Hafiz 30 Juz Raih TUD UBB, Rozan Ingin Jadi Dokter dan Mengabdi di Babel
Asmadi Pandapotan Siregar August 07, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Cita-cita menjadi seorang dokter membawa Ahmad Rozan Zain Tasri menempuh perjalanan pendidikan di sejumlah daerah. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan menengah, pemuda kelahiran Pangkalpinang itu memilih kembali ke tanah kelahirannya, Bangka Belitung.

Bukan sekadar pulang, Rozan membawa tekad untuk mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada masyarakat di daerah asalnya.

Kini, langkah tersebut semakin dekat dengan cita-citanya setelah Rozan diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bangka Belitung (UBB), Program Studi Kedokteran, melalui jalur Talenta Unggul Daerah (TUD) tahun ajaran 2026.

Rozan menjadi satu-satunya peserta yang diterima melalui jalur TUD untuk masuk FKIK UBB.

Seperti apa sosok Rozan dan bagaimana perjalannya dalam meraih cita-cita hingga mendapatkan beasiswa lewat TUD UBB? Selengkapnya di Dialog Ruang Tengah, Jumat, (7/8/2026).

Q: "Rozan, bagaimana perasaannya menyandang status baru sebagai mahasiswa, bukan lagi siswa?"

A: "Tentu pertama-tama saya bersyukur karena telah diberikan kesempatan berharga seperti ini dan juga tentu rasa bangga karena dapat melanjutkan studi saya sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Program Studi Kedokteran pada tahun ajaran 2026 ."

Q: "Bisa diceritakan awal bagaimana bisa diterima sebagai satu-satunya dari talenta unggul daerah yang diselenggarakan oleh UBB sebagai mahasiswa FKIK? Apakah persaingannya cukup ketat?"

A: "Kalau boleh saya izinkan menjelaskan background pendidikan saya dulu terlebih dahulu. Jadi saya lahir di Pangkalpinang, sekolah di SD Negeri 10 Sungailiat dan melanjutkan pendidikan saya di SMP Darunnajah Jakarta Selatan, dan terakhir saya mengemban pendidikan di SMA IT Darul Quran Mulia. Dan setelah saya selesai di SMA IT Darul Quran Mulia, saya memutuskan untuk kembali ke daerah asal saya karena saya memiliki keinginan untuk mengabdi, mengabdikan ilmu saya yang telah saya emban dari berbagai daerah di seluruh Indonesia ke kepada masyarakat Bangka Belitung. Dan salah satunya saya ketika sedang melihat media sosial, saya melihat informasi tentang seleksi Talenta Unggul Daerah ini dan alhamdulillah saya berjodoh dan diterima masuk."

Q: Proses seleksi bagaimana?

A: Proses seleksinya ya dibilang bisa cukup ketat karena banyak sekali ada tiga tahapan, mulai dari proses seleksi tahapan dokumen, setelah itu lanjut ke seleksi akademik tes, dan terakhir ada tes sesi wawancara.

Q: Peserta yang mengikuti seleksi ini cukup banyak atau hanya beberapa? Karena kan cuma satu yang diterima?

A: Iya. Jadi sudah disortir dari seleksi dokumen itu ada mungkin sekitar 100-an lebih dan akhirnya terseleksi untuk tes sesi wawancara dan juga tes tulis.

Q: Tes tulisnya, ya. Dan Rozanlah yang menjadi satu-satunya yang diterima lewat jalur talenta unggul daerah UBB tersebut. Bagaimana peran orang tua menjadikan Rozan sebagai hafiz?

A: Menurut saya, saya berada di titik ini bukan karena saya pribadi. Mungkin ini karena dukungan para guru-guru saya, dukungan teman-teman saya, doa orang tua tentunya, dan salah satu motivasi terbesar saya bahkan untuk menamatkan Quran ini, itu adalah orang tua saya. Kalau boleh cerita sedikit, Mbak, jadi ketika itu saya sedang duduk di bangku kelas 11 SMA, orang tua saya datang untuk menjenguk saya dan beliau bercerita, terutama ayah saya, beliau bercerita bahwasanya ia ingin melihat salah satu dari tiga orang anaknya untuk menjadi seorang hafiz Quran, dan pada saat itu beliau menyampaikan dengan perasaan yang benar-benar tulus dan mata yang berbinar berbeda dengan ayah saya yang saya kenal biasanya. Dan juga tidak luput dukungan dari ibu saya yang selalu memotivasi saya terutama ketika saya berada di fase-fase jenuh dalam menghafal atau stuck dalam juz tertentu, ibu saya menyemangati saya karena kalau untuk curhat ke ayah sepertinya ada rasa gengsi, begitu.

Q: Berarti Rozannya lebih dekat ke ibu atau ke ayah?

