Aksara Menjaga Kenduri Blang
Ansari Hasyim August 08, 2026 04:03 PM

Oleh: M. Zubair*)

SORE itu langit di atas Desa Reulet berwarna jingga. Rizal duduk di beranda rumah kakeknya sambil memandangi hamparan sawah yang membentang di kejauhan. Angin sepoi-sepoi berembus pelan membawa aroma jerami padi yang baru selesai di panen serta suara burung-burung pipit yang pulang ke sarang.

Sudah hampir lima tahun ia meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan kuliah di Kota Metropolitan Medan. Selama itu pula ia jarang mengikuti kegiatan adat di desanya.

Baginya, kehidupan kota yang serba cepat terasa lebih menarik dibanding kisah-kisah lama tentang sawah dan tradisi yang kerap disampaikan para tetua di desanya.

Namun kepulangannya kali ini menghadirkan perasaan berbeda. Di sepanjang perjalanan menuju kampung, ia melihat banyak perubahan.

Beberapa petak sawah yang dahulu hijau kini telah berubah menjadi bangunan permanen. Sebagian lagi menjadi kompleks perumahan. Jalan-jalan baru membelah areal pertanian yang dulu menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Baca juga: Mengais di Tanah Bekas Perang

“Setiap tahun areal sawah kita semakin berkurang,” kata neneknya ketika mereka menikmati kopi sore.

Rizal hanya mengangguk.

“Bukan hanya sawah yang hilang,” lanjut sang nenek pelan. “Anak-anak muda sekarang juga mulai melupakan adat dan budaya kampung.”

Kalimat itu terus terngiang dalam benaknya.

Keesokan harinya, Rizal mengunjungi Meunasah Desa. Di sana beberapa pemuda sedang berbincang tentang rencana Kenduri Blang yang akan dilaksanakan minggu depan.

“Apa sebenarnya Kenduri Blang itu?” tanya seorang remaja.

“Bukankah cuma acara makan-makan sebelum turun ke sawah?” sahut yang lain.

Rizal terkejut mendengar percakapan tersebut.

Sebagai orang Aceh, mereka bahkan tidak memahami makna tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka.

Malam harinya, Rizal mencoba mencari informasi tentang Kenduri Blang melalui internet. Ia berharap menemukan banyak tulisan yang menjelaskan sejarah dan makna tradisi tersebut.

Namun hasil pencariannya membuatnya kecewa.

Tulisan yang tersedia sangat sedikit. Sebagian hanya menjelaskan secara singkat tanpa menggambarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Saat itulah sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.

“Jika generasi tua sudah tiada, lalu siapa yang akan menceritakan Kenduri Blang kepada anak cucu nanti?”

Pertanyaan itu membuatnya sulit tidur.

Beberapa hari kemudian, Rizal mendatangi rumah Teungku Ismail, salah seorang tokoh agama sekaligus sesepuh adat yang paling dihormati di desa tersebut.

Rumah kayu sederhana itu berdiri di tepi persawahan.

“Assalamualaikum sapa Rizal, dari luar rumah Teungku Ismail.”  “Waalaikumsalam jawab seorang lelaki dari dalam”. 

Pintu dibuka perlahan, Teungku Ismail tampak terekejut melihat Rizal yang sudah lama tidak pulang ke kampung halaman. 

“Masuklah, Rizal,” ujarnya sambal tersenyum.

Senyum simpul juga terpancar dari wajah Rizal sambil menyampaikan maksud kedatangannya.

Ia ingin mengetahui sejarah Kenduri Blang.

Wajah Teungku Ismail tampak berbinar.

“Sudah lama tidak ada anak muda yang datang untuk menanyakan hal seperti ini.”

Teungku Ismail kemudian masuk ke sebuah kamar, dan kembali membawa sebuah peti kayu tua.

Peti itu tampak kusam dimakan usia.

Dengan hati-hati ia membukanya.

Di dalamnya tersimpan beberapa buku catatan yang telah menguning.

“Ini peninggalan ayah saya,” katanya.

Rizal membuka salah satu buku tersebut.

Tulisan tangan beraksara latin memenuhi halaman-halamannya yang rapuh.

Di sana tercatat sejarah Kenduri Blang, nama-nama keujruen blang terdahulu, doa-doa yang biasa dibacakan, hingga berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di desa.

Beberapa lembar bahkan hampir hancur dimakan rayap.

Rizal memegang buku itu dengan penuh kehati-hatian.

Ia merasa sedang menyentuh bagian penting dari sejarah desaya.

“Kalau buku ini rusak, bagaimana nanti?” tanyanya.

Teungku Ismail tersenyum pahit.

“Itulah yang sering saya pikirkan, Teungku Ismail menjawab.”

“Apakah tidak ada salinannya?” tanya Rizal antusias.

Teungku menggeleng.

“Belum ada,” Jawabnya.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening.

