TRIBUNJATIM.COM - Presiden RI Prabowo Subianto kembali menilai kinerja pemerintahannya sendiri.
Setelah sebelumnya memberikan nilai 6 dari 10 pada awal masa kepemimpinan, kini Prabowo menyebut rapor pemerintahannya selama hampir dua tahun sudah berada dalam kondisi yang baik.
Prabowo bersama Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 20 Oktober 2024.
Sejak memimpin pemerintahan, Prabowo beberapa kali menyampaikan evaluasi terhadap kinerja kabinetnya dalam berbagai forum.
Salah satunya dengan memberikan penilaian secara langsung terhadap capaian pemerintahannya.
Baca juga: Mahfud MD Nilai Menteri Prabowo Lemah, Kabinet Bayangan Dinilai Bisa Isi Kekosongan Pengawasan
Penilaian pertama disampaikan Prabowo sekitar lima bulan setelah dilantik sebagai Presiden RI.
Pada April 2025, ia memberikan nilai 6 dari 10 untuk kinerja pemerintahannya selama 150 hari pertama.
Prabowo saat itu mengakui bahwa memenuhi seluruh harapan masyarakat dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Meski demikian, ia menilai kinerja pemerintahannya telah melewati batas minimal atau passing grade.
Ia menyebut sejumlah capaian menjadi dasar pemberian nilai tersebut, mulai dari stabilnya harga pangan hingga meningkatnya produksi beras.
“Tidak mudah penuhi semua harapan rakyat dengan cepat,” kata Prabowo saat berbincang on the record bersama tujuh jurnalis di perpustakaan pribadinya di kediamannya di Hambalang, Jawa Barat, Minggu (6/4/2025).
“Saya beri diri saya nilai 6 dari 10. Passing grade, karena banyak yang telah kita berhasil lakukan."
"Harga-harga pangan stabil. Produksi beras tertinggi dalam tujuh tahun. Ada 50 kebijakan dengan dampak besar, termasuk pendirian BPI Danantara."
Di sisi lain, Prabowo mengakui masih ada pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal komunikasi pemerintah kepada masyarakat.
“Komunikasi publik harus diperbaiki. Semua kebijakan Pemerintah perlu disampaikan lebih baik,” paparnya.
Menurut Prabowo, efektivitas pemerintahan juga sangat ditentukan oleh kemampuan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang sesuai. Ia menyebut evaluasi terhadap pejabat yang dinilai tidak bekerja maksimal telah dilakukan sejak awal masa pemerintahannya.
“Pada intinya, organisasi adalah tentang menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat pada waktu yang tepat. The right person at the right place at the right time,” jelas Prabowo.
“Dalam 150 hari ini kita telah buktikan, jika ada yang tidak bisa bekerja dengan cepat, tidak sigap membantu rakyat, hari Sabtu pun kita adakan RUPS untuk ganti. Mentan juga sudah pecat belasan pejabat Kementan yang tidak bisa bekerja dengan baik."
Baca juga: Target Besar Prabowo untuk Timnas Indonesia, Tembus Piala Dunia 2030 Jadi Harga Mati
Prabowo juga mengatakan dirinya ingin membuka ruang lebih besar bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam pemerintahan.
“Masih banyak orang baik, anak-anak muda baik, yang belum diberi kesempatan untuk membuktikan diri. Saya akan beri kesempatan itu,” tutur Prabowo.
Ia turut menyoroti percepatan proses birokrasi. Menurutnya, sejumlah aturan yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari setahun dapat diselesaikan dalam hitungan pekan.
“Selain itu, proses penerbitan Inpres, Perpres, dan Peraturan Pemerintah yang sebelumnya butuh berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun, dalam beberapa kesempatan kita buktikan bisa selesai dalam tiga minggu,” ucapnya.
Sekitar satu tahun setelah memberikan nilai 6 dari 10, Prabowo kembali memberikan evaluasi terhadap pemerintahannya.
Kali ini, ia menilai kinerja kabinet yang dipimpinnya selama hampir dua tahun telah menunjukkan berbagai hasil. Bahkan, Prabowo menyebut pemerintahannya kini dapat menghadapi masyarakat dengan lebih percaya diri.
"Terus terang saja, saya dua tahun ini kita baru berprestasi, tapi saya kira dua tahun boleh lah kita ya, rapor kita oke ya menurut saya ya," kata Prabowo dalam peluncuran buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
"Kita sekarang berjalan, berdiri, menghadapi rakyat kita, menghadapi konstituen kita, menghadapi bangsa Indonesia, kita penuh dengan kepercayaan diri karena kita telah membuktikan bahwa kita berhasil dengan nyata."
Baca juga: 4 Tanda Hubungan Jokowi dan Prabowo Mulai Renggang, Pengamat Singgung Kritikus Jokowi Masuk Kabinet
Prabowo kemudian memaparkan sejumlah capaian yang menurutnya menunjukkan kinerja pemerintahannya selama hampir dua tahun.
Ia menilai Indonesia kini memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi berbagai potensi ancaman, salah satunya melalui penguatan swasembada pangan.
Menurut Prabowo, ketahanan pangan membuat Indonesia berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan sejumlah negara lain.
Selain pangan, sektor energi juga menjadi perhatian. Prabowo menyebut kondisi Indonesia relatif terkendali karena pemerintah belum menaikkan harga BBM bersubsidi.
"Dan juga karena Menteri ESDM dan Pertamina bagus mengelola energi kita, kita bisa menjaga BBM yang disubsidi masih kita tidak naikkan. Walaupun banyak negara lain sudah agak panik, Indonesia masih cool, masih tenang. Bukan tidak menghadapi kesulitan," tutur Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyinggung perkembangan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Ia menyebut penghasilan lembaga tersebut mengalami peningkatan hingga 400 persen dalam satu tahun.
"Ini terus harus kita audit, terus harus kita cek, tapi kalaupun tidak 400 persen, 300 persen, atau 200 persen, ini signifikan, peningkatan signifikan dalam satu tahun bekerja," jelasnya.
Prabowo juga mengklaim pemerintah semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Salah satu contohnya, menurut dia, terlihat dari pembangunan hampir 2.500 unit jembatan di berbagai desa.
"Rakyat teriak, dan melalui teknologi kita segera tangkap, kita segera tanggap, kita reaksi. Dan hari ini kita sudah mendekati 2.500 jembatan seluruh desa-desa di Indonesia. Yang banyak tidak diingat oleh banyak elite Indonesia," ucap dia.
Di akhir pernyataannya, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus mempercepat kerja dan menjaga koordinasi antarmenteri.
"Jadi, ini juga tadi akibat kerja sama yang baik, kerja keras yang baik, keberanian oleh hampir semua menteri saya lihat, percaya diri ya kan. Orientasi kepada kebenaran, orientasi kepada rakyat. Kita akan bergerak lebih cepat lagi," pungkasnya.