Apakah Lionel Skaloni akan mundur? Presiden federasi sepak bola Argentina ungkap 'Rencana A, B, dan C' untuk masa depan pelatih usai patah hati di Piala Dunia
Rina Kusumawati August 07, 2026 11:49 PM

Masa depan tim nasional Argentina kini berada dalam ketidakpastian ketika Lionel Skaloni mempertimbangkan apakah ia akan melanjutkan tugasnya setelah kekalahan menyakitkan di final Piala Dunia 2026. Di tengah situasi yang belum jelas itu, presiden AFA Claudio Tapia sudah menegaskan posisinya, dengan menyatakan bahwa tidak ada pilihan lain selain sosok yang membawa Albiceleste meraih kejayaan dunia empat tahun lalu.

Presiden AFA menegaskan Skaloni tetap menjadi 'Rencana A, B, dan C'

Tapia menutup rapat semua pembicaraan mengenai pencarian pelatih baru, meski spekulasi soal masa depan Skaloni terus berkembang. Setelah berakhirnya Piala Dunia 2026, ketika Argentina kalah dari Spanyol di partai final, presiden AFA bersikeras bahwa arsitek keberhasilan Albiceleste pada 2022 tetap menjadi satu-satunya orang yang tepat untuk jabatan itu.

Tapia mengatakan dalam wawancara dengan TyC Sport: "Tanpa ragu, saya ingin dia bertahan, kita semua ingin dia bertahan. Kami sudah berbicara, dan dia sendiri juga sudah mengungkapkan bahwa pembicaraan itu sudah sangat maju. Saya orang yang tahu berterima kasih, dan karena itu saya pikir kita harus memberinya waktu untuk merenung, mengambil keputusan yang tepat, dan kita harus menghormatinya.

"Saya tidak bisa menahan Skaloni tetap di sini jika dia merasa tidak punya keinginan atau tidak memiliki proyeksi yang lebih baik. Saya ingin dia baik-baik saja, dan kita semua seharusnya menginginkan hal yang sama, meskipun itu menyakitkan bagi kita."

Ketua federasi itu menekankan bahwa tidak ada rencana darurat yang disiapkan, walaupun kontrak Skaloni saat ini akan berakhir pada Desember 2026. Ketika ditanya soal calon pengganti atau strategi cadangan, Tapia menjawab: "Tidak, Rencana A, B, dan C saya adalah Skaloni."

Beban emosional final Piala Dunia 2026

Ketidakpastian ini berawal dari reaksi emosional Skaloni sendiri setelah kekalahan memilukan 1-0 dari Spanyol di Stadion MetLife. Sang pelatih tidak mampu menuntaskan konferensi pers usai pertandingan, karena pecah dalam tangis saat merenungkan kemungkinan berakhirnya sebuah siklus.

"Untuk terus lanjut, Anda membutuhkan sangat banyak hal. Itu sangat sulit untuk diciptakan kembali," katanya. "Kami mencoba sampai menit terakhir untuk memberikan segalanya [di final]. Saya pikir wajar jika saya mengambil waktu untuk memikirkan ini dengan matang.

"Saya akan berbicara dengan presiden. Saya akan menjalani sisa kontrak saya. Saya tahu apa yang ingin saya lakukan. Saya merasa perlu berpikir. Saya tidak tahu apakah sesuatu sebesar ini bisa dilakukan [lagi]."

Tantangan revolusi skuad

Faktor besar dalam keraguan Skaloni adalah kebutuhan besar yang sudah di depan mata untuk melakukan perombakan skuad. Tim 2026, yang dipimpin Lionel Messi berusia 39 tahun, merupakan salah satu skuad tertua di turnamen tersebut, dan pemain-pemain senior lain seperti Nicolas Otamendi juga sudah mendekati akhir karier internasional mereka. Skaloni mencatat bahwa membangun kelompok dengan chemistry seperti itu adalah sesuatu yang "sulit untuk pernah diulang".

Meski gagal meraih trofi pada musim panas ini, Skaloni tetap sangat bangga dengan usaha timnya. Ia mengatakan: "Saya ingin kalian mengingat apa yang kami coba tunjukkan dari kelompok pemain ini, para pejuang saya, seperti saya menyebut mereka ketika saya berbicara kepada istri saya tentang mereka. Usaha, keinginan, penolakan untuk menyerah, bertahan menghadapi kritik keras, ketenangan, kemauan untuk terus berjalan ketika kaki Anda tidak lagi mematuhi otak Anda… Itulah trofi yang sebenarnya."

Dukungan keluarga dan visi menuju 2030

Saat Skaloni masih menimbang keputusannya, ia mungkin memiliki senjata rahasia di sisinya yang mendorongnya untuk bertahan. Laporan TyC menyebut istrinya, Elisa Montero, merupakan pendukung kuat agar ia tetap menjalankan peran tersebut untuk siklus Piala Dunia 2030. Tinggal di Mallorca, Montero dikabarkan meyakini bahwa kebahagiaan yang dirasakan Skaloni saat bekerja dengan staf pelatihnya dan tim nasional lebih besar daripada tekanan luar biasa dari jabatan itu.

Rekam jejak Skaloni berbicara dengan sendirinya, dengan lebih dari 78 kemenangan dan hanya 10 kekalahan sejak mengambil alih jabatan pada 2018. Dalam periode itu, ia mempersembahkan dua gelar Copa America, Finalissima, dan Piala Dunia 2022. Saat AFA menatap masa depan, mereka tetap yakin tidak ada kandidat lain yang mampu menandingi keberhasilannya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.