Kemudian Teungku Ismail berkata pelan,

“Budaya yang tidak ditulis akan mudah dilupakan. Dulu orang tua kita menjaga adat melalui cerita. Sekarang zaman sudah berubah. Jika tidak ditulis dan didokumentasikan, banyak hal akan hilang bersama waktu.”

Kalimat itu menghentak hati Rizal, selaku mahasiswa yang hidup di zaman digital.

Sejak saat itu ia memutuskan melakukan sesuatu.

Ia ingin menulis Kenduri Blang sebelum tradisi itu benar-benar hilang dari ingatan generasi muda yang semakin larut dalam dunia digital dan mulai menjauh dari akar budaya.

Rizal menyadari bahwa sejarah Kenduri Blang harus didokumentasikan secara baik dalam media digital agar generasi muda Aceh bahkan Indonesia dapat mengenal dan memahami warisan budaya yang masih hidup hingga kini.

Selama beberapa hari berikutnya, Rizal berkeliling kampung membawa buku catatan dan kamera. Ia mewawancarai para tetua. Ia juga mencatat cerita-cerita lama yang selama ini hanya hidup dalam ingatan mereka. Lalu Rizal mendokumentasikan berbagai peralatan pertanian tradisional.

Ia memotret pematang sawah, saluran irigasi, dan lokasi-lokasi yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat.

Buku catatannya semakin penuh terisi mengenai sejarah Kenduri Blang. 

Setiap hasil wawancaranya dicatat dengan rapi dalam buku catatan.

Ia tidak ingin satu pun cerita terlupakan.

Baginya, setiap kisah yang disampaikan para tetua adalah bagian dari identitas masyarakat Aceh yang harus dijaga. Dari Teungku Keuchik, Rizal mendengar cerita tentang bagaimana perempuan-perempuan desa bergotong-royong memasak untuk keperluan kenduri. Dari Teungku Ismail ia mengetahui bahwa Kenduri Blang bukan sekadar tradisi pertanian, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT.

Setiap malam, Rizal menyalin hasil wawancaranya ke komputer. Lembar demi lembar mulai terkumpul. Semakin banyak ia menulis, semakin ia menyadari betapa berharganya warisan budaya yang dimiliki desanya.

Ketika hari pelaksanaan Kenduri Blang tiba, Rizal datang lebih awal.

Ditempat pelaksanaan, Rizal menyaksikan para perempuan memasak kuah beulangong yang mengugah selera secara gotong royong. 

Para lelaki menyiapkan tempat pelaksanaan kenduri dengan senang hati semuanya.

Setiap tahapan prosesi pelaksanaan Kenduri Blang tidak ada yang terlewatkan dalam catatan Rizal.

Ia menuliskan makna doa-doa yang dipanjatkan, merekam tawa anak-anak yang berlarian di antara hamparan sawah.

Semua itu bukan sekadar catatan, namun kegiatan yang sarat makna. Rizal juga memotret setiap tahapan pelaksaaan kenduri dengan rapi.

Baginya, itu adalah upaya menyelamatkan ingatan kolektif masyarakatnya.

Menjelang siang, seluruh warga berkumpul di tepi sawah, lalu Teungku Ismalil memimpin doa. Sesuana menjadi hening, semua larut dalam makna doa untuk keberkahan dan keselamatan. Doa-doa yang dipanjatkan adalah untuk keselematan Masyarakat, keberkahan musim tanam, dan hasil panen yang melimpah.

Saat itu Rizal tidak hanya melihat sebuah ritual.

Ia melihat sebuah ikatan yang menyatukan seluruh masyarakat desa.

Sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi

Dalam keheningan, tangan Rizal terus menumpahkan tinta merangkai narasi, tiba-tiba seorang anak kecil menghampirinya.

“Abang sedang menulis apa, tanyanya?”

Rizal tersenyum.

“Saya sedang menulis tentang Kenduri Blang, jawab Rizal.”

“Untuk apa, kembali anak itu bertanya polos?”

“Agar nanti orang-orang tetap bisa mengenalnya, dijawab Rizal tenang.”

Anak itu mengangguk meski tampaknya belum sepenuhnya memahami.

Namun pertanyaan sederhana itu semakin menguatkan tekad Rizal.

Malam harinya, ketika sebagian besar warga telah terlelap, lampu kamar Rizal masih menyala. Jemarinya terus bergerak di atas keyboard komputer.

Ia menulis tanpa henti. Rizal takut jika menunda hingga esok hari, ada cerita yang terlupakan.

Ia takut jika tidak menuliskannya sekarang, satu bagian sejarah desa akan hilang bersama perjalanan waktu.

Hingga menjelang subuh, Rizal terus menulis, tulisan tersebut diberi judul sederhana.

 “Kenduri Blang: Warisan Syukur dan Kebersamaan Masyarakat Aceh.”

Ia menulis tentang sejarah.

Ia menulis tentang nilai gotong royong.

Ia menulis tentang doa, persaudaraan, dan rasa syukur yang menjadi ruh dari tradisi tersebut.

