Masturbasi Sitasi dan Ilusi Prestasi Akademik
Safriadi Syahbuddin August 08, 2026 03:35 AM

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Masturbasi Sitasi

Istilah masturbasi sitasi dalam tulisan ini digunakan sebagai metafora kritik, bukan ungkapan vulgar untuk menyerang pribadi atau merendahkan siapa pun. Sebagai sesama akademisi, penulis memakainya untuk menyoroti gejala ketika sitasi bergeser dari pengakuan ilmiah menjadi alat pemoles profil bibliometrik.

Metafora ini memiliki dasar historis. Dalam “Authority and masturbation”, Spitz (1952) menunjukkan bahwa istilah masturbation dan onanism sejak lama memikul beban moral, otoritas, dan penghakiman sosial. Onanism bahkan kerap disalahartikan sebagai masturbasi, padahal kisah Onan lebih dekat dengan coitus interruptus. Dalam perspektif Islam, onani atau masturbasi dikenal sebagai istimna’, yang diperdebatkan ulama dalam kerangka alasan, batas, dan kepantasan: tanpa alasan kuat ia dipandang tidak patut, tetapi dalam kondisi tertentu sebagian ulama memberi ruang pembenaran untuk menghindari mudarat yang lebih besar.

Dengan latar itu, analogi masturbasi sitasi menjadi lebih terang. Sebagaimana masturbasi memuaskan hasrat seksual oleh diri sendiri, masturbasi sitasi memuaskan hasrat prestasi akademik melalui kutipan terhadap karya sendiri. Yang dipuaskan bukan tubuh, melainkan ego bibliometrik: angka sitasi naik, h-index tampak gemuk, lalu gema diri disangka pengaruh ilmiah. Bedanya, istimna’ berada dalam wilayah fikih, sedangkan self-citation berada dalam wilayah etika publikasi. Namun, keduanya bertemu pada satu pertanyaan etik: apakah tindakan itu lahir dari kebutuhan yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan, atau sekadar dari hasrat memuaskan diri sendiri?

Baca juga: Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi

Secara formal, konsep ini paling dekat dengan excessive self-citation, yaitu pengutipan karya sendiri secara berlebihan dan tidak proporsional. Ia juga beririsan dengan citation gaming dan citation manipulation. Committee on Publication Ethics (2024) menjelaskan citation manipulation sebagai praktik menaikkan angka sitasi secara tidak wajar. SAGE (n.d.), dalam “Citation manipulation policy”, juga memasukkan excessive self-citation, unnecessary citation, dan gift citation sebagai pelanggaran etika publikasi. Jadi, kritik ini bukan soal moralitas seksual, melainkan soal integritas ilmiah: apakah seorang peneliti sedang berdialog dengan ilmu, atau terlalu lama berdiri di depan cermin.

H-Index Bersih, Ilusi Tersingkap

Tabel 1 membandingkan penulis terproduktif pada universitas dengan publikasi Scopus terbanyak di setiap wilayah/negara. Untuk Indonesia, sampel diambil berdasarkan representasi pulau, yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali; sementara pembanding internasional mencakup Malaysia, Jepang, UK, dan US. Fokusnya bukan sitasi total, melainkan daya tahan h-index setelah self-citation dikeluarkan. Di sinilah h-index bersih menjadi pisau baca: ia menyingkap apakah reputasi bibliometrik lahir dari pengakuan eksternal, atau membesar karena pantulan diri.

Tabel 1. Jejak Self-Citation Penulis Terproduktif pada Universitas Terproduktif Scopus 

Tabel Penulis Terproduktif pada Universitas Terproduktif
Tabel Jejak Self-Citation Penulis Terproduktif pada Universitas Terproduktif Scopus. Sumber: Metadata Scopus Database, diakses pada 26 Mei 2026.

Sumber: Metadata Scopus Database, diakses pada 26 Mei 2026.