A: Dua-duanya alhamdulillah. Dan mereka berperan sangat penting untuk kesuksesan Rozan saat ini. Menurut saya kedua orang tua, terutama ayah dan ibu, harus memiliki sinergitas yang sama, jadi saya mendapatkan hal tersebut. Alhamdulillah.

Q: Untuk menjadi seorang hafiz Quran ini kan tidak mudah. Rozan belajarnya dari kecil atau saat telah SMA ini?

A: Alhamdulillah saya diberikan fasilitas orang tua saya, jadi semenjak kecil saya sudah didatangkan guru ngaji, saya datang ke TPA, saya datang ke guru ngaji, jadi semenjak kecil saya sudah dibiasakan untuk hal-hal tersebut, jadi ketika dewasa saya tinggal melanjutkan apa yang saya bangun dari kecil, begitu.

Q: Saat menghadapi kesulitan dalam menghafal, apa yang Rozan lakukan? Mungkin banyak nih adik-adik di luar sana atau orang tua yang ingin mengetahui, bagaimana sih tips dan triknya untuk bisa menjadi seorang hafiz Quran?

A: Pertama, kalau ketika saya berada di fase yang sulit, saya kembali memperbaiki niat saya dan terus meminta doa kepada guru, kepada orang tua, karena sejatinya doa-doa merekalah yang lebih penting daripada kita sendiri.

Q: Bagaimana membagi waktu antara belajar? Rozan ini kan seorang siswa berprestasi saat masih SMA. Bagaimana cara Rozan membagi waktu antara belajar dan tetap menjaga hafalan Al-Quran?

A: Jadi ketika saya SMA, itu saya sering membuat seperti jadwal dan menentukan segala prioritas, mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, mana yang harus dilakukan nanti, yang harus dilakukan sekarang. Jadi saya terbiasa untuk disiplin dengan waktu, karena sejatinya waktu itu tidak kurang, tapi kita yang kurang memanfaatkan waktu tersebut.

Q: Sangat dalam sekali ya. Tidak ada waktu yang kurang, tapi kita yang kurang dalam memanfaatkan waktu. Sekarang balik ke pertanyaan TUD-nya. Mengapa memilih FKIK UBB, sedangkan Rozan ini kan sudah keliling nih, dari SMP-nya di Jakarta, SMA-nya di Bogor, kenapa kembali lagi ke Bangka Belitung?

A: Kembali lagi tadi, Mbak, yang seperti yang sudah saya katakan di awal, karena saya ingin mengabdikan ilmu saya yang telah saya emban dari berbagai penjuru daerah di Indonesia itu ke masyarakat Bangka Belitung, ke provinsi Bangka Belitung ini.

Q: Harapannya apa sih dengan pendidikan di kampus tersebut?

A: Saya harap karena saya melihat Universitas Bangka Belitung ini selalu berkomitmen untuk mencapai yang terbaik dan mencetak generasi-generasi yang berprestasi, yang bertalenta, dan berakhlak yang mulia, maka dari itu saya memilih Universitas Bangka Belitung ini sebagai awal dari karier saya.

Q: Seberapa besar arti talenta unggul daerah yang diselenggarakan UBB? Apakah kalau tidak ada TUD ini proses perjalanan Rozan dalam meraih cita-cita menjadi seorang dokter akan berbeda?"

A: Tentunya alhamdulillah telah diberikan kesempatan ini oleh Universitas Bangka Belitung, dan menurut saya program talenta unggul daerah ini sangat besar bagi saya, karena dengan ini saya dapat menyalurkan prestasi saya ke Bangka Belitung, dan menurut saya apapun yang dijalani harus tetap dengan semangat yang sama jadi tidak ada perbedaan bagaimanapun itu.

Q: Banyak masyarakat atau anak-anak yang berprestasi, namun mereka kurang informasi tentang adanya kesempatan seperti TUD ini. Menurut Rozan, bagaimana hal tersebut? Apakah mereka harus aktif atau menunggu informasi datang sendiri?

A: Menurut saya, karena sebenarnya zaman sekarang kan sudah luas ya, seharusnya kita yang butuh, harusnya kita yang mencari, jadi kita harus lebih semangat dalam mencari informasi, karena sejatinya informasi itu sangat terbuka luas, mulai dari media sosial, terus flyer juga ada, brosur-brosur juga ada, pokoknya kalau mau pasti dapat, begitu. Harus berusaha buat mencari. Karena kalau kita nunggunya rezeki ya enggak bakal datang.

Q: Rozan punya pemikiran yang sangat dewasa sekali. Latar belakang apa yang menjadikan Rozan itu mungkin sedikit berbeda dengan anak-anak yang lainnya?

