Nekat Colok Mata Buaya, Kakek Selamat dari Terkaman Predator Sungai Kambara Muna Barat Meski Terluka
Aqsa August 07, 2026 05:47 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Seorang kakek di Kecamatan Tiworo Kepulauan (Tikep), Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra), lolos dari maut.

Korban La Ane (75) selamat dari terkaman buaya di Sungai Kambara, pada Jumat (07/08/2026), meski mengalami luka parah di lutut dan kaki kanan.

Dia berhasil melepaskan diri dengan cara mencolok mata hewan reptil bertubuh besar tersebut.

Peristiwa tersebut dibenarkan Kepala Kepolisian Sektor atau Kapolsek Tikep, Ipda Baharuddin.

Kronologi peristiwa ini berawal ketika korban sedang membersihkan diri di sungai yang berada tepat di belakang rumahnya.

“Dia pergi mandi di sungai. Pada saat mandi, tiba-tiba lututnya digigit buaya,” katanya kepada wartawan TribunnewsSultra.com.

Berdasarkan keterangan kepolisian, buaya tersebut langsung menyeret tubuh korban pada gigitan pertama.

Baca juga: Diserang Buaya saat Panen Ikan, Warga Desa Roraya Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Luka-luka

Korban diseret sejauh sekitar 10 meter ke tengah arus sungai. 

Binatang buas itu bahkan sempat berupaya menenggelamkan korban.

Di tengah situasi hidup dan mati itu, korban tetap mempertahankan kesadarannya. 

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, korban kemudian melancarkan perlawanan darurat.

Dia menggunakan tangannya untuk menusuk mata hewan predator buas tersebut.

Serangan mendadak pada bagian sensitif membuat buaya refleks melepaskan cengkeramannya. 

Korban kemudian memanfaatkan momentum itu untuk berenang kembali ke tepian.

Sambil berteriak meminta pertolongan warga sekitar.

Dari rekaman video yang diterima wartawan TribunnewsSultra.com, korban terlihat duduk di kursi plastik.

Dia mengenakan kemeja batik bernuansa emas-putih dan celana pendek. 

Tampak luka terbuka yang cukup parah pada bagian lutut dan kaki kanannya.

Ceceran darah pun menggenang di lantai semen di bawah tempat duduknya.

Seorang warga berkaus dan bertopi hitam tampak siaga mendampingi korban.

Membantu merapikan pakaian lansia tersebut, sementara penanganan awal disiapkan.

Berdasarkan percakapan warga di lokasi kejadian, peristiwa serangan buaya ini ternyata bukan yang pertama kalinya dialami oleh korban. 

Baca juga: Kisah Tragis Wa Gobe di Muna, Mandi di Sungai Berujung Diterkam Buaya, Saat Melawan Langsung Diseret

Sang kakek tercatat telah dua kali selamat dari terkaman spesies anggota famili Crocodylidae itu di perairan yang sama.

Sungai Kambara lokasi korban diserang merupakan salah satu habitat buaya muara (crocodylus porosus) di Kabupaten Mubar.

Sungai ini mengalir membelah daratan karst dari arah timur menuju ke barat sepanjang sekitar 13 kilometer (km).

Sebelum bermuara di pesisir barat Pulau Muna, kawasan Selat Tiworo.

Aliran sungai dan sistem irigasinya melintasi wilayah Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kecamatan Maginti, dan wilayah sekitarnya.

Muna Barat yang disingkat Mubar adalah salah satu daerah otonom baru di Provinsi Sultra.

Kabupaten beribu kota Laworo, wilayah Kecamatan Sawerigadi, ini berdiri pada 23 Juli 2014.

Daerah otonom ini dimekarkan dari Kabupaten Muna.

Kakek La Ane selamat dari terkaman buaya di Muna Barat, Sulawesi Tenggara
BUAYA DI MUBAR - Kakek La Ane (75) korban selamat dari terkaman buaya di Sungai Kambara, Kecamatan Tiworo Kepulauan (Tikep), Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra), dibawa ke rumah sakit (RS) menggunakan ambulans, pada Jumat (07/08/2026). Dia selamat dari gigitan buaya setelah menusuk mata predator tersebut.(handover)

Akses dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra, ke Mubar, bisa ditempuh melalui jalur darat dan kapal feri penyeberangan.

Pelayaran dari Pelabuhan Torobulu di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan.

Jarak pelabuhan ini sekitar 72-73 kilometer (km) atau 1,5-2 jam berkendara dari pusat Kota Kendari.

Kapal feri menuju Pelabuhan Tondasi di Desa Tondasi, Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Mubar.

Dengan melintasi perairan Selat Tiworo sekitar 2,5-3 jam, lama perjalanan tergantung kondisi cuaca di laut.

Selat tersebut memisahkan daratan utama Provinsi Sultra dengan Pulau Muna.(*)

(TribunnewsSultra.com/Sugi Hartono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.