TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Musim durian kembali membawa suasana berbeda di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Joesoef Abdullah, Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara).
Sejumlah mobil pick up tampak berjejer menjajakan durian yang didatangkan dari berbagai daerah.
Tak sedikit masyarakat yang sengaja datang untuk memilih hingga mencicipi raja buah tersebut sebelum membawanya pulang.
Di antara deretan pedagang, Marni menjadi salah satu penjual yang rutin menawarkan durian dan buah elai kepada warga, dalam sebulan terakhir.
Ia menyampaikan seluruh durian yang dijual didatangkan langsung dari Kabupaten Malinau, karena daerah tersebut sedang memasuki musim panen.
"Sudah kurang lebih satu bulan saya berjualan di RTH ini. Duriannya saya bawa dari Malinau karena memang di sana banyak buah durian," ujar Marni kepada TribunKaltara.com, Jumat (7/8/2026).
Marni mengatakan, durian yang dijual merupakan buah yang matang secara alami di pohon.
Petani akan menunggu buah jatuh sebelum kemudian dijual kepada dirinya.
"Yang saya jual ini durian yang memang masak di pohon, jadi ditunggu jatuh sama petani di sana baru dijual ke saya," katanya.
Baca juga: Cerita Petugas Lapangan Sensus Ekonomi di Tana Tidung, Diisengin hingga Dapat Durian Gratis
Karena jumlah durian yang diperoleh dari setiap petani tidak banyak, ia harus berkeliling dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mengumpulkan buah sebelum dibawa ke Tana Tidung.
"Jadi malam saya ke Malinau, pagi saya pergi kebun ke kebun untuk membeli durian, terus siang atau sore baru saya kembali ke Tana Tidung jualan," ungkapnya.
Menurut Marni, cara tersebut membuat durian yang dijual selalu dalam kondisi segar karena jarang disimpan hingga keesokan harinya.
Bahkan jika masih tersisa pada malam hari, ia memilih menjualnya di bawah harga modal.
"Kalau sudah sampai malam belum habis pun saya obral di bawah modal saya ambilkan," ucapnya.
Selama berjualan di Tana Tidung, ia mengaku pembeli selalu berdatangan, terutama saat musim durian sedang ramai.
Salah satu hal yang membuat pelanggannya kembali membeli adalah jaminan yang diberikan apabila buah yang dibeli ternyata tidak layak dikonsumsi.
"Alhamdulillah pembeli di Tana Tidung ini ada saja, lumayan ramai. Apalagi saya kasih garansi, jadi kalau ada yang mentah atau busuk yang sampai tidak bisa dimakan sama sekali bisa ditukar buahnya,' bebernya.
Baginya, kepuasan pembeli lebih penting dibandingkan keuntungan dari satu buah durian.
"Saya kasih garansi karena prinsip saya masa orang sudah beli mahal-mahal tapi tidak bisa dimakan kan kasihan. Saya juga sebagai penjual tidak mungkin tidak ada untungnya sama sekali," sebutnya.
Marni bahkan mengaku tidak pernah menghitung secara pasti keuntungan yang diperoleh setiap hari karena cukup banyak buah yang diganti apabila kualitasnya tidak sesuai.
"Kalaupun saya rugi di satu biji itu, Insya Allah saya masih bisa untung dari buah-buah yang lain. Yang penting pembeli bisa merasa puas dan senang,' tuturnya.
Durian yang dijual dibanderol mulai Rp5 ribu hingga Rp70 ribu per buah, bergantung pada ukuran.
"Harganya itu mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu, Rp15 ribu, Rp20 ribu sampai Rp70 ribu per biji tergantung ukurannya," katanya.
Menariknya, pembeli di Tana Tidung justru lebih banyak memilih durian berukuran kecil.
Meski ukurannya lebih kecil, Marni mengakui kualitas daging buah tetap manis dan tidak kalah dengan durian berukuran besar.
"Di sini rata-rata malah lebih suka yang kecil-kecil. Bahkan ada yang sudah borong durian kecil sekarung, tidak lama datang lagi dia memborong yang kecil lagi," ujarnya.
Selain durian, Marni juga menjual buah elai yang merupakan buah khas Kalimantan.
Sekilas elai menyerupai durian, namun memiliki kulit berwarna kuning cerah dengan daging buah berwarna oranye serta aroma yang lebih lembut dibandingkan durian.
Meski memiliki penggemar tersendiri, ia mengakui permintaan elai masih berada di bawah durian.
"Saya juga ada jual buah elai, tapi tetap peminatnya lebih banyak durian," katanya.
Bagi pembeli yang masih ragu, Marni juga mempersilakan menyicipi buah terlebih dahulu di lokasi.
Jika rasa durian dinilai kurang manis, ia tidak segan menggantinya dengan buah lain.
"Kalau pembeli mau makan di sini bisa, tapi kebanyakan dibawa pulang. Sebelum mereka bawa pulang biasa saya kasih rasa dulu, kalau tidak manis bisa ditukar supaya mereka membeli bisa puas hati," pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti