Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari yang Sering Luput Diperhatikan
Nurul Diva August 08, 2026 09:30 AM

Liputan6.com, Jakarta Cara mengenali orang yang tidak bahagia dilihat dari kebiasaan sehari-hari sebenarnya bisa dipelajari, sebab ketidakbahagiaan jarang muncul dari satu peristiwa besar. Perasaan itu menumpuk perlahan dari rutinitas kecil yang dilakukan tanpa sadar setiap hari.

Seseorang bisa tampak baik-baik saja di permukaan, padahal menyimpan kelelahan batin yang dalam. Karena itu, memahami cara mengenali orang yang tidak bahagia dilihat dari kebiasaan sehari-hari membuat kita lebih peka, baik terhadap diri sendiri maupun orang terdekat.

Kabar baiknya, sebagian besar kebahagiaan berada dalam kendali kita sendiri. Peneliti dari University of California, Sonja Lyubomirsky, dikutip dari HuffPost, menyatakan bahwa 40 persen kapasitas kita untuk bahagia berada dalam kuasa kita untuk mengubahnya.

Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia dari Pola Pikir dan Cara Bicara

Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari. (Image by rawpixel.com on Freepik)
Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari. (Image by rawpixel.com on Freepik)

Langkah awal dalam cara mengenali orang yang tidak bahagia dilihat dari kebiasaan sehari-hari adalah menyimak pola pikir serta pilihan katanya. Ucapan dan fokus perhatian sering kali lebih jujur daripada penampilan luar.

  1. Sering mengeluh dan berfokus pada hal negatif: Mereka cenderung menyoroti kekurangan dan mengeluhkan hal kecil, mulai dari cuaca, pekerjaan, hingga orang di sekitar, sehingga sulit melihat solusi.

  2. Berbicara dengan nada pesimistis: Kalimat seperti "tidak ada yang pernah berhasil untukku" menandakan seseorang terbiasa mengantisipasi hasil buruk, sehingga menutup ruang bagi kemungkinan positif.

  3. Gemar membandingkan diri: Mengukur hidup dengan pencapaian orang lain, terlebih di era media sosial, menumbuhkan rasa tidak cukup dan iri yang menggerogoti kepuasan hidup. Menyadari kebiasaan ini adalah bekal awal untuk berhenti membandingkan diri di tengah tekanan media sosial.

  4. Terjebak dalam overthinking: Pikiran mudah kalut sehingga sulit fokus pada pekerjaan sederhana sekalipun, dan kebiasaan overthinking makin sulit dikendalikan.

  5. Terlalu keras pada diri sendiri: Menetapkan standar yang nyaris mustahil membuat mereka selalu merasa tidak pernah cukup baik, meski sudah mencapai banyak hal.

  6. Terus memikirkan penilaian orang lain: Mereka merenungkan ucapan atau tindakan orang lain secara berlebihan dan mencoba menebak makna tersembunyi di baliknya, sehingga cemas berkepanjangan.

  7. Kehilangan selera humor: Mereka jarang menemukan sisi ringan dari tantangan hidup, padahal tawa kerap menjadi penyeimbang saat menghadapi kesulitan.

Para psikolog menjelaskan bahwa bahasa yang terus-menerus negatif dapat membentuk semacam kerangkeng mental berisi pesimisme, dan cara pandang itu perlahan menutupi pengalaman-pengalaman baik yang sebenarnya masih ada. Itulah mengapa banyak orang yang sebetulnya tidak bahagia bisa saja terlihat tenang di luar, seperti seorang overthinker yang tampak tenang dari luar.

Membaca Bahasa Tubuh dan Ekspresi sebagai Petunjuk

Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari. (Image by jcomp on Freepik)
Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari. (Image by jcomp on Freepik)

Selain ucapan, cara mengenali orang yang tidak bahagia dilihat dari kebiasaan sehari-hari juga bisa dibaca lewat bahasa tubuh yang sering muncul tanpa disadari. Tubuh kerap mengungkap apa yang tidak sanggup dikatakan mulut.

  1. Postur tubuh membungkuk: Bahu yang turun dan kepala menunduk menandakan seseorang seolah memikul beban lebih dari sekadar kelelahan fisik. Mengacu pada riset yang dimuat dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry, individu yang berjalan dengan postur membungkuk cenderung merasakan lebih banyak emosi negatif dibanding mereka yang menegakkan tubuh.

