TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Guru Besar Lifestyle Medicine, Prof. Dr. dr. Dasaad Mulijono, SpJP(K), menyampaikan keprihatinan sekaligus permohonan maaf atas nama profesi kedokteran kepada keluarga Yurizal.
Baru-baru ini, kasus viral pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Yurizal mendapat sorotan tajam setelah muncul dugaan komentar tidak berempati dari sejumlah tenaga kesehatan di media sosial.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kepada keluarga Yurizal Tri Chaerawan, izinkan saya memohon maaf. Maaf, karena ada di antara kami yang mengenakan jas putih, namun kehilangan hal paling mendasar dari kedokteran: empati,” ujar Prof. Dasaad dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
Yurizal, pasien berusia 29 tahun asal Bogor, meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Menurut Prof. Dasaad, yang menjadi persoalan bukan hanya mengenai waktu tunggu pelayanan, tetapi juga respons sejumlah pihak terhadap keluhan pasien yang dianggap tidak menunjukkan empati.
“Pertanyaan saya bukan siapa pelakunya. Tetapi mengapa seorang manusia yang dididik bertahun-tahun untuk menolong, bisa sampai hati melukai orang yang datang meminta tolong?” katanya.
Prof. Dasaad menilai, seorang dokter tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga harus mampu memahami kondisi psikologis pasien.
Konsultan Kardiologi Intervensi ini mengingatkan, pasien BPJS Kesehatan adalah peserta program jaminan kesehatan yang memiliki hak mendapatkan pelayanan kesehatan.
Ia menegaskan, perilaku yang merendahkan pasien dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan.
“Perundungan oleh dokter tidak hanya menambah luka. Ini membunuh kepercayaan dan membuat pasien takut bertanya, takut mengeluh, bahkan takut kembali berobat,” kata Prof. Dasaad.
Prof. Dasaad mengajak semua pihak dalam profesi kedokteran untuk melakukan evaluasi dan memastikan nilai etik tidak hanya berhenti sebagai sumpah atau aturan tertulis.
Ia menyarankan, langkah-langkah ini perlu diperkuat, mulai dari pengawasan etik, pemberian sanksi yang adil, mekanisme pengaduan yang cepat, hingga pendidikan karakter bagi tenaga kesehatan.
Menurutnya, sistem pembinaan juga harus berlaku bagi seluruh jenjang profesi, termasuk mereka yang memiliki jabatan tinggi.
Ke depan, masyarakat dan tenaga kesehatan perlu memperbaiki hubungan dalam konteks dokter dan pasien.
Ia meyakini masih banyak dokter dan tenaga kesehatan yang menjalankan profesinya dengan penuh kepedulian.
Baca juga: Kasus Yurizal Jadi Sorotan, Apa yang Harus Dilakukan Pasien BPJS Saat Kamar Rawat Penuh?
“Untuk Yurizal, engkau tidak sempat kami bela semasa hidupmu. Biarlah kepergianmu kami jaga maknanya,” tuturnya.