Tiga Jembatan dari Minahasa dalam Perjalanan Prof JJ
Sudirman August 08, 2026 11:05 AM

Oleh: Supratman

Kepala Pusat Studi Kawasan Asia Barat dan Asia Tengah, Universitas Hasanuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - ADA pertemuan yang berlangsung melalui percakapan dan jabat tangan, tetapi ada pula persentuhan yang bekerja melalui darah keluarga, warisan kelembagaan, serta kepercayaan profesional yang ditanamkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam perjalanan Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.—akrab disapa Prof. JJ—tiga tokoh nasional berdarah Minahasa hadir melalui tiga jalur berbeda.

Dr. Arnold Achmad Baramuli melalui pertautan akar tradisi dan budaya Pattinjo, Arnold Mononutu melalui kesinambungan sejarah kepemimpinan Universitas Hasanuddin, dan Tony Wenas melalui hubungan profesional dalam Majelis Wali Amanat Unhas.

Ketiganya tidak hadir pada ruang dan waktu yang sama, bahkan bentuk persentuhannya pun berbeda, tetapi masing-masing seperti membangun sebuah jembatan yang mempertemukan Minahasa, Pinrang, Makassar, dan Indonesia dalam perjalanan seorang ilmuwan kelautan menuju pucuk kepemimpinan Unhas.

Dr. Arnold Achmad Baramuli: Pertemuan Minahasa dan Rumpun Pattinjo dalam Satu Riwayat

Nama Arnold Achmad Baramuli selalu mengingatkan orang pada tokoh politik nasional yang kuat, berani, dan memiliki jaringan luas, tetapi jauh sebelum dikenal di Jakarta, jejak kehidupannya bermula di Pinrang, Sulawesi Selatan.

Baramuli lahir di Pinrang pada 20 Juli 1930 dari keluarga yang mempertemukan dua latar kebudayaan, yakni ayah berdarah Minahasa dan ibu yang berasal dari lingkungan masyarakat Bugis di Pinrang.

Ayahnya, Julius Baramuli, berasal dari Minahasa, sedangkan ibunya, Adolfina La Roempoeh—yang lebih dikenal sebagai Ibu Pole—berasal dari Letta, sebuah kawasan pegunungan bersejarah di Pinrang Utara.

Sejumlah riwayat menyebut Baramuli sebagai keturunan Raja Letta dari garis ibunya, sementara garis ayahnya menghubungkan dirinya dengan masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara.

Perjumpaan dua garis kebudayaan itulah yang menjadikan Baramuli bukan hanya milik Minahasa ataupun Pinrang, melainkan figur Sulawesi yang tumbuh dari kekayaan identitas lintas daerah.

Hubungannya dengan Prof. JJ pertama-tama dapat dibaca melalui akar keluarga dan kedekatan kultural tersebut karena ibu Prof. JJ berasal dari Batulappa, tepatnya Bulisu, wilayah yang berbatasan langsung dengan Letta, kampung asal ibu Baramuli.

Bulisu dan Letta memang merupakan dua wilayah dengan nama berbeda, tetapi masyarakat keduanya menuturkan bahasa Pattinjo serta tumbuh dari rumpun tradisi dan kebudayaan yang sama.

Dengan demikian, Baramuli dan Prof. JJ layak disebut sebagai putra Pinrang dalam pengertian kebudayaan: Baramuli dilahirkan di Pinrang dan mewarisi darah Letta dari garis ibu, sedangkan Prof. JJ mewarisi akar kekeluargaan Batulappa (Bulisu) dari ibunya.

Dalam cerita keduanya, Letta dan Bulisu bukan sekadar dua nama wilayah di peta, melainkan ruang kultural Pattinjo yang menanamkan keteguhan, kemampuan bertahan, keberanian merantau, serta kesetiaan kepada keluarga dan tanah asal.

Karier Baramuli bergerak dengan cepat sejak ia menjadi jaksa, kemudian Kepala Kejaksaan Makassar, Jaksa Tinggi Militer Indonesia Timur, hingga pada usia 29 tahun dipercaya Presiden Soekarno menjadi Gubernur Sulawesi Utara–Tengah pada 1960.

Ia kemudian menjadi anggota DPR, tokoh penting Golkar, salah seorang anggota pertama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan mencapai posisi Ketua Dewan Pertimbangan Agung pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.

Jalan hidup Baramuli memperlihatkan bahwa identitas daerah tidak harus membatasi ruang pengabdian seseorang karena seorang anak yang lahir dari persentuhan Letta dan Minahasa dapat tumbuh menjadi tokoh nasional.

Di titik inilah persentuhan Baramuli dan Prof. JJ memperoleh makna simboliknya: keduanya sama-sama memperlihatkan kemampuan seorang putra daerah bergerak dari tepian geografis menuju pusat-pusat pengambilan keputusan nasional.

Jika Baramuli menjadi jembatan Minahasa–Letta dalam politik dan pemerintahan, Prof. JJ meneruskan semangat lintas batas itu dari akar Batulappa (Bulisu) melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi.

