Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS) dahulu bernama Bank Maspion Indonesia akan menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) IV atau rights issue.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (7/8/2026), Bank Kasikorn Indonesia akan melakukan rights issue dengan melepas maksimal 2,87 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Jumlah saham yang dilepas itu maksimal 15,88% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Perseroan akan memakai dana rights issue untuk meningkatkan penyaluran kredi perseroan. Seiring langkah rights issue itu, perseroan berharap dapat memperkuat struktur permodalan perseroan.
Untuk melaksanakan aksi korporasi ini, Bank Kasikorn akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Agustus 2026.
Adapun saham-saham yang akan dikeluarkan oleh perseroan adalah saham atas nama dengan nilai nominal yang sama dengan nilai nominal saham-saham perseroan yang sudah dikeluarkan sebesar Rp 100 per saham.
Saham-saham baru yang akan diterbitkan oleh perseroan merupakan saham pertopel yang akan dicatatkan di BEI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini termasuk peraturan BEI Nomor I-1 tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat, keputusan direksi bursa Nomor Kep-00101/BEI/12-2021 pada 21 Desember 2021.
Pelaksanaan rights issue dapat dilakukan setelah melalui prosedur sebagai berikut merujuk ketentuan POJK 32/2015:
a.Perseroan telah memperoleh persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) mengenai agenda Penambahan Modal Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD)
b.Perseroan telah menyampaikan pernyataan pendaftaran sehubungan dengan kegiatan PMHMETD beserta dengan dokumen pendukungnya kepada OJK.
c. Pernyataan Pendaftaran HMETD Perseroan telah disampaikan dan diterima baik oleh OJK dan telah resmi dinyatakan efektif oleh OJK
Mengutip data RTI, harga saham BMAS naik 3,73% menjadi Rp 500 per saham. Harga saham BMAS dibuka stagnan di Rp 482 per saham. Harga saham BMAS berada di level tertinggi Rp 600 dan terendah Rp 476 per saham. Total frekuensi perdagangan 745 kali dengan volume perdagangan saham 12.231 saham. Nilai transaksi harian Rp 669,2 juta.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan pada penutupan perdagangan saham Jumat, (7/8/2026). Kenaikan IHSG hari ini di tengah mayoritas sektor saham menghijau dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di 17.900.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup menguat 1,04% ke 6.409,65. Indeks saham LQ45 bertambah 1,5% menjadi 640,29. Seluruh indeks saham acuan global menghijau. Jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.409,65 dan level terendah 6.347,42.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, katalis utama kenaikan IHSG berasal dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 sebesar 5,29% YoY, yang melampaui ekspektasi konsensus. Berdasarkan konsensus pasar di kisaran 5,1%.
“Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi domestik masih cukup resilien di tengah perlambatan global,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, kenaikan harga tembaga dan emas memberikan sentimen positif bagi saham-saham pertambangan mengingat bobot sektor komoditas cukup besar di IHSG. “Kenaikan sektor ini (komoditas-red) turut mengangkat indeks. Di sisi lain, stabilisasi bahkan apresiasi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang memberikan sentimen positif bagi kepastian investasi di pasar keuangan domestik,” ujar Nafan.
Sebanyak 355 saham menguat sehingga angkat IHSG. 235 saham melemah dan 203 saham diam di tempat. Total frekuensi 2.208.358 kali dengan volume perdagangan saham 38,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 16,5 triliun. Sementara itu, posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.900.
Dari 11 sektor saham, sektor saham consumer siklikal turun 0,69%. Sementara itu, sektor saham infrastruktur melonjak 2,17%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham basic menanjak 1,63% dan sektor saham teknologi mendaki 1,25%. Selanjutnya, sektor saham energi menguat 1,22%, sektor saham industri bertambah 0,345, sektor saham kesehatan mendaki 0,11%, dan sektor saham keuangan melejit 0,31%. Lalu sektor saham properti melompat 1,16%, sektor saham transportasi menguat 0,37%.