A: Mungkin didikan kedua orang tua saya yang bisa membuat saya seperti saat ini, dan mungkin atas karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala yang pastinya, bukan karena saya sendiri.

Q: Minggu besok senin sudah PKKMB ya? Satu minggu kemudian baru masuk perkuliahan. Ada kekhawatiran enggak nanti bagaimana menjaga hafalan Qurannya dan membagi aktivitas menjadi seorang mahasiswa? Karena kedokteran pasti akan lebih sibuk lagi.

A: Kekhawatiran pasti ada karena saya sewajarnya manusia, namun ya saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk tetap disiplin dalam mengatur waktu dan tetap berprestasi tanpa meninggalkan salah satu aspek yang saya punya.

Q: Rozan memandang nilai-nilai Islam dengan ilmu kedokteran yang sementara lagi akan dijalankan, itu seperti apa?

A: Saya memandang nilai-nilai yang ada di Al-Qur'an lebih terutama, karena salah satu pedoman umat Islam terutama itu Al-Qur'an. Jadi, Al-Qur'an itu sangat menjalankan nilai-nilai kehidupan, sesama, kesehatan juga ada, karena Al-Qur'an itu adalah As-Syifa sebagai obat. Dan juga, ada salah satu penggalan ayat dari Surah Al-Ma'idah ayat 32, itu dia berbunyi seperti An-nahu man qotala napsan bi ghoiri napsin au fasadin fil ardhi fa ka'annama qotalan nasa jami'a, wa man ahyaha fa ka'annama ahya nasa jami'a. Ya, kurang lebih artinya, "Barangsiapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang tersebut membunuh orang lain atau berbuat kerusakan di muka bumi, maka dia bagaikan membunuh seluruh kehidupan yang ada di muka bumi. Dan apabila seseorang menjaga satu kehidupan, maka dia bagaikan menjaga seluruh kehidupan di muka bumi." Dan hal tersebut menjadikan salah satu menjadi pedoman saya untuk ada di kedokteran ini.

Host: Bagaimana Rozan melihat fenomena yang saat ini sekarang sedang viral, di mana seorang tenaga kesehatan atau nakes melakukan, mungkin bisa dibilang penghinaan terhadap pasien BPJS yang sekarang berujung meninggal dunia. Mereka mungkin mengalami tekanan mental yang berat karena pekerjaan tadi karena harus menghadapi banyak sekali pasien. Bagaimana Rozan melihat hal tersebut sebagai yang nantinya akan menjadi tenaga kesehatan?

Rozan: Mungkin agak kurang bersimpati, karena sejatinya yang lebih usah adalah orang yang sedang terkena musibah. Jadi, mungkin saya nanti sebagai calon tenaga medis dan harus lebih bersimpati kepada orang lain, karena kita tidak tahu apa yang sedang dialami oleh orang lain tersebut. Jadi, seperti yang ada di nilai-nilai Al-Qur'an, Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan tentang syariat, Al-Qur'an juga mengajarkan kita bagaimana cara kita bersikap terhadap sesama. Jadi, insyaallah saya sebagai orang yang mempelajari hal tersebut dapat mengamalkan nilai-nilai tersebut nanti di kemudian hari.

Q: Tetap dipegang teguh ya, antara nilai-nilai yang pernah diajarkan, yang pernah didapatkan selama pendidikan dan yang ada di Al-Qur'an dengan pendidikan yang akan Rozan jalani ke depannya. Rozan, bagaimana perasaannya menghadapi hari Senin besok? Karena akan menjadi mahasiswa, apa aja yang sudah dipersiapkan?

A: "Jadi, pertama-tama saya pasti merasa excited karena hal ini adalah mungkin yang hal saya yang tunggu-tunggu. Jadi, harusnya ini menjadi momen yang berharga bagi saya. Dan untuk persiapan, mungkin saya sudah mempersiapkan seperti membuat video perkenalan, membawa apa saja yang akan dibawa ketika PKKMB besok.

Q: Cita-cita jadi dokter ini sudah dari kecil?

A: Betul, sudah sejak dari kecil saya sudah memang berkeinginan untuk menjadi dokter, dan hal tersebut diperkuat ketika saya dalam proses menghafal Qur'an tadi dan ayat tadi yang menjadi mengukuhkan niat saya untuk menjadi seorang dokter.

Q: "Saat SMA Rozan pernah mengikuti sebuah kompetisi yang sangat membanggakan, yang pernah diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI), itu bisa diceritakan bagaimana awal prosesnya? Itu tahun 2023, berarti kelas satu?

A: Kelas satu, SMA. Jadi, ketika itu sekolah saya mengadakan seperti pendaftaran bagi yang ingin mengikuti lomba yang ada di Universitas Indonesia, dan diseleksi terlebih dahulu dan alhamdulillah saya menjadi salah satu orang yang terseleksi dari sekolah saya untuk mengikuti lomba di Universitas Indonesia tersebut.