Arnold Mononutu: Pendahulu dari Minahasa di Kursi Rektor Unhas

Persentuhan kedua tidak berlangsung melalui hubungan keluarga, tetapi melalui sebuah kursi yang menyimpan ingatan panjang: kursi Rektor Universitas Hasanuddin.

Jauh sebelum Prof. JJ memimpin Unhas, Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu telah menduduki jabatan yang sama sebagai Rektor Unhas ketiga pada periode 1960–1965, sebagaimana tercatat dalam sejarah resmi Universitas Hasanuddin.

Mononutu lahir di Manado pada 4 Desember 1896 dan tumbuh sebagai seorang putra Minahasa yang kemudian terlibat dalam pergulatan besar pembentukan identitas kebangsaan Indonesia.

Saat belajar di Belanda, ia aktif dalam Perhimpunan Indonesia dan berinteraksi dengan para mahasiswa nasionalis, termasuk Mohammad Hatta, yang sedang membangun gagasan mengenai Indonesia sebagai bangsa merdeka.

Sepulang ke Tanah Air, Mononutu tidak hanya bergerak sebagai politikus, tetapi juga menjalankan berbagai tugas kenegaraan sebagai Menteri Penerangan, anggota Konstituante, dan Duta Besar pertama Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok.

Atas perjuangan dan pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Arnold Mononutu pada 2020, sebagaimana dicatat dalam publikasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Ketika Presiden Soekarno mempercayakan kepemimpinan Unhas kepadanya, Mononutu membawa pengalaman seorang diplomat, nasionalis, dan negarawan ke dalam universitas yang ketika itu masih sangat muda.

Ia memimpin Unhas pada masa penuh pergolakan, ketika perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan sarjana, tetapi juga harus mengambil bagian dalam konsolidasi negara yang baru merdeka.

Mononutu memahami universitas sebagai institusi kebangsaan yang tidak boleh terkurung di dalam ruang kuliah karena ilmu pengetahuan harus berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan masa depan Indonesia.

Lebih dari enam dasawarsa kemudian, Prof. JJ memasuki ruang sejarah yang sama ketika dilantik menjadi Rektor Unhas pada 2022 dan kembali dipercaya memimpin untuk periode 2026–2030.

Keduanya tentu hidup dalam zaman yang berbeda karena Mononutu memimpin ketika Indonesia sedang memperkukuh fondasi kebangsaannya, sedangkan Prof. JJ memimpin ketika perguruan tinggi berhadapan dengan internasionalisasi, transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, dan persaingan ilmu pengetahuan global.

Namun, terdapat garis yang menyambungkan keduanya, yakni keyakinan bahwa Unhas harus menjadi kekuatan penting bagi Indonesia Timur sekaligus mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan nasional dan dunia.

Mononutu membawa cakrawala diplomasi internasional ke Unhas, sementara Prof. JJ memperluas jejaring kampus melalui kolaborasi penelitian global, khususnya dalam ilmu kelautan, perikanan, biodiversitas, dan keberlanjutan lingkungan.

Sebagai guru besar biologi dan ekologi laut, Prof. JJ menempuh pendidikan magister di McMaster University, Kanada, dan pendidikan doktoral di James Cook University, Australia, sebelum mengembangkan reputasinya sebagai ilmuwan terumbu karang dan pengelolaan ekosistem laut, sebagaimana dicatat dalam profil resmi Rektor Unhas.

Dengan demikian, persentuhan Mononutu dan Prof. JJ bersifat historis-institusional: seorang putra Minahasa meletakkan jejak kepemimpinan pada masa awal Unhas, kemudian jejak itu dilanjutkan oleh seorang putra Sulawesi yang memiliki akar keluarga di Batulappa (Bulisu).

Bila Mononutu membantu membawa Unhas memasuki panggung kebangsaan, Prof. JJ memikul tanggung jawab untuk membawa universitas itu semakin jauh ke panggung ilmu pengetahuan dunia.

Tony Wenas: Kepercayaan Profesional dan Harmoni Kepemimpinan

Jika Baramuli hadir melalui akar keluarga dan Mononutu melalui warisan sejarah, maka Tony Wenas hadir secara langsung dalam ruang profesional yang mengiringi kepemimpinan Prof. JJ.

Tony Wenas merupakan putra Minahasa yang dikenal sebagai eksekutif nasional, musisi, dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia sejak Desember 2018.

Sebelum memimpin Freeport Indonesia, ia pernah memegang sejumlah posisi penting di sektor pertambangan, antara lain sebagai Presiden dan CEO PT Vale Indonesia, Country Head Intrepid Mines Indonesia, serta Presiden PT Berkat Resources Indonesia.

Hubungannya dengan Unhas menjadi semakin penting ketika ia dipercaya menjadi anggota Majelis Wali Amanat dari unsur masyarakat, sebagaimana tercantum dalam profil MWA Universitas Hasanuddin.

