BUMDes Sawarna Raup Omzet Rp2,4 Miliar, Ini Rahasia Sukses Kelola Wisata di Lebak
Abdul Rosid August 07, 2026 05:02 PM

TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, berhasil membuktikan bahwa tata kelola yang profesional mampu mendorong sektor pariwisata menjadi penggerak ekonomi desa. 

Berkat pembenahan sistem administrasi dan keuangan, BUMDes Sawarna mencatat omzet mencapai Rp2,4 miliar sepanjang 2024.

Keberhasilan tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga mengantarkan BUMDes Sawarna meraih berbagai penghargaan bergengsi di tingkat nasional maupun Provinsi Banten.

Ketua BUMDes Sawarna, Jetri Andarka, mengungkapkan bahwa perubahan besar dimulai sejak 2024 dengan membenahi sistem pengelolaan keuangan yang sebelumnya belum berjalan optimal.

Baca juga: Dinsos Lebak Respons Rumah Reyot Nengsih di Cileles, Siap Dorong Bantuan RST ke Kemensos

Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan adalah menyusun standar operasional prosedur (SOP) serta memastikan seluruh transaksi keuangan terdokumentasi secara lengkap dan transparan.

"Yang paling utama saya benahi itu laporan keuangan. Kami buat SOP, semua transaksi harus tercatat sehingga jelas siapa yang menyetor dan berapa jumlahnya," kata Jetri dikutip dari Kompas.com, Jumat (7/8/2026).

Setiap transaksi kini wajib dilengkapi formulir yang memuat identitas penyetor, nominal uang, tanggal transaksi, hingga tanda tangan sebagai bentuk pertanggungjawaban administrasi.

Selain itu, pembagian tugas antara sekretaris dan bendahara juga diperjelas agar proses pengelolaan keuangan berjalan lebih efektif. 

Seluruh pengeluaran dicatat terlebih dahulu sebelum diproses dalam sistem, kemudian dilakukan audit internal secara rutin setiap akhir bulan.

"Saya juga harus menjaga diri karena perputaran uangnya tidak sedikit. Dengan sistem seperti ini, saya merasa lebih tenang karena semuanya terdokumentasi," ujarnya.

Tak hanya memperkuat administrasi, BUMDes Sawarna juga membagi kewenangan secara jelas dengan Pemerintah Desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan Karang Taruna agar pengelolaan destinasi wisata berlangsung lebih terkoordinasi.

Omzet Rp2,4 Miliar, Sumbang PAD dan PADes

Pembenahan tata kelola tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan kinerja usaha wisata yang dikelola BUMDes Sawarna.

Sepanjang 2024, unit usaha wisata BUMDes Sawarna membukukan omzet sekitar Rp2,4 miliar.

Dari total pendapatan tersebut, sekitar Rp374 juta disetorkan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada Pemerintah Kabupaten Lebak.

Selain itu, sekitar Rp250 juta dialokasikan sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes), sedangkan hampir Rp600 juta digunakan untuk kegiatan sosial, biaya operasional, serta pengembangan kawasan wisata.

Keberhasilan itu menjadi modal BUMDes Sawarna mengikuti ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

"Kami awalnya hanya ingin mengukur standar. Ternyata setelah semua administrasi dan tata kelolanya dinilai, justru berhasil menjadi juara pertama," kata Jetri.

Borong Penghargaan Tingkat Nasional

Kesuksesan BUMDes Sawarna tidak berhenti pada peningkatan pendapatan.

Pada 2024, Jetri Andarka dinobatkan sebagai Ketua BUMDes Terbaik II tingkat nasional.

Prestasi tersebut berlanjut pada 2025. BUMDes Sawarna berhasil meraih predikat BUMDes Terbaik tingkat Provinsi Banten, masuk dalam 10 Besar Desa BRILiaN yang diselenggarakan BRI, serta menerima penghargaan dalam ajang Wonderful Indonesia Tourism Awards.

Rangkaian prestasi tersebut semakin mengukuhkan Desa Sawarna sebagai salah satu contoh pengelolaan desa wisata berbasis tata kelola yang baik di Indonesia.

Pariwisata Sawarna Gerakkan Ekonomi Warga

Jetri menegaskan, tujuan utama pengembangan BUMDes bukan sekadar meningkatkan pendapatan lembaga, melainkan menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Ia memperkirakan sekitar 95 persen pelaku usaha pariwisata di Sawarna merupakan warga lokal, mulai dari pemilik homestay, pedagang, pemandu wisata hingga pengemudi ojek wisata.

Saat musim libur Lebaran, jumlah wisatawan yang datang ke Sawarna diperkirakan mencapai sekitar 150.000 orang.

Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar Rp200 ribu per orang, perputaran uang di kawasan wisata Sawarna diperkirakan menembus Rp30 miliar hanya dalam satu musim liburan.

"Tujuan akhirnya bukan hanya BUMDes yang berkembang, tetapi bagaimana masyarakat juga merasakan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata," kata Jetri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.