Q: Itu kompetisi Nasional Medical and Regional Biology Competition? Itu tentang apa?

A: Iya, betul. Jadi, itu lebih tentang kedokteran dan biologi.

Q: Dan Rozan sudah sudah memiliki pengetahuan tentang itu?

A: "Betul, alhamdulillah karena memang sejak kecil saya menyukai hal tersebut. Dan ketika SD saya pun pernah sampai ke tingkat Kabupaten Olimpiade Sains Nasional waktu kelas 5 SD. Jadi saya memang sejak kecil sudah memiliki ketertarikan pada hal tersebut, jadi ketika besar ya saya senang-senang saja, gitu.

Q: "Orang tua pernah enggak menggiring Rozan untuk jadi dokter aja atau jadi profesi-profesi yang lain?"

A: "Kalau orang tua, mereka berdua tidak pernah menggiring secara spesifik. Namun, ketika saya ingin sesuatu, mereka selalu mendukung saya. Jadi, tidak ada paksaan dan tidak ada sebuah iringan untuk menjadi sesuatu atau apapun. Namun, ketika saya ingin, mereka berdua alhamdulillah selalu support saya dengan sepenuh hati"

Q: "Keluarga punya background dokter enggak?"

A: "Kalau keluarga untuk sekarang alhamdulillah kakak saya yang nomor dua sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan sedang dalam fase koas.

Q: "Koas? Apakah kakak tersebut juga menjadi inspirasi untuk Rozan?"

A: "Pasti, karena abang-abang saya merupakan role model saya tentunya. Dan saya juga cukup dekat dengan kedua saudara saya, jadi pasti mereka berdua adalah role model saya yang bisa membentuk saya seperti saat ini.

Q: "Jika nanti Rozan sudah menjadi seorang dokter, usaha atau hal apa yang ingin Rozan bantu dalam dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada di daerah Provinsi Bangka Belitung?"

A: "Kalau untuk sekarang mungkin saya harus belajar lebih banyak untuk hal yang harus disebutkan secara spesifik. Namun, apabila nanti saya diberi kesempatan, mungkin saya akan lebih fokus dalam pelayanan kesehatan, dalam promosi-promosi untuk pola hidup sehat. Karena sejatinya tindakan preventif lebih dibutuhkan daripada pengobatan"

Q: "Kalau Rozan melihat lingkungan kita saat ini, bagaimana kesehatannya menurut Rozan?

A: "Mungkin untuk kesehatan yang ada di Bangka Belitung ini kalau kita amati dengan subjektif, terlihat masyarakat Bangka Belitung ini memiliki pola hidup yang sehat dan karena mungkin makanan dasar orang-orang kita itu ikan, jadi ya mungkin protein-protein harian warga kita mungkin tercukupi.

Q: Rozan ini kan masuk Fakultas Kedokteran lewat jalur Talenta Unggul Daerah. Ada tanggung jawab enggak atau beban yang mungkin bisa menjadi Rozan itu untuk "Aku harus tanggung jawab nih karena masuk jalur ini?

A: "Tanggung jawab pasti karena ketika kita dilahirkan di dunia ini pun kita pasti memiliki tanggung jawab. Dan ini merupakan tanggung jawab saya yang baru, dan saya pasti akan terus berkomitmen untuk belajar, terus berprestasi, dan tidak hanya berprestasi, namun memiliki akhlak yang baik.

Q: Kalau seandainya 10 tahun yang akan datang Rozan kembali lagi ke studio Bangka Pos, menjadi seorang dokter, dokter seperti apa yang ingin Rozan tampilkan?

A: Tentunya saya tidak ingin dikenal hanya sebagai dokter yang memiliki kompetensi yang cakap, yang baik. Namun, saya ingin dikenal sebagai dokter yang memiliki amanah, integritas tinggi, dan memiliki simpati dan empati dan tentu tetap rendah hati. Dan untuk masyarakat Bangka Belitung, saya ingin mengabdikan diri kepada masyarakat Bangka Belitung untuk meningkatkan, seperti meningkatkan pelayanan kesehatan di provinsi tercinta kita ini. Dan juga bagi saya, ketika saya telah mengabdikan diri itu merupakan pencapaian terbesar dalam hidup saya.

Q: Ingin sekali ya mengabdikan diri kepada Provinsi Bangka Belitung ini. Secinta apa ke provinsi kita ini?

A: Karena merupakan tanah kelahiran saya sendiri dan memang saya memiliki keinginan untuk mengubah dan membawa kesejahteraan dan manfaat bagi banyak orang. (Bangkapos.com/FitriWahyuni)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.