Malam demi malam ia habiskan di depan komputer.

Kadang-kadang ia berhenti sejenak untuk mengingat kembali wajah para tetua yang telah berbagi cerita.

Ia sedang menyelamatkan ingatan masyarakat tentang kebersamaan dalam ikatan persaudaraan melalui pelaksanaan tradisi yang menjadi budaya Aceh.

Suatu malam, ketika sedang menulis, telepon genggamnya berdering.

Kabar yang diterimanya membuat dadanya sesak.

Teungku Ismail jatuh sakit dan harus dirawat.

Rizal segera menjenguknya.

Di ranjang perawatan, lelaki tua itu tersenyum ketika melihat kedatangan Rizal.

“Bagaimana tulisanmu?” tanyanya.

“Sedang saya selesaikan, Teungku.”

“Bagus.”

Teungku Ismail menggenggam tangan Rizal.

“Jangan biarkan cerita kampung kita hilang.”

Air mata Rizal hampir jatuh.

Ia hanya mampu mengangguk.

Sebulan kemudian, tulisannya selesai. Tulisan itu kemudian ia kirimkan ke sebuah surat kabar daerah ternama dan beberapa media daring. Beberapa minggu kemudian, tulisannya diterbitkan. Tulisan tersebut tidak hanya dibaca oleh masyarakat Aceh, tetapi juga oleh mahasiswa, peneliti, dan pelajar dari berbagai daerah.

Banyak yang baru mengetahui makna Kenduri Blang setelah membaca tulisannya. Dimana dalam tulisan tersebut Kenduri Blang dimaknai sebagai kenduri atau upacara adat yang dilakukan ketika akan mulai turun ke sawah pada musim tanam dengan semangat gotong royong yang tinggi serta memanjatkan doa untuk keberkahan hasilnya.

Respon pun yang datang di luar dugaannya.

Banyak mahasiswa, guru, dan pelajar menghubunginya.

Mereka mengaku baru memahami makna Kenduri Blang setelah membaca tulisannya.

Rizal merasa haru.

Apa yang awalnya hanya sebuah kegelisahan kini berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Enam bulan kemudian, Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten mengadakan diskusi budaya.

Rizal diundang untuk berbicara.

Di hadapannya duduk puluhan pelajar.

Ia menceritakan pengalamannya mendokumentasikan Kenduri Blang.

Ketika sesi tanya jawab berlangsung, seorang siswa sekolah dasar mengangkat tangan.

“Bang Rizal, saya tahu Kenduri Blang dari tulisan abang.”

Rizal tersenyum.

“Bagaimana menurutmu, tanya Rizal bangga.”

“Saya ingin melihatnya langsung tahun depan.”

Jawaban itu membuat hatinya lega.

Ia teringat pada Teungku Ismail.

Ia teringat pada buku-buku tua yang hampir dimakan rayap.

Ia teringat pada sawah-sawah yang perlahan berkurang

Mungkin ia tidak bisa menghentikan perubahan zaman.

Mungkin ia tidak bisa mengembalikan semua sawah yang telah hilang.

Namun setidaknya ia bisa melakukan satu hal.

Ia bisa menjaga ingatan.

Sore itu Rizal kembali berdiri di tepi sawah.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.

Hamparan padi bergoyang diterpa angin.

Ia membuka buku catatannya yang kini telah penuh dengan kisah dan sejarah kampung.

Di halaman terakhir ia menulis sebuah kalimat:

"Sawah menjaga padi, tetapi literasi menjaga ingatan."

Ia menatap hamparan sawah yang membentang di hadapannya.

Kini ia memahami bahwa merawat budaya tidak selalu harus dilakukan dengan hal-hal besar.

Kadang-kadang, merawat budaya cukup dimulai dengan mendengarkan.

Mencatat.

Menulis.

Lalu menceritakannya kembali kepada dunia.

Karena budaya yang dijalankan akan tetap hidup pada zamannya.

Saat itulah Rizal menyadari sesuatu. Budaya memang dijaga melalui pelaksanaan tradisi. Namun budaya akan hidup lebih lama ketika dituliskan.

Sawah menjaga padi. Sementara literasi menjaga ingatan. Dan selama masih ada orang-orang yang mau menulis, membaca, dan menceritakan kembali warisan leluhur, budaya Aceh akan tetap hidup, melintasi zaman dan generasi.

Di bawah langit Aceh yang mulai memerah menjelang malam, Teungku Ismail yakin bahwa selama generasi muda seperti Rizal masih mau belajar dan menghargai leluhur, Kenduri Blang tidak akan pernah benar-benar hilang.

Ia akan terus hidup dalam doa-doa para petani, dalam langkah-langkah petani yang menapaki pematang sawah, dan dalam hati masyarakat yang memahami arti syukur, gotong royong, serta cinta kepada tanah kelahirannya.(*)

*) PENULSI adalah cerpenis, pegiat literasi dan pemerhati sosial dan pembangunan daerah

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.