  2. Menghindari kontak mata: Enggan menatap lawan bicara bisa jadi bentuk perlindungan diri, terutama saat seseorang merasa malu atau tidak layak mendapat perhatian.

  3. Senyum yang terlihat dipaksakan: Senyum sosial biasanya kaku dan tidak sampai ke mata, sehingga otot di sekitar mata tidak ikut mengerut. Mengenali makna senyum seseorang membantu membedakan tawa tulus dari topeng.

  4. Bahasa tubuh yang tertutup: Menyilangkan lengan, menjauhkan tubuh, atau menghindari sentuhan menjadi cara tak sadar untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.

  5. Gerak tubuh lesu dan minim antusiasme: Gestur yang lambat serta pandangan yang kosong menunjukkan energi seolah terkuras habis.

  6. Terus menatap layar ponsel: Bersembunyi di balik gawai bahkan saat berkumpul kerap menjadi sinyal seseorang merasa terputus dari sekitarnya, apalagi bila diiringi efek negatif media sosial yang menumpuk.

Meski demikian, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi seseorang. Tidak sedikit orang justru mahir menyembunyikan lukanya, dan berbagai alasan seseorang berpura-pura bahagia mulai dari tekanan sosial hingga rasa takut membebani orang lain membuat sinyalnya makin samar.

Memperhatikan Kebiasaan Sosial dan Gaya Hidup Sehari-hari

Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari. (Photo by Liza Summer from Pexels)
Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari. (Photo by Liza Summer from Pexels)

Cara mengenali orang yang tidak bahagia dilihat dari kebiasaan sehari-hari paling mudah terbaca dari perubahan pola sosial dan gaya hidupnya. Perubahan ini biasanya berlangsung bertahap dan berulang.

  1. Menarik diri dari pergaulan: Perlahan menjauh dari interaksi sosial dan lebih sering menyendiri patut diwaspadai. Berdasarkan laporan Gallup State of the Global Workplace, sekitar 20 persen karyawan di seluruh dunia mengalami kesepian setiap hari, dan rasa itu makin berat bila dibiarkan; pahami dulu makna feeling lonely sebelum menyimpulkan.

  2. Kehilangan minat pada hobi: Aktivitas yang dulu menyenangkan kini terasa hambar. Psikolog Dr. Yang, dikutip dari Parade, menyatakan, "Kurangnya keterlibatan atau minat yang kronis terhadap berbagai hal menandakan kondisi tidak bahagia.

  3. Perubahan pola makan dan tidur: Nafsu makan yang kacau serta tidur yang terlalu sedikit atau berlebihan kerap menjadi pelarian dari beban perasaan, dan pola ini juga menjadi salah satu tanda seseorang mengalami depresi.

  4. Mengabaikan perawatan diri dan kesehatan: Mereka cenderung tidak lagi peduli pada olahraga, pola makan, atau keluhan tubuh, bahkan enggan memeriksakan diri ke tenaga medis.

  5. Mempertahankan lingkungan yang tidak sehat: Alih-alih menetapkan batasan, mereka membiarkan hubungan atau situasi toksik terus berlangsung karena merasa konfrontasi tidak akan berujung baik.

  6. Menjadikan kesibukan sebagai pelarian: Terlihat sangat produktif, padahal kesibukan berlebihan sengaja dipakai agar tidak perlu berhadapan dengan perasaannya sendiri.

  7. Suasana hati naik-turun dan mudah tersinggung: Mood yang berubah drastis serta gampang membentak menandakan tekanan batin yang belum terselesaikan.

Merujuk laporan Forbes, ketidakbahagiaan dapat memengaruhi orang-orang di sekitar layaknya asap rokok pada perokok pasif, dan Studi Terman dari Stanford yang berlangsung lebih dari delapan dekade menemukan bahwa berada di lingkungan yang dipenuhi orang tidak bahagia berkaitan dengan kesehatan yang lebih buruk serta harapan hidup yang lebih pendek. Karena itu, mengenali tanda ini sejak dini penting agar tidak berkembang menjadi gejala depresi yang jarang disadari.

Kebiasaan Sederhana untuk Membangun Kembali Kebahagiaan

Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari (freepik.com/senivpetro)
Cara Mengenali Orang yang Tidak Bahagia Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari (freepik.com/senivpetro)

Mengenali tanda ketidakbahagiaan hanyalah separuh perjalanan; separuhnya lagi adalah membangun kebiasaan yang lebih sehat. Kabar baiknya, ketidakbahagiaan bukan kondisi permanen dan bisa diubah lewat langkah kecil yang konsisten.

