INVESTOR Tumbuh Pesat di Bali, Buleleng Tertinggi Ketiga, BEI Jelaskan Alasan IHSG Terjun Bebas!
Anak Agung Seri Kusniarti August 07, 2026 07:03 PM

TRIBUN-BALI.COM -  Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Bali, I Gusti Agus Andiyasa, menjelaskan adanya penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), belakangan ini memang saling berhubungan dengan terjun bebasnya nilai mata uang Rupiah.

Keduanya memang saling berhubungan dan terkait, sebab ketika salah satu melemah maka kerap memicu pelemahan pada sektor lainnya. "Memang salah satu faktor nilai tukar melemah tidak hanya karena IHSG," ujar pria asli Bali ini, dalam pertemuan dengan media beberapa waktu lalu di Kantor BEI Bali, Denpasar. 

Agus Andiyasa, sapaan akrabnya, menjelaskan ada beberapa faktor internal dan eksternal yang memengaruhi penurunan IHSG. Tentu saja salah satunya, kondisi dunia yang masih dalam ketegangan geopolitik dalam perang Iran vs Amerika dan sekutu. 

"Kami dari BEI terus melakukan reformasi dan transformasi, sehingga nantinya para investor global bisa percaya lagi dan masuk kembali ke pasar, agar IHSG terus melesat naik," tegas pria berkacamata ini. 

Baca juga: JANGAN Hanya Bergantung APBD & APBN, Obligasi Daerah Bisa Jadi Sumber Pemasukan Pemda! Ini Kata OJK

Baca juga: Tanpa Uang Negara, Piala Presiden 2026 Tembus Sponsor Rp100 Miliar, Diaudit Standar Internasional

BURSA EFEK - Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, beberapa hari lalu. IHSG diperkirakan menguat pada perdagangan hari ini, Senin (1/12).
BURSA EFEK - Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, beberapa hari lalu. IHSG diperkirakan menguat pada perdagangan hari ini, Senin (1/12). (Tidak Ada/KONTAN)

Tapi ia optimistis IHSG akan merangkak naik, walau mungkin tidak cepat balik ke 9.000. Namun optimisme ini sudah datang, apalagi jika dilihat hari ini pada 7 Agustus 2026, IHSG sudah mulai hijau. Walaupun YTD masih merah posisinya. 

"Ini indikasi investor sudah percaya dengan pasar kita," katanya. Kebijakan-kebijakan yang pro investor terus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan investor dan kembali masuk ke pasar saham dalam negeri. 

Salah satu contoh kebijakan pro, adalah pengungkapan investor mulai dari 1 persen. Agus Andiyasa juga berharap investor dalam negeri, baik yang baru maupun eksisting bisa memanfaatkan momen terbaik untuk masuk ke pasar saham. Valuasi sudah murah dan memanfaatkan peluang tersebut dengan baik.  

"Kita harapkan antar lembaga keuangan, pasar modal, saling bersinergi membuat kebijakan dan mendorong perekonomian sehingga ekonomi secara keseluruhan tumbuh ke depannnya," imbuhnya. Literasi dan inklusi perlu terus dilakukan dan dikuatkan, apalagi kini investor sudah mencapai 30 juta di seluruh Indonesia. 

BEI pun terus menggencarkan edukasi, khususnya ke sekolah dan kampus agar melek investasi sejak dini. Terbukti demografis investor di Bali terus menunjukkan peningkatan. Per Juni 2026, jumlah investor saham di Bali sebanyak 210.212. Angka ini tumbuh 24.719 investor baru dari tahun sebelumnya atau naik 13,3 persen (ytd). 

Kemudian investor pasar modal di Bali totalnya 425.369, terdiri dari saham, obligasi, reksadana dan turunannya. "Ini tumbuh 65.884 investor baru atau kurang lebih 18,3 persen dari tahun sebelumnya (ytd)," jelasnya. Uniknya lagi, kata dia, investor tertinggi nomor 3 adalah di Buleleng dengan porsi 10,7 persen. Sementara tertinggi pertama masih dipegang Denpasar dengan porsi 34,7 persen. Lalu kedua Badung dengan porsi 19,1 persen. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.