NEGARA, TRIBUN-BALI.COM – Nelayan asal Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Bali yang bernama Asmuri (43), yang diduga jatuh ke laut saat melaut hingga kini belum ditemukan.
Tim SAR Gabungan Jembrana telah melakukan pencarian selama tujuh hari, namun keberadaan korban masih belum diketahui.
Operasi pencarian terhadap Asmuri resmi ditutup pada Jumat 7 Agustus 2026 setelah memasuki hari ketujuh.
Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, terutama nelayan dan masyarakat di sekitar wilayah perairan Jembrana.
Pada hari terakhir pencarian, Tim SAR Gabungan melakukan penyisiran di perairan Yeh Sumbul hingga Medewi menggunakan rubber boat.
Selain itu, penyisiran juga dilakukan melalui jalur darat di sepanjang pantai yang berada di sekitar lokasi korban diduga jatuh ke laut.
Baca juga: 54 Hewan Positif Rabies di Jembrana Bali, Desa Diminta Perbarui Data HPR, Cegah Penyebaran Virus
Tim SAR juga melakukan penyebaran informasi atau Mapel kepada sejumlah pihak terkait, termasuk Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi serta VTS Benoa.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas informasi terkait keberadaan korban di wilayah perairan yang lebih luas.
Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan SAR Jembrana, Dewa Putu Hendri Gunawan, mengatakan pencarian hingga hari ketujuh belum membuahkan hasil.
"Sampai sore ini di hari ke-7 masih belum membuahkan hasil," kata Dewa Putu Hendri Gunawan saat dikonfirmasi, Jumat 7 Agustus 2026.
Menurut Dewa Hendri, penghentian operasi pencarian dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), yakni pencarian dilakukan selama tujuh hari sejak korban dilaporkan hilang.
Setelah operasi pencarian resmi ditutup, kegiatan selanjutnya beralih menjadi pemantauan.
Meski demikian, informasi dari masyarakat dan nelayan tetap diharapkan apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Jika nantinya ditemukan informasi atau tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan Asmuri, operasi pencarian dan pertolongan dapat kembali dibuka untuk mendukung proses evakuasi.
"Kami juga sudah berpeean ke semua rekan nelayan serta masyarakat jika memang ada tanda-tanda temuan korban bisa segera dilaporkan untuk segera ditindaklanjuti," tandasnya.
Asmuri (43), warga Banjar Persinggahan, Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, dilaporkan hilang saat melaut di perairan Pantai Medewi pada Sabtu (1/8/2026) dini hari.
Peristiwa tersebut diketahui ketika rekan sesama nelayan sedang mencari ikan di sekitar perairan Pantai Medewi sekitar pukul 01.00 WITA.
Saat itu, seorang nelayan menemukan kapal milik Asmuri mengapung di tengah laut.
Kondisi kapal saat ditemukan masih dalam keadaan mesin menyala.
Namun, Asmuri tidak berada di atas kapal.
Rekan-rekan korban kemudian berupaya melakukan pencarian di sekitar lokasi kapal ditemukan.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga akhirnya kejadian dilaporkan kepada Tim SAR.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Asmuri sebelumnya berangkat melaut untuk mencari ikan menggunakan kapal miliknya sekitar pukul 23.00 WITA, Jumat 31 Juli 2026.
Sejak laporan diterima, Tim SAR Gabungan Jembrana bersama unsur terkait melakukan pencarian di wilayah perairan Pantai Medewi dan sekitarnya.
Hingga memasuki hari ketujuh, pencarian melalui jalur laut, darat maupun penyebaran informasi kepada pihak terkait belum menemukan keberadaan Asmuri.
Meski operasi pencarian resmi ditutup, pemantauan tetap dilakukan.
Nelayan dan masyarakat di sekitar wilayah pesisir Jembrana juga diminta segera melaporkan apabila menemukan benda atau tanda yang diduga berkaitan dengan keberadaan korban.
(*)