Kadir Karding Kawal Mutu Komoditas, Ekspor Udang Sulsel Tembus 95.760 ton
Ari Maryadi August 07, 2026 10:22 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Komoditas udang masih menjadi andalan ekspor Sulawesi Selatan di sektor perikanan . 

Tingginya permintaan pasar internasional menjadikan komoditas ini sebagai penyumbang terbesar ekspor perikanan dari provinsi tersebut sepanjang semester pertama 2026.

Berdasarkan data Balai Karantina Sulawesi Selatan periode Januari-Juni 2026, volume ekspor udang mencapai 95.760 ton. 

Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding komoditas perikanan lainnya, yakni tuna 81.982 ton, cumi-cumi 62.015 ton, cakalang 48.044 ton, serta ikan lamuru 20.571 ton.

Di balik tingginya angka ekspor tersebut, terdapat sejumlah perusahaan yang berperan menjaga pasokan sekaligus kualitas produk perikanan Sulsel. 

Salah satunya PT Bogatama Marinusa (Bomar), perusahaan pengolahan hasil perikanan yang berlokasi di Jalan KIMA Raya II, Kelurahan Daya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Perusahaan yang telah beroperasi sejak 2001 itu secara rutin mengekspor produk olahan udang ke berbagai negara. 

Tidak hanya bergerak di sektor pengolahan, Bomar juga mengembangkan usaha secara terintegrasi.

Mulai dari pembenihan benur, budidaya, penyediaan sarana budidaya, hingga pengolahan produk siap konsumsi untuk pasar internasional.

Keberhasilan perusahaan menjaga kualitas produk hingga mampu memenuhi standar ekspor dunia menarik perhatian Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding saat kunjungan kerja ke Makassar, Sulawesi Selatan,Jumat(7/8/2026).

Kunjungan kerjanya didampingi pejabat Balai Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah dan jajaran.

Dalam kunjungan kerjanya ke PT Bomar, ia meninjau langsung proses produksi, mulai dari hatchery hingga fasilitas pengolahan yang menerapkan standar biosekuriti sangat ketat.

Menurutnya, apa yang diterapkan Bomar menunjukkan Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan utama industri udang dunia apabila sistem budidaya dilakukan secara benar dan konsisten.

"Saya mendapatkan gambaran bahwa sebenarnya Indonesia ini bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia kalau udangnya dikelola dengan tepat," ujarnya.

Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga disiplin dalam menjaga setiap tahapan produksi. 

Mulai dari pemilihan induk, proses pembenihan, kualitas air, hingga pengendalian penyakit dilakukan sesuai standar internasional.

"Yang dijaga di sini induknya, benurnya, lingkungannya, airnya, salinitas, pH, oksigen, sampai patogen penyakitnya. Semua dijaga," kata Abdul Kadir 

Salah satu capaian yang paling menyita perhatian adalah tingkat kelangsungan hidup benur (survival rate) yang mencapai lebih dari 95 persen. 

Angka tersebut dinilai sangat tinggi dibanding rata-rata industri budidaya udang.

"Survival rate di atas 95 persen. Saya tadi kaget. Waktu saya kuliah di Perikanan, angka seperti itu hampir tidak ada. Ternyata ini fakta," ujarnya.

Abdul Kadir mengaku sempat merasakan langsung ketatnya prosedur sebelum memasuki area produksi. 

Setiap orang yang masuk wajib melewati sejumlah tahapan pemeriksaan demi mencegah masuknya kontaminasi.

"Saya masuk tadi lama sekali. Periksa lagi, periksa lagi. Tapi memang seperti itu yang benar. Standar seperti ini memang standar ekspor dunia," katanya.

Menurutnya, disiplin terhadap standar operasional menjadi faktor utama yang membuat perusahaan mampu mempertahankan kualitas produksi tanpa bergantung pada penggunaan obat-obatan.

"Di tengah orang sibuk dengan isu kematian udang vaname karena penyakit, di sini tidak ada masalah dan tidak pakai treatment obat-obatan. Ini luar biasa," ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan standar tinggi di tingkat perusahaan juga akan mempermudah tugas Badan Karantina Indonesia dalam memastikan setiap komoditas perikanan yang diperdagangkan antarwilayah maupun antarnegara memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan pangan.

