Kisah Hafiz 30 Juz Rozan, Raih TUD UBB Berkat Disiplin dan Doa Orang Tua
Asmadi Pandapotan Siregar August 07, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Keberhasilan Ahmad Rozan Zain Tasri (19) menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui jalur Talenta Unggul Daerah (TUD) tidak diraih dalam waktu singkat.

Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang hafiz Al-Qur'an 30 juz tentang disiplin, doa orang tua, serta komitmen dalam menjaga keseimbangan antara pendidikan, hafalan, prestasi akademik, dan kehidupan sehari-hari.

Rozan menjadi satu-satunya peserta yang diterima melalui jalur TUD untuk FKIK UBB setelah melewati rangkaian seleksi yang diikuti lebih dari 100 peserta.

Tahapan seleksi tersebut meliputi seleksi dokumen, tes akademik, hingga wawancara.

"Proses seleksinya cukup ketat. Mulai dari seleksi dokumen, tes akademik, hingga wawancara. Alhamdulillah saya menjadi satu-satunya yang diterima," ujar Rozan dalam program Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, Jumat (7/8/2026).

Di balik pencapaiannya, Rozan mengungkapkan tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Menurutnya, kunci utama adalah niat yang lurus, disiplin mengatur waktu, serta dukungan keluarga dan guru.

"Saya berada di titik ini bukan karena saya sendiri. Ada doa orang tua, dukungan guru, dan teman-teman yang selalu menyertai perjalanan saya," katanya.

Didikan Sejak Kecil

Rozan mengaku kebiasaan menghafal Al-Qur'an sudah dibangun sejak usia dini. Orang tuanya membiasakan dirinya belajar mengaji melalui guru ngaji dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA).

"Sejak kecil saya sudah didatangkan guru ngaji dan dibiasakan belajar Al-Qur'an. Ketika dewasa saya tinggal melanjutkan kebiasaan yang sudah dibangun sejak kecil," ujarnya.

Baca juga: Hafiz 30 Juz Raih TUD UBB, Rozan Ingin Jadi Dokter dan Mengabdi di Babel

Motivasi terbesarnya untuk menuntaskan hafalan 30 juz datang dari kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang pernah mengungkapkan harapan agar salah satu anaknya menjadi hafiz Al-Qur'an.

"Saat kelas 11 SMA, ayah datang menjenguk dan menyampaikan keinginannya melihat salah satu anaknya menjadi hafiz. Itu menjadi motivasi terbesar saya. Sementara ibu selalu memberi semangat ketika saya mulai jenuh menghafal," tutur Rozan.

Disiplin Mengatur Waktu

Meski aktif menghafal Al-Qur'an, Rozan tetap mampu mempertahankan prestasi akademik. Menurutnya, rahasia menjaga keduanya adalah disiplin membuat jadwal dan menentukan skala prioritas.

"Saya terbiasa membuat jadwal dan menentukan mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Sejatinya waktu itu tidak kurang, tetapi kita yang kurang memanfaatkannya," katanya.

Saat menghadapi kesulitan menghafal, Rozan memilih kembali meluruskan niat serta meminta doa kepada orang tua dan guru.

"Kalau berada di fase sulit, saya memperbaiki niat dan meminta doa kepada guru serta orang tua. Doa mereka sangat berarti," ujarnya.

Kembali Mengabdi ke Bangka Belitung

Setelah menempuh pendidikan di SD Negeri 10 Sungailiat, SMP Darunnajah Jakarta Selatan, dan SMA IT Darul Quran Mulia, Rozan memilih pulang ke Bangka Belitung untuk melanjutkan kuliah.

Keputusan tersebut didorong keinginannya mengabdikan ilmu yang diperoleh selama belajar di luar daerah kepada masyarakat Bangka Belitung.

"Saya ingin mengabdikan ilmu yang saya pelajari dari berbagai daerah di Indonesia untuk masyarakat Bangka Belitung. Karena itu saya memilih kembali dan melanjutkan pendidikan di UBB," katanya.

Menurut Rozan, program Talenta Unggul Daerah menjadi kesempatan besar baginya untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Al-Qur'an jadi Pedoman Menjadi Dokter

Bagi Rozan, ilmu kedokteran tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur'an. Salah satu ayat yang menjadi pegangan hidupnya adalah Surah Al-Ma'idah ayat 32 tentang pentingnya menjaga kehidupan manusia.

"Ayat itu menguatkan niat saya menjadi dokter. Saya ingin menjadi tenaga kesehatan yang bukan hanya kompeten, tetapi juga memiliki simpati dan empati kepada pasien," ujarnya.

Ia menilai seorang tenaga kesehatan harus mampu mengedepankan nilai kemanusiaan dalam memberikan pelayanan.

"Sebagai calon tenaga medis, kita harus lebih bersimpati kepada orang lain karena kita tidak pernah tahu musibah yang sedang mereka hadapi," katanya.

Aktif Mencari Peluang

Rozan juga berpesan kepada generasi muda agar tidak hanya menunggu kesempatan datang, tetapi aktif mencari informasi mengenai berbagai peluang pendidikan maupun beasiswa.

"Informasi sekarang sangat terbuka. Kalau kita yang membutuhkan, maka kita yang harus mencari. Lewat media sosial, brosur, atau sumber lainnya. Kalau mau berusaha, pasti ada jalannya," ujarnya.

Ke depan, Rozan berharap dapat menjadi dokter yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, amanah, serta mampu mengabdikan diri bagi masyarakat Bangka Belitung.

"Saya ingin dikenal sebagai dokter yang memiliki kompetensi, akhlak yang baik, simpati, empati, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Bangka Belitung. Itu menjadi pencapaian terbesar dalam hidup saya," katanya. (Bangkapos.com/ FitriWahyuini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.