TRIBUNNEWS.COM – Dukungan terhadap Gianni Infantino untuk tetap menjabat sebagai Presiden FIFA terus bertambah di tengah gelombang kritik yang menerpanya.
Setelah Indonesia, kini Argentina juga menyatakan dukungannya agar Infantino kembali memimpin FIFA pada periode berikutnya.
Infantino tengah berada dalam tekanan besar setelah rencana penjualan saham minoritas hak komersial Piala Dunia kepada kelompok investasi swasta yang dipimpin Joshua Kushner menuai penolakan luas dari berbagai konfederasi sepak bola.
Usulan tersebut akhirnya gagal setelah UEFA, CONCACAF, dan AFC tidak memberikan dukungan, sehingga FIFA tidak memperoleh mayoritas suara yang dibutuhkan.
Sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Wales, Serbia, Swedia, dan Finlandia telah menyatakan tidak akan mendukung pencalonannya kembali sebagai Presiden FIFA.
Meski demikian, Infantino masih memiliki sejumlah sekutu kuat di berbagai kawasan dunia.
Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), yang menaungi 54 asosiasi anggota, secara bulat menyatakan dukungannya kepada pria asal Swiss tersebut.
"Kami berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan FIFA, asosiasi anggotanya, konfederasi sepak bola lainnya, dan para pemangku kepentingan untuk menjaga dan mematuhi tata kelola, proses yang semestinya, dan transparansi," ujar Presiden CAF Patrice Motsepe, dikutip dari Sportbible.
Sebelumnya, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Infantino.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai hubungan erat antara FIFA dan Indonesia menjadi alasan utama di balik dukungan tersebut.
Menurut Erick, berbagai kerja sama yang telah terjalin, mulai dari transformasi sepak bola nasional hingga penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah sejumlah agenda FIFA, menjadi bukti kepercayaan organisasi sepak bola dunia itu terhadap Indonesia.
"Dengan kolaborasi yang kuat dan kepercayaan yang telah dibangun selama ini, kami di PSSI menyatakan dukungan kepada Gianni Infantino untuk kembali memimpin FIFA pada periode berikutnya."
"Saya percaya FIFA akan terus menjadi organisasi yang melayani seluruh Member Associations, memperkuat solidaritas, dan mendorong perkembangan sepak bola agar memberikan dampak positif bagi masyarakat di seluruh dunia," tulis Erick Thohir melalui akun Instagram pribadinya.
Baca juga: FA Resmi Cabut Dukungan kepada Infantino, Kursi Presiden FIFA Makin Panas
PSSI juga menegaskan sikap serupa melalui akun media sosial resminya.
"PSSI menegaskan kembali dukungan berkelanjutannya kepada Presiden FIFA Gianni Infantino serta komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan FIFA dan seluruh Asosiasi Anggota demi memajukan perkembangan sepak bola di Indonesia maupun di seluruh dunia."
Selain Indonesia dan Argentina, beberapa negara lain yang masih memberikan dukungan kepada Infantino antara lain Qatar, Uni Emirat Arab, Bhutan, Sri Lanka, Lebanon, dan Kuwait.
Dengan tambahan dukungan dari Argentina serta seluruh anggota CAF, posisi Infantino mendapat suntikan kekuatan menjelang Kongres FIFA ke-77 yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Cara Presiden FIFA Dipilih
Presiden FIFA dipilih melalui pemungutan suara rahasia yang melibatkan seluruh 211 asosiasi anggota FIFA.
Dalam pemilihan yang diikuti dua kandidat, seorang calon harus memperoleh mayoritas sederhana atau sedikitnya 106 suara untuk dinyatakan menang.
Sebelum kontroversi penjualan aset Piala Dunia mencuat, lebih dari 200 asosiasi anggota disebut telah menyatakan dukungan kepada Infantino untuk kembali mencalonkan diri pada pemilihan tahun depan.
Namun, setelah gelombang kritik bermunculan, posisi Infantino kini dinilai jauh lebih rentan dibanding sebelumnya.
Tiga Cara Lengserkan Infantino
Berdasarkan Statuta FIFA, terdapat beberapa mekanisme yang dapat mengakhiri masa jabatan seorang presiden.
Pertama, sebanyak 20 persen anggota FIFA atau minimal 43 asosiasi dapat mengajukan Kongres Luar Biasa untuk menggelar pemungutan suara mengenai pemberhentian presiden.
Kedua, Komite Etik FIFA dapat melakukan penyelidikan apabila terdapat dugaan pelanggaran kode etik. Jika terbukti bersalah, presiden dapat dijatuhi sanksi hingga larangan beraktivitas di dunia sepak bola.
Ketiga, Infantino dapat kehilangan jabatannya apabila kalah dalam pemilihan Presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Sejumlah nama mulai disebut sebagai calon penantang, di antaranya Presiden CONCACAF Victor Montagliani, Presiden Paris Saint-Germain Nasser Al-Khelaifi, hingga Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom.
(Tribunnews.com/Ali)