Dengan pembacaan berbasis zona, risikonya terlihat lebih jelas. Mengacu pada batas kehati-hatian bibliometrik, penurunan h-index setelah self-citation dikeluarkan di bawah 10?pat dibaca relatif aman; 10–<25>

Dalam Tabel 1, Kalimantan masuk Zona Merah karena h-index turun dari 26 menjadi 15, atau berkurang 42,31 % setelah self-citation dikeluarkan. Sumatera dan Sulawesi masuk Zona Oranye, masing-masing turun 25,00?n 29,17 % . Bali, Jepang, dan UK masuk Zona Kuning, dengan penurunan 15,38 % , 11,92 % , dan 11,26 % . Namun, Jepang dan UK tetap memiliki h-index bersih yang sangat kuat, yaitu 133 dan 134, sehingga penurunan tersebut tidak serta-merta melemahkan posisi pengaruh akademiknya. Sementara itu, Malaysia, Jawa, dan US masuk Zona Hijau karena penurunannya di bawah 10 % , yang menunjukkan bahwa struktur h-index mereka relatif stabil setelah kutipan diri dikeluarkan.

Dimensi waktu membuat pembacaan ini lebih tajam. Kolom “Mulai” menunjukkan tahun pertama penulis tercatat memiliki publikasi di Scopus. Penulis dari Malaysia, UK, US, Jepang, dan Bali sudah tercatat sejak 1978, 1989, 1992, 1998, dan 1992, sehingga h-index mereka dapat dibaca sebagai hasil akumulasi karier yang lebih panjang. Sebaliknya, penulis dari Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan baru tercatat sejak 2015, 2014, dan 2012. Dalam rentang yang jauh lebih pendek, h-index mereka sudah tampak tinggi, tetapi sebagian turun besar setelah self-citation dikeluarkan. Lonjakan cepat itu tidak otomatis salah; namun, bila metriknya melemah tajam setelah kutipan diri dibersihkan, maka pengaruh bibliometriknya perlu dibaca ulang secara lebih kritis.

Di sinilah kritik masturbasi sitasi menemukan pijakannya. Self-citation yang sehat dapat menjelaskan kesinambungan teori, metode, data, instrumen, atau peta jalan riset. Namun, ketika kutipan diri ikut menyangga h-index, sitasi berubah dari peta ilmu menjadi cermin pribadi. Profil akademik tampak gemuk, tetapi pengaruhnya mengempis saat tepuk tangan sendiri dihentikan. Maka pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi “berapa h-index-nya?”, melainkan “berapa h-index bersihnya?”

Memulihkan Martabat Sitasi

Solusinya bukan melarang self-citation, melainkan memulihkan adabnya. Mengutip karya sendiri tetap sah, bahkan perlu, jika karya terdahulu menjadi dasar teori, data, metode, instrumen, model, atau kelanjutan peta jalan riset. Menghindari self-citation dalam kondisi seperti itu justru dapat mengaburkan asal-usul gagasan dan membuka ruang self-plagiarism. Namun, kutipan diri harus proporsional: karya lama disebut jelas, kontribusi baru dibedakan tegas, dan kesinambungan riset dijelaskan tanpa mengubah daftar pustaka menjadi etalase pribadi.

Institusi juga perlu berhenti membaca metrik secara mentah. Citation count, h-index, impact factor, dan jumlah dokumen Scopus penting, tetapi tidak boleh menggantikan penilaian substansi. Evaluasi akademik seharusnya membedakan sitasi total dan sitasi bersih dari self-citation berlebihan. Yang perlu dilihat bukan hanya berapa kali karya dikutip, tetapi siapa yang mengutip, dalam konteks apa, dari jaringan mana, dan apakah kutipan itu relevan secara ilmiah. Tanpa pertanyaan ini, akademia mudah keliru membedakan pengaruh sejati dari gema buatan.

Pada akhirnya, sitasi adalah etika ingatan. Mengutip orang lain berarti mengakui bahwa ilmu tidak lahir sendirian. Mengutip diri sendiri secara proporsional berarti menjaga kesinambungan riset. Namun, ketika kutipan diri dilakukan secara berlebihan, tidak relevan, dan dipaksakan, sitasi berubah dari tanda dialog menjadi alat pemoles prestasi. Di titik inilah masturbasi sitasi melahirkan ilusi prestasi akademik.

Profil tampak gemuk, tetapi gagasan belum tentu sehat. Pengaruh sejati tidak lahir dari tepuk tangan sendiri, melainkan dari kesediaan orang lain membaca, menguji, mengkritik, dan melanjutkan gagasan kita. Maka, sebelum menambahkan nama sendiri ke daftar pustaka, seorang akademisi perlu berhenti sejenak: apakah kutipan itu menyelamatkan argumen, atau sekadar menyelamatkan ego?

*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.