Melihat hasil yang dicapai perusahaan, Abdul Kadir menilai sistem budidaya yang dikembangkan Bomar layak dijadikan contoh bagi pelaku usaha perikanan lainnya di Indonesia.

"Kalau ini dijadikan model di Indonesia, saya akan bicara sama Menteri Perikanan. Ini luar biasa. Tingkat keberhasilan seperti ini tidak mudah dicapai," ujarnya.

Sementara itu, Pemilik PT Bomar, Tigor Cendarma, mengatakan peningkatan produksi udang nasional harus dimulai dari pembenahan sektor hulu.

Menurutnya, kualitas induk dan benur menjadi penentu utama keberhasilan budidaya.

"Udang itu tantangannya di hulu, mulai dari induk, benur sampai budidayanya. Yang paling penting adalah menerapkan Cara Budidaya yang Baik dan Benar atau CBIB secara konsisten," katanya.

Ia menilai penerapan teknologi juga menjadi kebutuhan utama agar kegagalan budidaya akibat penyakit maupun faktor lingkungan dapat ditekan.

"Teknologi mampu mengatasi berbagai hambatan. Kalau kegagalan budidaya bisa ditekan, suplai bahan baku meningkat dan industri menjadi lebih efektif, efisien serta memiliki daya saing," ujarnya.

Selain mengembangkan pembenihan di Kabupaten Barru, Bomar juga mulai memperkenalkan sistem budidaya menggunakan kolam bundar yang dinilai lebih ramah lingkungan. 

Teknologi tersebut kini tengah dikembangkan di Barru dan Takalar sebagai alternatif tambak konvensional yang lebih rentan terhadap penyebaran penyakit.

Menurut Tigor, sistem tersebut memungkinkan proses budidaya dilakukan lebih efisien karena seluruh parameter kualitas air lebih mudah dikendalikan dibanding tambak tanah.

Di sektor hilir, Bomar juga terus meningkatkan nilai tambah produk melalui pengolahan makanan siap saji berbahan baku udang. 

Saat ini sekitar 80 persen produk perusahaan dipasarkan ke Jepang, sementara sisanya diekspor ke Eropa dan Amerika. 

Perusahaan juga mulai membuka pasar baru di kawasan Asia seperti China, Vietnam, dan India untuk mengantisipasi penurunan permintaan dari Jepang.

Sepanjang Semester I Tahun 2026, PT BOMAR telah mengekspor 859,4 ton udang dengan nilai mencapai Rp148,2 miliar. 

Volume tersebut terdiri atas 765.132 kilogram udang vaname senilai Rp122,5 miliar dan 94.292 kilogram udang windu senilai Rp25,7 miliar. 

Seluruh komoditas telah melalui tindakan karantina dan diterbitkan 69 sertifikat karantina sebagai persyaratan ekspor ke berbagai negara tujuan, antara lain Jepang, Vietnam, dan Tiongkok.

Tigor mengungkapkan perusahaan saat ini membutuhkan pasokan bahan baku sekitar 30 hingga 50 ton udang setiap hari. 

Namun, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dapat dipenuhi akibat masih tingginya tantangan di sektor budidaya.

Karena itu, ia menilai sinergi antara pelaku usaha, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Karantina Indonesia menjadi kunci dalam meningkatkan produksi sekaligus menjaga mutu komoditas udang Indonesia.

Ia juga memastikan pelayanan Badan Karantina selama ini berjalan baik dan tidak pernah menghambat aktivitas ekspor perusahaan.

"Kami belum ada satu pun komplain. Kalau kita berlakunya benar, karantina senang sama kita, kita juga senang sama mereka. Sejalan," ujarnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Kepala Badan Karantina Sulawesi Selatan Sitti  Chadidjah.

Ia menyebut PT Bomar sebagai salah satu pelaku usaha dengan tingkat kepatuhan tertinggi berdasarkan evaluasi yang dilakukan secara berkala setiap triwulan. 

Hal itu dinilai menjadi modal penting bagi Sulawesi Selatan untuk terus memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penopang ekspor perikanan nasional. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.