MWA bukan sekadar forum seremonial, melainkan organ tertinggi dalam struktur perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang berperan menetapkan kebijakan umum, mengawasi pengelolaan universitas, dan memilih rektor.

Karena itu, kehadiran Tony Wenas di dalam MWA menempatkannya pada ruang strategis yang bersentuhan langsung dengan perjalanan kepemimpinan Prof. JJ.

Pada pemilihan Rektor Unhas periode 2026–2030, Prof. JJ meraih 23 dari 24 suara anggota MWA yang memiliki hak pilih, sebuah kemenangan yang menunjukkan sangat kuatnya kepercayaan internal dan eksternal terhadap kepemimpinannya, sementara Tony Wenas tercatat sebagai salah seorang anggota MWA dari unsur masyarakat dalam proses tersebut.

Namun, andil Tony Wenas tidak tepat dipersempit hanya pada persoalan suara karena dukungan profesional juga terwujud melalui kehadirannya dalam kegiatan akademik, penguatan jejaring dunia usaha, serta upaya mendekatkan mahasiswa Unhas kepada pengalaman kepemimpinan industri nasional.

Pada September 2023, misalnya, Tony Wenas hadir dalam kegiatan “CEO Talk: Memimpin di Era Perubahan” di Unhas untuk membagikan pengalaman mengenai kerja keras, adaptasi, integritas, disiplin, dan ketulusan kepada mahasiswa.

Persentuhan personal dan profesional itu kembali terlihat ketika Tony Wenas menghadiri pelantikan Prof. JJ untuk periode kedua pada 27 April 2026 dan memainkan piano sambil membawakan lagu We Are the Champions.

Bagi Tony, lagu tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan pesan bahwa capaian besar lahir dari ketekunan, kerja keras, dan kolaborasi.

Sementara bagi Prof. JJ, penampilan itu menjadi simbol kepercayaan sekaligus dorongan moral ketika memulai periode kedua kepemimpinannya, sebagaimana dilaporkan Universitas Hasanuddin.

Tony Wenas membawa pengalaman mengelola perusahaan berskala global, sedangkan Prof. JJ memimpin universitas yang sedang memperkuat inovasi, hilirisasi penelitian, jejaring internasional, dan kontribusi terhadap pembangunan nasional.

Pertemuan keduanya memperlihatkan bahwa universitas dan dunia industri tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri karena ilmu pengetahuan membutuhkan ruang penerapan, sedangkan industri memerlukan riset, inovasi, sumber daya manusia, serta pertimbangan etis dari perguruan tinggi.

Dalam hubungan itulah Tony Wenas ikut menopang perjalanan profesional Prof. JJ, bukan sebagai orang yang menentukan kariernya seorang diri, melainkan sebagai mitra strategis, anggota lembaga pengawas universitas, pembawa jejaring nasional, dan salah satu unsur kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Unhas.

Tiga Tokoh, Tiga Jalan, Satu Pertemuan Besar

Arnold Achmad Baramuli, Arnold Mononutu, dan Tony Wenas datang dari zaman serta medan pengabdian yang berlainan, tetapi ketiganya memperlihatkan watak yang hampir sama: bergerak melampaui batas daerah tanpa memutuskan hubungan dengan akar kebudayaannya.

Baramuli menghadirkan persentuhan genealogis Minahasa–Letta sekaligus hubungan kultural dengan Prof. JJ melalui akar Pattinjo yang juga menaungi Batulappa (Bulisu), Mononutu meninggalkan warisan historis seorang putra Minahasa di kursi Rektor Unhas, sedangkan Tony Wenas memperkuat hubungan profesional yang menopang kepemimpinan Prof. JJ pada masa kini.

Ketiga hubungan tersebut dapat diringkas sebagai tiga lapisan perjalanan: akar yang membentuk identitas, sejarah yang menyediakan teladan, dan kepercayaan profesional yang membuka jalan menuju masa depan.

Di tengah ketiga lapisan itu berdiri Prof. Jamaluddin Jompa, seorang ilmuwan kelautan berakar Batulappa (Bulisu) dalam rumpun Pattinjo yang tumbuh bersama Unhas, menimba pengalaman dari dunia internasional, kemudian kembali untuk memimpin universitas tempat perjalanan intelektualnya bermula.

Kisah ini pada akhirnya bukan hanya mengenai hubungan Prof. JJ dengan tiga tokoh Minahasa, melainkan cerita tentang bagaimana Sulawesi tidak pernah benar-benar terbelah oleh batas provinsi.

Dari pegunungan Letta dan Batulappa ke tanah Minahasa, dari Manado ke Makassar, dan dari ruang kuliah ke panggung nasional, selalu ada manusia, gagasan, serta kepercayaan yang menghubungkan satu tepian dengan tepian lainnya.

Baramuli memberikan akar, Mononutu meninggalkan jejak, Tony Wenas memperkuat kepercayaan, dan Prof. JJ melanjutkan perjalanan itu menuju cakrawala baru Universitas Hasanuddin.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.