TRIBUNNEWS.COM - Penemuan 995 senjata api dan amunisi di sekolah swasta Kebayoran Lama, Jaksel, masih misterius.
Ratusan senjata ditemukan di ruangan eks Ketua Yayasan berinisial IWD. Pihak sekolah mengaku tidak mengetahui asal-usul senjata tersebut dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat berwenang.
Hal itu disampaikan pihak kuasa hukum sekolah, Hermawanto. Dia mengaku tidak mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas kepemilikan senjata tersebut.
"Kami itu pihak pengurus baru tidak mengetahui sama sekali keberadaan senjata itu sampai kami menemukannya. Bagaimana caranya masuk, siapa yang bertanggung jawab, kami juga tidak tahu," kata Hermawanto, Jumat (7/8/2026).
Menurut Hermawanto, ruangan yang menjadi lokasi penemuan ratusan senjata tersebut sebelumnya dikelola oleh pengurus lama yayasan.
"Karena yang mengelola itu dahulu adalah pengurus lama yang sudah kami berhentikan, sudah kami pecat. Dan sekarang pengurus baru, makanya kami tidak tahu apa-apa," tutur dia.
Ia menjelaskan, pengurus baru baru mengetahui keberadaan senjata itu ketika hendak melakukan penataan aset sekolah. Namun akses ke ruangan tersebut tidak mudah karena kuncinya diduga dibawa oleh pihak pengurus lama.
"Akses terhadap ruangan pun, kunci dibawa oleh mereka semua. Dan sekarang karena ada beberapa yang ter-police line, maka itu kewenangan kepolisian untuk membukanya," ujar Hermawanto.
Baca juga: Temuan 995 Senjata Api di Sekolah Jaksel, Pihak Yayasan Bantah Ada Ekskul Menembak
Hermawanto mengungkapkan, eks Ketua Pengurus Yayasan berinisial IWD telah diberhentikan sejak 18 April 2026, sekitar tiga bulan sebelum penemuan gudang senjata tersebut.
Menurut dia, pemberhentian dilakukan karena adanya dugaan penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi.
"Jadi alasan dipecat itu adalah karena ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi," kata Hermawanto, Jumat (7/8/2026).
Ia menambahkan, IWD diduga menggunakan uang yayasan untuk membeli aset berupa tanah yang kemudian didaftarkan atas nama istrinya.
"Jadi yayasan uangnya diambil kemudian dibeli untuk membeli tanah, ternyata tanah itu bergeser atas nama istrinya," ungkap dia.
Setelah diberhentikan, IWD dan istrinya diduga masih membawa sejumlah kunci ruangan yang sebelumnya mereka gunakan.
Staf Ahli Ketua Pembina Yayasan, Untung Sangaji, menjelaskan bahwa penemuan pertama terjadi pada Jumat (10/7/2026) saat pihak sekolah hendak membuka ruangan untuk kebutuhan kegiatan belajar mengajar.
"Namun tiba-tiba ketika kita membuka (ruangan) untuk kepentingan sekolah ini, kita temukan peralatan yang disebut senjata. Air gun yang bisa membunuh karena larasnya itu polos tidak ada alur," jelas Untung saat ditemui di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Ia menyebutkan, selain air gun, ditemukan pula satu pucuk shotgun kaliber 12/70.
"Jumlah senjata genggam itu 995. Lalu shotgun-nya satu, kaliber 12/70," jelasnya.
Pada Rabu (5/8/2026), pihak sekolah kembali membuka ruangan lain dengan pendampingan kepolisian. Dalam penggeledahan tersebut ditemukan sejumlah laras senjata api dan perlengkapan lainnya.
"Tadi malam saya ingin juga menggunakan dua ruangan untuk kepentingan guru. Kita konfirmasi dengan Kasat, saya memohon agar saya minta didampingi," kata Untung.
"Lalu setelah kita membuka dan menggeledah untuk kita rapikan, eh ada laras senjata api kaliber 5.56 (mm). Kemudian ada senjata genggam kaliber 40 dan 9 mili," sambungnya.
Selain itu, ditemukan magazine Glock berkapasitas 30 peluru, senjata jenis Walther, senjata kaliber 22, magazine untuk senjata jenis M4, hingga alat pembuat peluru yang diduga ilegal.
"Dan alat pembuat peluru yang sangat dilarang. Alat pembuat peluru, kok bisa ada di lingkungan sekolah ini? Kenapa di sekolah yang sangat kita hormati ini ada orang yang diam-diam melakukan kegiatannya di situ?" tutur Untung.
Baca juga: Temuan 995 Senjata dan Amunisi di Sekolah Jaksel Diklaim Legal untuk Kegiatan Ekskul Menembak
Tidak hanya senjata, pihak sekolah dan polisi juga menemukan narkotika jenis sabu dan ganja serta sekitar 25 kaset VCD porno di ruangan lain.
"Ada narkoba kita temukan. Ada di situ dengan VCD kurang lebihnya 25 kaset yang berbeda. Ini kok ada di situ? Lalu kemudian saya laporan, tambah tim (polisi) datang untuk mereka lihat," tambahnya.
Pihak sekolah kemudian meminta bantuan Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak (Wasendak) Polda Metro Jaya untuk memastikan jenis senjata yang ditemukan berdasarkan kondisi larasnya.
"Coba disenter (Wasendak, senjata) apa itu? Ada alur lengkap. Nah ini senjata tajam. Dan produksi senjata tajam di situ (ruangan) tidak boleh. Pindad bisa marah. TNI sama Polri bisa ngamuk ini kalau ada begini," imbuhnya.
Hermawanto mengatakan hingga kini masih terdapat beberapa ruangan lain yang belum berhasil dibuka, termasuk sebuah ruangan berbentuk bunker yang diduga dibuat oleh eks ketua yayasan.
"Kami berharap ruangan itu yang berbentuk seperti bunker, agar segera ditindaklanjuti oleh kepolisian untuk dibuka. Kami berharap tidak ada lagi senjata yang bisa ditemukan di sana," ujar Hermawanto.
Pihak sekolah meminta Polres Metro Jakarta Selatan mengusut tuntas kasus tersebut sekaligus membantu membuka seluruh ruangan yang masih terkunci untuk memastikan tidak ada lagi senjata, amunisi, atau barang terlarang lainnya yang tersimpan di lingkungan sekolah