Guru Besar ITS Kembangkan Sistem Kendaraan Otonom untuk Pengawasan Maritim Indonesia
Titis Jati Permata August 07, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan teknologi yang mampu menjawab tantangan pengawasan wilayah, konektivitas antarpulau, hingga mitigasi bencana. 

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Guru Besar ke-256 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Ir Ari Santoso DEA, mengembangkan sistem kendaraan otonom yang mengintegrasikan operasi bawah laut, permukaan laut, dan udara.

Inovasi tersebut dirancang untuk mendukung pengawasan wilayah maritim sekaligus meningkatkan efisiensi berbagai aktivitas di kawasan perairan Indonesia.

Integrasikan Teknologi Laut hingga Udara

Prof Ari menjelaskan, karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan besar, mulai dari keselamatan pelayaran, komunikasi antarpulau, distribusi logistik, inspeksi infrastruktur bawah laut, hingga pemantauan sumber daya kelautan.

Baca juga: Teknologi Bantu Tunawicara Pimpin Salat Lebih Mandiri, Mahasiswa ITS Bikin Inovasi Gema Imam

Untuk menjawab tantangan itu, ia mengembangkan tiga platform kendaraan otonom, yakni autonomous underwater vehicle (AUV), unmanned surface vehicle (USV), dan unmanned aerial vehicle (UAV).

Menurutnya, ketiga sistem tersebut dibangun melalui kolaborasi berbagai disiplin ilmu.

"Semuanya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan," ujar Ari.

Dibekali Kecerdasan Buatan

Ari menjelaskan seluruh kendaraan bekerja menggunakan konsep closed-loop system yang memungkinkan sistem mengambil keputusan secara mandiri berdasarkan kondisi di lapangan.

Sistem tersebut terdiri atas enam komponen utama, yakni measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment.

"Setiap komponen memiliki fungsi berbeda. Measurement membaca data sensor, perception mengenali kondisi lingkungan, guidance menentukan arah dan lintasan, sedangkan control menjaga kestabilan sistem," jelasnya.

Sementara actuator bertugas menjalankan perintah fisik kendaraan, sedangkan environment menjadi faktor eksternal yang harus terus diantisipasi agar sistem tetap bekerja secara aman dan optimal.

Dukung Pengawasan hingga Mitigasi Bencana

Dalam penerapannya, AUV dirancang untuk menjalankan inspeksi bawah laut, seperti memeriksa kabel listrik, pipa bawah laut, hingga kondisi terumbu karang.

USV berfungsi sebagai wahana tanpa awak di permukaan laut untuk mendukung komunikasi dan pengamatan wilayah perairan. 

Sementara UAV dimanfaatkan memperluas jangkauan pemantauan dari udara sehingga seluruh sistem dapat bekerja secara terpadu.

Menurut Ari, pengembangan teknologi otonom ini tidak hanya penting bagi aspek keamanan wilayah, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya dan pembangunan nasional.

"Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan," tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.