Jepang lagi-lagi dibuat pusing oleh turis asing. Ternyata mereka mengonsumsi beras lebih banyak dari pada warga lokalnya.
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) merilis data tahun fiskal 2025 tentang konsumsi beras oleh wisatawan asing ke Jepang. Laporan ini diumumkan pada 27 Juli 2026, seperti dilihat dari Jumat (7/8/2026).
Menurut data yang dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh pengunjung dari 14 negara dan wilayah, MAFF memperkirakan bahwa pengunjung luar negeri mengonsumsi rata-rata 570 gram nasi matang per hari selama kunjungan mereka di Jepang, yang kira-kira setara dengan empat mangkuk nasi standar.
Angka ini tentu meleset jauh dari perkirakan sekitar 350 gram, atau sekitar 2,5 mangkuk, per orang per hari.
Tercatat ada beberapa turis yang tak bisa lepas dari beras yaitu Vietnam sebanyak 718 gram, diikuti oleh Indonesia dengan 714 gram, Filipina dengan 695 gram, dan Thailand sebanyak 629 gram. Pengunjung dari AS mengonsumsi rata-rata 565 gram, sedangkan pengunjung dari Tiongkok mengonsumsi 546 gram. Rata-rata terendah di antara kelompok yang disurvei adalah Hong Kong, yang pengunjungnya masih mengonsumsi 468 gram.
Untuk memberikan gambaran, rata-rata orang di Jepang dikatakan mengonsumsi sekitar 330-340 gram nasi matang per hari. Itu berarti rata-rata pengunjung asing makan sekitar 70 persen lebih banyak nasi setiap hari selama masa tinggal mereka daripada rata-rata penduduk Jepang.
MAFF mengatakan angka yang lebih tinggi tidak hanya terkait dengan makanan di restoran sushi tetapi juga dengan popularitas bola nasi onigiri, dengan banyak wisatawan menikmati nasi beberapa kali sepanjang hari.
Sebaliknya, penduduk lokal Jepang lebih cenderung menambahkan sumber karbohidrat lain ke dalam diet harian mereka. Sebagian besar warlok menikmati karbohidrat dalam bentuk roti dan mi.
Berdasarkan perhitungan terbaru kementerian Jepang, pengunjung asing diperkirakan telah mengonsumsi sekitar 82.000 ton beras giling, setara dengan 91.000 ton beras merah, antara Juli 2025 dan Juni 2026. Ini merupakan revisi ke atas yang signifikan dari perkiraan sebelumnya sebesar 61.000 ton pada Maret tahun ini.
Perkiraan terbaru ini muncul setelah kekurangan beras di Jepang pada tahun 2024, yang dijuluki "Kerusuhan Beras Reiwa", ketika harga yang melonjak dan rak-rak kosong menimbulkan kekhawatiran di seluruh negeri. Meskipun panen yang buruk terkait dengan panas ekstrem merupakan faktor utama, jumlah pengunjung asing yang mencapai rekor pada tahun itu juga menimbulkan pertanyaan tentang apakah permintaan pariwisata yang mungkin telah melewati batas.
Setelah kekurangan tersebut, pemerintah memutuskan untuk meneliti konsumsi pengunjung asing, karena hal itu belum pernah dipertimbangkan sebelumnya. Dengan memasukkan kebiasaan makan beras para pengunjung, angka-angka terbaru ini sekarang memberikan gambaran yang lebih komprehensif untuk menilai penawaran dan permintaan dengan tepat dan mempersiapkan pariwisata dengan lebih baik untuk kemungkinan perubahan.





