TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kenaikan harga kebutuhan pokok, berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain, lapangan sepak bola yang berganti menjadi bangunan, hingga dinamika politik menjadi potongan cerita yang dirangkai Umar Haen dalam album keduanya bertajuk 'Busa Sabun Masuk ke Mata'.
Album yang resmi dirilis pada Kamis (6/8/2026) itu menjadi cara Umar merekam berbagai kegelisahan yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.
Berisi 10 lagu yang ditulis sepanjang 2021 hingga 2026, album ini lahir di sela kesibukan Umar bekerja di kantor penelitian politik, mengurus kebun, serta menjalani rutinitas yang menurutnya tidak selalu berjalan ramah.
Alih-alih mengangkat satu benang merah tertentu, setiap lagu justru merekam potret yang berbeda, namun tetap berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Judul album diambil dari salah satu lirik pada lagu pembuka.
Rasa perihnya mungkin bukan bencana besar, tetapi cukup mengganggu dan sulit diabaikan begitu saja.
"Saya menulis album kedua ini dengan niat merekam peristiwa dan menjadikannya sebuah kesaksian, bagaimana perasaan saya menjadi WNI hari hari ini,” ujarnya.
Gagasan tersebut kemudian menjelma menjadi berbagai cerita dalam sepuluh lagu.
'Sabun' berbicara tentang bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
'Kardus' mengisahkan orang yang terus berpindah tempat tinggal sambil memendam harapan memiliki rumah sendiri.
Baca juga: Cara Kerja AutoTune, Teknologi di Balik Suara Sempurna di Industri Musik
Sementara 'Ketua Partai' menjadi sindiran terhadap dinasti politik, dan 'Tak Jadi Main Bola' menceritakan lapangan yang berubah menjadi pondasi bangunan.
Lagu 'Baliho', satu satunya yang menggunakan bahasa Jawa, mengangkat kisah robohnya baliho perumahan yang disandingkan dengan kandasnya impian memiliki rumah.
Meski banyak mengangkat realitas sosial, Umar tidak menganggap album ini sebagai karya protes.
Baginya, seluruh lagu berangkat dari hal hal yang ia lihat, rasakan, lalu dituangkan menjadi musik.
"Semua lagu di album ini lahir dari hal hal yang paling dekat dengan kehidupan saya. Dari situlah saya mencoba merekam kenyataan sehari hari menjadi cerita yang bisa didengar bersama,” imbuhnya.
Perjalanan menyelesaikan album ini juga tidak singkat. Prosesnya dimulai sejak 2021 dan baru menemukan bentuk utuh setelah Umar mengikuti residensi Asian Music for Peoples' Peace and Progress atau AMP3 di Filipina pada Juni 2025.
Di sana ia bertemu Jess Santiago, atau yang akrab disapa Koyang.
Dari Koyang, Umar tidak mendapat teori yang rumit. Hanya satu prinsip mulailah dari yang paling dekat, karena di situlah persoalan besar sebenarnya tinggal. Sesudah itu, lagu-lagu yang tadinya menggantung mulai menemukan bentuknya.
Secara musikal, 'Busa Sabun Masuk ke Mata' memadukan warna folk, blues, dan rock.
Album ini digarap bersama Dhandy Satria di Catpaws Lab dengan sentuhan cello dari Setyawan Agung di sejumlah lagu.
Sebelum dirilis, Umar lebih dulu menggelar hearing session dan intimate talks di Buku Akik, Yogyakarta.
Setelah peluncuran album, ia akan melanjutkan rangkaian intimate show di Yogyakarta, Magelang, dan Temanggung sepanjang Agustus hingga September dengan memilih toko buku dan ruang ruang alternatif sebagai lokasi pertunjukan. (*)