Sebagaimana disampaikan Kementerian Kesehatan, menerapkan self love dan merawat diri dapat menjaga kesehatan mental sekaligus menurunkan risiko gangguan psikis seperti depresi dan kecemasan.

  • Berhenti menunda kebahagiaan: Banyak orang menunggu momen tertentu untuk merasa bahagia, padahal pola pikir itu membuat kebahagiaan selalu terasa jauh. Benjamin Franklin, dikutip dari Inc., menyatakan, "Konstitusi hanya memberi orang hak untuk mengejar kebahagiaan. Anda harus menangkapnya sendiri."

  • Latih rasa syukur setiap hari: Mencatat hal-hal kecil yang disyukuri membantu pikiran fokus pada sisi positif. Robert Emmons, dikutip dari University of California, Davis, menyatakan jika ketika orang secara sadar mempraktikkan hidup penuh syukur, kebahagiaan mereka akan meningkat dan kemampuan mereka bertahan dari peristiwa negatif pun membaik, begitu pula kekebalan terhadap amarah, iri hati, dendam, dan depresi. Pelajari juga manfaat bersyukur menurut penelitian.

  • Bangun hubungan yang bermakna: Kualitas relasi adalah salah satu prediktor terkuat kebahagiaan jangka panjang. Dr. Brene Brown, dikutip dari Marriage.com, menyatakan, "Untuk menumbuhkan kebahagiaan, fokuslah pada membangun hubungan yang bermakna, melatih rasa syukur, dan merangkul kerentanan."

  • Lakukan kebaikan kecil: Studi menunjukkan bahwa melakukan tindakan baik selama beberapa hari dapat meningkatkan kebahagiaan, entah ditujukan kepada orang terdekat, orang asing, maupun diri sendiri.

  • Batasi media sosial: Membatasi waktu di media sosial meredam kebiasaan membandingkan diri; kenali dulu ciri terlalu lama di media sosial sebelum melakukan detoks digital.

  • Rawat diri secara menyeluruh: Tidur cukup, olahraga teratur, dan pola makan sehat berpengaruh besar pada suasana hati; simak beragam cara membahagiakan diri sendiri yang terbukti secara ilmiah.

  • Cari bantuan profesional bila perlu: Jika rasa tidak bahagia terasa berat dan mengganggu keseharian lebih dari dua minggu, jangan ragu menemui psikolog atau psikiater sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang Tidak Bahagia

Apa saja tanda orang yang tidak bahagia dalam kesehariannya?

Tanda yang umum antara lain sering mengeluh, pesimistis, gemar membandingkan diri, mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat pada hobi, terlalu kritis pada diri sendiri, serta perubahan pola makan dan tidur. Tanda-tanda ini sering muncul perlahan dan tidak selalu disadari oleh orang yang mengalaminya.

Apakah orang yang tidak bahagia pasti mengalami depresi?

Tidak selalu, karena ketidakbahagiaan dan depresi adalah dua hal berbeda meski bisa saling berkaitan. Sebagaimana dikutip dari Psychology Today, depresi ditandai dengan perasaan tidak berdaya, putus asa, dan merasa tidak berharga, sehingga rasa tidak bahagia yang dibiarkan berlarut sebaiknya tidak diabaikan dan perlu penanganan profesional bila memberat.

Bagaimana cara membantu orang yang terlihat tidak bahagia?

Dekati dengan empati tanpa menghakimi, tawarkan kesediaan untuk mendengarkan, dan hindari memaksa mereka bercerita. Ajak melakukan aktivitas ringan bersama, dukung mereka menjaga hubungan sosial, serta sarankan bantuan profesional jika kondisinya tampak berat dan berkepanjangan.

Pada akhirnya, mengenali kebiasaan orang yang tidak bahagia adalah undangan untuk lebih berempati, bukan untuk memberi label. Dengan kepekaan itu, kita bisa lebih peduli kepada orang terdekat sekaligus jujur melakukan refleksi diri, sebab langkah kecil yang konsisten sering kali menjadi awal dari hidup yang lebih ringan, tenang, dan bermakna, sebagaimana kebahagiaan yang menjadi bagian penting dari kesehatan mental.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.