baca juga: Mengenal Suriname, Negara di Benua Amerika yang Masih Menggunakan Bahasa Jawa
Perlu dicatat, yang benar-benar dipindahkan dari London bukan seluruh struktur jembatan, melainkan hanya lapisan granit bagian luarnya saja.
Di Arizona, para pekerja membangun struktur inti baru dari beton bertulang, kemudian melapisinya dengan sekitar 10.000 ton material granit asli abad ke-19 tersebut.
Jembatan baru ini akhirnya rampung dan diresmikan pada 10 Oktober 1971, ditandai dengan perayaan meriah lengkap dengan pawai, kembang api, balon udara, hingga aksi terjun payung yang disaksikan sekitar 25.000 orang.
Ada cerita populer yang beredar luas, bahwa McCulloch sebenarnya salah beli dan mengira dirinya sedang membeli Tower Bridge, jembatan London yang jauh lebih ikonik dengan menara kembarnya.
Namun cerita ini berulang kali dibantah tegas oleh McCulloch sendiri maupun Ivan Luckin, anggota dewan kota yang mengatur penjualan tersebut.
Cucu McCulloch, Michael McCulloch, bahkan secara terbuka mengonfirmasi bahwa kakeknya tahu betul apa yang ia beli.
Menurutnya, sang kakek sengaja tidak pernah repot-repot meluruskan mitos itu karena cerita tersebut justru terus mendatangkan publisitas gratis dan menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Lake Havasu.
Strategi McCulloch ternyata berhasil.
Lake Havasu City yang dulunya cuma lahan gersang kini berkembang menjadi destinasi wisata yang menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.
McCulloch bahkan sempat menyediakan penerbangan gratis menuju kotanya untuk menarik calon pembeli properti, yang tercatat mencapai ribuan kali penerbangan dan berhasil mendatangkan puluhan ribu calon pembeli.
Jadi sampai sekarang, jembatan yang dulunya membentang di atas Sungai Thames itu masih berdiri tegak.
Bukan di London, tapi di tengah gurun Arizona, menjadi bukti nyata bagaimana sebuah keputusan bisnis yang awalnya dianggap gila justru berubah jadi salah satu strategi pemasaran kota paling sukses dalam sejarah.
(MG Farhatiy Rijal)