Puluhan Tahun Menambang Timah, Ahman Sedih Kini Rasakan Tata Niaga Timah Tak Menguntungkan Rakyat
Hendra August 07, 2026 09:35 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -  Di usianya yang kini genap 59 tahun, Ahman tak pernah membayangkan harus berdiri menyaksikan kekacauan di area operasional PT Timah Tbk di Kecamatan Gantung, Belitung Timur.

Hampir seluruh lembaran hidup pria kelahiran era 1960-an ini terikat erat pada hebatnya bijih timah di Pulau Belitung.

Sejak muda hingga tua, Ahman mengaku tidak pernah melakoni profesi lain selain menjadi seorang penambang.

Rekam jejak hidupnya mencatat, lebih dari empat dekade ia menggantungkan urusan perut dan keluarga dari hasil tambang timah.

"Usia aku sekarang hampir 60 tahun, tidak pernah aku kerja yang lain. Dari nambang inilah, turun-temurun. Nambang timah," ujar Ahman saat ditemui Posbelitung.co di lokasi, Jumat (7/8/2026).

Dari ceritanya, selama puluhan tahun berkecimpung di dunia pertambangan, Ahman selalu berusaha menolak beraktivitas di area terlarang.

Mayoritas perjalanan hidupnya dihabiskan bertambang di bawah Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT Timah Tbk.

"Semua lini aku kerjakan, tapi aku selalu tambang di IUP milik PT Timah," ucapnya.

Ingatan Ahman kemudian melesat ke era 1980-an, masa di mana hubungan kerja sama antara PT Timah dan masyarakat lokal terjalin begitu harmonis.

Saat itu, ia bermitra dengan PT Timah melalui bendera CV yang memfasilitasi hasil kerja keras penambang rakyat.

"Aku bermitra dengan PT Timah dari tahun 80-an lebih, sekitar tahun 1985 atau 1986 gitu. Sudah 40 tahun kurang lebih nambang. Jadi sedikit banyak aku tahu masalah PT Timah," ungkapnya.

Namun kini, Ahman merasa penambang rakyat seperti dirinya makin terpinggirkan.

Hadirnya aturan-aturan baru serta tersendatnya proses kelegalan dokumen pertambangan membuat posisi penambang rakyat makin terpojok dalam ketidakpastian.

Aksi nekat ribuan warga yang berujung pada kerusuhan pun dipandangnya sebagai puncak rasa frustrasi atas buntunya komunikasi antara masyarakat penambang dan pihak perusahaan.

"Aku orang tidak pendidikan terang, karena lahir zaman dulu, bukan zaman digital. Tolong, harapan aku untuk pejabat yang terpilih yang ada di provinsi maupun kabupaten, tolong kami," katanya.

Bagi Ahman, keberadaan PT Timah Tbk di Belitung Timur seharusnya menjadi pengayom ekonomi masyarakat lokal, bukan justru menjadi sumber keresahan sosial.

Ia berharap gelombang protes besar ini dapat menjadi titik balik evaluasi total bagi manajemen PT Timah serta pemerintah.

Lebih lanjut, ia hanya ingin terus bekerja menambang secara tenang tanpa ketakutan akan harga murah maupun penolakan hasil tambang.

"Jangan terlalu banyak berpikir masalah hal-hal negatif terhadap masyarakat Belitung. Masyarakat hanya ingin hidup cukup dari hasil menambang," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.