TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners, mengapa Primbon Jawa membedakan makna sakit berdasarkan hari?
Dalam tradisi Jawa, hari pertama seseorang jatuh sakit dipercaya bukan sekadar penanda waktu.
Setiap hari memiliki tafsir yang berbeda.
Ada yang dikaitkan dengan bagian tubuh tertentu.
Ada pula yang dipercaya menunjukkan asal mula penyakit.
Kepercayaan tersebut tercatat dalam berbagai naskah Primbon Jawa dan menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa memahami kesehatan pada masa lalu.
Lalu, bagaimana jika seseorang mulai sakit pada hari Selasa?
Dilansir dari kajian ilmiah Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa karya Bani Sudardi, masyarakat Jawa memiliki sistem tersendiri untuk membaca penyakit.
Salah satunya melalui perhitungan hari dan pasaran ketika seseorang pertama kali mengalami sakit.
Perhitungan tersebut bukan digunakan untuk memastikan diagnosis penyakit seperti dalam ilmu kedokteran modern.
Sebaliknya, cara itu menjadi bagian dari usaha masyarakat Jawa memahami sesuatu yang pada masa itu belum dapat dijelaskan secara ilmiah.
Berikut neptu hari dan pasaran menurut Primbon Jawa:
Minggu = 5
Senin = 4
Selasa = 3
Rabu = 7
Kamis = 8
Jumat = 6
Sabtu = 9
Sementara itu, nilai neptu pasaran terdiri dari:
Kliwon = 8
Legi = 5
Pahing = 9
Pon = 7
Wage = 4
Hari Selasa Dikaitkan dengan Hidung
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Primbon Jawa mengenal konsep lenggahipun dinten atau tempat duduk penyakit.
Konsep ini menghubungkan hari pertama seseorang jatuh sakit dengan bagian tubuh tertentu.
Jika penyakit mulai dirasakan pada hari Selasa, bagian tubuh yang dikaitkan adalah hidung.
Sekilas hal ini mungkin terdengar membingungkan.
Mengapa harus hidung?
Kajian Bani Sudardi tidak menjelaskan alasan khusus mengapa hari Selasa dikaitkan dengan bagian tubuh tersebut.
Namun, catatan itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa tempo dulu telah berusaha membuat pola untuk memahami penyakit berdasarkan pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun.
Dengan kata lain, setiap hari dipercaya memiliki "tempat duduk" penyakit yang berbeda.
Hari Senin dikaitkan dengan telinga.
Hari Selasa dikaitkan dengan hidung.
Sementara hari-hari berikutnya dihubungkan dengan bagian tubuh lainnya.
Cara berpikir tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa tidak memandang penyakit sebagai sesuatu yang terjadi secara acak.
Mereka berusaha mencari pola agar lebih mudah memahami apa yang sedang dialami seseorang.
Penyebab Penyakit Menurut Primbon Jawa
Tak berhenti pada bagian tubuh.
Primbon Jawa juga memberikan tafsir mengenai penyebab penyakit.
Dilansir dari kajian ilmiah yang sama, seseorang yang mulai sakit pada hari Selasa dipercaya mengalami penyakit akibat perbuatan jahat orang lain atau dalam Primbon dikenal sebagai guna-guna.
Kepercayaan ini tentu lahir dari cara pandang masyarakat Jawa pada masa lalu.
Saat itu, hubungan manusia dengan alam dan kehidupan spiritual dianggap saling berkaitan.
Karena itulah, tidak semua penyakit dipahami berasal dari kondisi fisik.
Sebagian penyakit dipercaya berkaitan dengan hal-hal yang tidak kasatmata.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari sistem pengetahuan masyarakat Jawa pada zamannya.
Berbeda dengan masa kini, ketika penyebab penyakit dapat diketahui melalui pemeriksaan medis dan penelitian ilmiah.
Meski demikian, keberadaan tafsir tersebut menunjukkan bagaimana leluhur Jawa berusaha mencari penjelasan terhadap berbagai peristiwa yang mereka alami.
Mengapa Orang Jawa Membuat Tafsir Seperti Ini?
Tribunners, bayangkan hidup pada masa ketika rumah sakit belum mudah dijangkau.
Obat-obatan modern juga belum tersedia.
Ketika seseorang tiba-tiba jatuh sakit, tentu muncul banyak pertanyaan.
Apa penyebabnya?
Mengapa bisa terjadi?
Bagaimana cara menyembuhkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong masyarakat Jawa menyusun berbagai pengetahuan berdasarkan pengalaman hidup.
Apa yang sering mereka temui kemudian dicatat.
Apa yang dipercaya berulang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lama-kelamaan, pengetahuan tersebut menjadi bagian dari Primbon Jawa.
Karena itulah, Primbon bukan sekadar kumpulan ramalan.
Di dalamnya juga terdapat cara masyarakat Jawa membaca kesehatan, alam, dan kehidupan.
Pengobatan Tidak Hanya Mengandalkan Jamu
Dilansir dari kajian ilmiah Bani Sudardi, Primbon Jawa juga mencatat berbagai cara pengobatan tradisional.
Jamu memang menjadi metode yang paling dikenal.
Namun, masyarakat Jawa juga mengenal boreh, parem, pilis, dan tapel sebagai pengobatan luar.
Ada pula cekok yang diberikan dengan cara diminum.
Dalam kondisi tertentu dikenal juga suwuk.
Metode ini menggunakan doa sebagai bagian dari ikhtiar penyembuhan.
Selain itu, terdapat tebusan atau kenduri yang dilakukan sesuai tradisi masyarakat pada masa itu.
Beragam cara tersebut menunjukkan bahwa proses penyembuhan dipandang tidak hanya berfokus pada tubuh.
Masyarakat Jawa juga memperhatikan keseimbangan hidup menurut keyakinan yang berkembang saat itu.
Kini, ilmu kedokteran telah berkembang sangat pesat.
Penyebab penyakit dapat diketahui melalui berbagai pemeriksaan medis.
Pengobatan pun dilakukan berdasarkan penelitian yang terus berkembang.
Sementara itu, tafsir dalam Primbon Jawa dapat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya yang mencerminkan cara berpikir masyarakat Jawa pada masanya.
Bukan untuk menggantikan penjelasan medis.
Melainkan untuk memahami bagaimana leluhur berusaha menjawab pertanyaan tentang kesehatan dengan pengetahuan yang mereka miliki.
Tribunners, setiap budaya memiliki caranya sendiri dalam memaknai kehidupan.
Begitu pula masyarakat Jawa yang meninggalkan berbagai catatan dalam Primbon.
Semoga pengetahuan ini dapat menambah wawasan sekaligus memperkaya cara pandang Tribunners terhadap warisan budaya Nusantara.
Dan yang terpenting, apabila mengalami keluhan kesehatan, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Tribunners, apakah di keluarga atau daerahmu masih ada yang memperhatikan hari pertama sakit seperti dalam Primbon Jawa?
Yuk, ceritakan pengalaman atau pendapatmu di kolom komentar!
(MG Natasya Aulia)