Harga Makin 'Digoreng', Ternyata Ini Alasan Kaset Pita Lawas Tetap Laris di Jogja
Hari Susmayanti August 08, 2026 11:02 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah gempuran layanan streaming musik dan kepraktisan era digital, sebuah toko di Yogyakarta justru sibuk menghidupkan kembali ekosistem kaset pita dan pemutar musik analog.

Dcell Jogja Store yang dikelola oleh Adi, menjadi bukti nyata bagaimana tren analog yang sempat meredup kini kembali populer dan diburu banyak orang.

Usaha yang berawal dari sekadar hobi mengumpulkan koleksi pribadi enam hingga tujuh tahun lalu ini, perlahan menjadi jujugan utama bagi para penikmat musik yang merindukan format fisik.

Menariknya, momentum puncak penjualan barang-barang analog ini justru terjadi pascapandemi COVID-19.

Ketika banyak orang terisolasi di rumah, mendengarkan musik melalui Walkman atau tape menjadi salah satu pelarian yang paling diminati.

Tren yang awalnya dipelopori oleh komunitas di ibu kota ini perlahan merambat, membawa gelombang nostalgia yang menguntungkan bagi para kolektor sekaligus penjual seperti Adi.

Merawat Mesin Tua

(682026) - Boombox lawas
Deretan mesin pemutar kaset atau boombox lawas dari berbagai merek dan warna terpajang rapi menghiasi dinding.

Tingginya antusiasme pembeli pada akhirnya menuntut Adi untuk tidak sekadar berdagang, tetapi juga turut merawat mesin-mesin lawas.

Keunikan utama dari operasional Dcell Jogja Store terletak pada dedikasi Adi dalam mempertahankan nyawa setiap unit Walkman maupun discman yang ia jual.

Barang-barang ini membutuhkan perawatan ekstra sebelum bisa berpindah tangan ke konsumen.

Masalah terbesarnya sangat jelas, suku cadang original untuk mesin-mesin tua ini sudah jarang ada di pasaran.

"Sebenernya dibilang susah ya emang susah mas karena kan udah nggak diproduksi lagi (sparepart) ya," ungkap Adi.

Solusi yang temukan Adi terbilang penuh dedikasi, tak jarang ia harus mempraktikkan 'kanibal' komponen dari unit yang sudah rusak.

Bahkan, untuk onderdil yang telanjur aus, Adi membuat sendiri gir maupun karet roller pengganti agar perputaran mesin tetap akurat saat memutar pita kaset.

Setiap perangkat, terutama yang akan dikirim ke pembeli di luar Yogyakarta, harus melalui tahap pengujian fungsi selama setengah hingga satu hari penuh demi memastikan mesin berjalan normal.

Di tengah kesibukan mengurus mesin-mesin lawas tersebut, Adi tak jarang dibantu oleh sang adik, Irfan, yang sesekali datang ke toko.

"Nek selo mawon sih, Mas." ungkapnya.

Irfan diketahui juga mengoleksi sejumlah kaset fisik, salah satunya dari band legendaris Nirvana.

Baca juga: Ketindihan Saat Tidur? Ternyata Begini yang Terjadi pada Otak dan Tubuh

Melawan Arus Digital 

Deretan kaset pita lawas tersusun memenuhi rak ini dibanderol mulai dari Rp30.000.
Deretan kaset pita lawas tersusun memenuhi rak ini dibanderol mulai dari Rp30.000.

Di luar aspek reparasi, fenomena psikologis dari para pembeli rilisan fisik ini punya daya tarik tersendiri.

Menurut Adi, format analog menawarkan karakter suara yang lebih jernih, detail, dan awet dibandingkan kualitas audio modern yang dinilainya terlalu digital.

Namun, di luar dari sekadar kualitas suara, ada semacam ritual magis yang diburu pembeli.

Memasukkan kaset ke dalam dek, menekan tombol play, hingga memandangi sampul album fisik memberikan ikatan emosional dan bukti support penggemar terhadap sebuah band.

Suasana yang tidak bisa didapatkan jika hanya mendengar lewat layar sentuh ponsel pintar.

Perangkat vintage dari Dcell ini pun kerap menarik perhatian industri kreatif, bahkan sempat disewa sebagai properti syuting video klip artis.

Tingginya minat pasar tersebut memicu fenomena yang disebut "kaset digoreng", di mana harga kaset pita langka sengaja dilambungkan tinggi.

Meskipun harga kaset di tokonya dimulai dari Rp 30.000 dan unit Walkman berada di kisaran Rp 200.000 hingga lebih dari Rp 400.000, inflasi harga di pasar kolektor nyatanya tidak menyurutkan minat konsumen sama sekali.

Tingginya harga seolah bukan penghalang bagi mereka yang fanatik terhadap musik.

"Modal 100 dijual 300 ada yang beli. Soale ya itu, apa namanya, mereka itu nggak perduli apa namanya barangnya, yang penting itu dia kepuasan batin e itu lho mas," jelas Adi.

Eksistensi Dcell Jogja Store pada akhirnya membuktikan satu hal, secanggih apa pun algoritma musik digital, tidak akan mampu menggantikan sensasi menggenggam sebuah karya fisik.

Pada titik ini, kepuasan batin tetap menjadi komoditas termahal yang tidak pernah bisa diunduh, apalagi tergerus oleh zaman.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.