Rebut Suami dan Culik Anak Sahabatnya, Wanita Ini Ngaku Iri dengan Keharmonisan Keluarga Temannya
Randy P.F Hutagaol August 08, 2026 04:55 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita nekat menculik anak dari mantan suami dan sahabatnya sendiri.

Peristiwa tersebut terjadi setelah rasa iri terhadap kehidupan rumah tangga sahabatnya.

Dikutip dari Eva.vn, Sabtu (8/8/2026), kasus ini bermula ketika Wang Xiaoling dan Zhang Xiaohua tinggal di Provinsi Sichuan, China.

Keduanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik dan menjalin persahabatan yang sangat erat karena memiliki latar belakang kehidupan yang serupa. Mereka saling membantu ketika salah satu mengalami kesulitan hingga dianggap seperti saudara sendiri.

Suatu ketika, ayah Zhang Xiaohua jatuh sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Biaya pengobatan yang tinggi membuat keluarganya mengalami kesulitan. Tanpa ragu, Wang Xiaoling meminjamkan seluruh tabungannya sebesar 100.000 yuan atau sekitar Rp265. juta kepada Zhang Xiaohua agar ayah sahabatnya itu dapat memperoleh pengobatan.

Kebaikan tersebut membuat keluarga Zhang Xiaohua sangat berterima kasih. Saat ayah Zhang Xiaohua diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ia menggenggam tangan Wang Xiaoling sambil mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa putrinya sangat beruntung memiliki sahabat seperti dirinya.

Zhang Xiaohua pun memeluk Wang Xiaoling dan mengatakan bahwa wanita itu merupakan sahabat terbaiknya serta berjanji akan menjaganya seumur hidup. Namun, Zhang Xiaohua tidak pernah menyangka bahwa beberapa tahun kemudian justru Wang Xiaoling menjadi penyebab hancurnya rumah tangga yang telah dibangunnya.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Wang Xiaoling menikah dengan rekan kerjanya yang bermarga Li. Sementara itu, Zhang Xiaohua menikah dengan seorang pria sekampung bernama Wang Wenni.

Meski telah berkeluarga, hubungan kedua pasangan tetap terjalin akrab. Mereka sering saling berkunjung untuk makan bersama maupun menghabiskan waktu berbincang.

Namun, kehidupan rumah tangga Wang Xiaoling tidak berjalan harmonis seperti yang dialami sahabatnya. Wang Xiaoling memiliki sifat keras kepala, begitu pula suaminya. Baru setahun menikah, keduanya mulai sering bertengkar. Setiap terjadi perselisihan, tidak ada satu pun yang mau mengalah atau mengakui kesalahan.

Dalam kondisi tersebut, Wang Xiaoling kerap datang menemui Zhang Xiaohua untuk mencurahkan isi hatinya. Zhang Xiaohua beberapa kali membantu mendamaikan pasangan tersebut. Bersama suaminya, Wang Wenni, Zhang Xiaohua selalu memberikan nasihat bahwa kehidupan rumah tangga membutuhkan saling menghormati, saling menyayangi, tidak membesar-besarkan persoalan kecil, serta terus berusaha membangun masa depan yang lebih baik.

Meski telah berulang kali didamaikan, rumah tangga Wang Xiaoling tetap tidak dapat dipertahankan. Ia dan suaminya akhirnya memutuskan bercerai. Hak asuh anak diberikan kepada mantan suaminya, sedangkan Wang Xiaoling memilih tinggal sendiri di rumah kontrakan.

Setelah bercerai, Wang Xiaoling hampir setiap hari datang ke rumah Zhang Xiaohua sepulang bekerja. Zhang Xiaohua dan Wang Wenni memahami bahwa sahabat mereka masih terpukul akibat perceraian sehingga selalu menyambutnya dengan baik agar tidak merasa sendirian.

Tanpa disadari, kebaikan tersebut justru menjadi awal petaka. Karena sering bertemu, Wang Xiaoling semakin dekat dengan Wang Wenni. Berbagai nasihat yang diberikan Wang Wenni perlahan membuat Wang Xiaoling menaruh perasaan kepada suami sahabatnya itu.

Di saat yang sama, Wang Xiaoling mulai membandingkan kehidupannya dengan Zhang Xiaohua. Menurutnya, meski Zhang Xiaohua tidak terlalu cantik, ia memiliki keluarga yang harmonis, suami yang menyayanginya, anak yang cerdas, serta pekerjaan yang berjalan lancar.

Perasaan iri itu semakin besar. Wang Xiaoling bahkan merasa dirinya lebih cantik dan memiliki penampilan yang lebih menarik sehingga kehidupan bahagia tersebut seharusnya menjadi miliknya.

Didorong oleh rasa iri, Wang Xiaoling kemudian menyusun rencana untuk merebut suami sahabatnya.

Suatu hari, saat mengetahui Zhang Xiaohua mendapat giliran bekerja pada malam hari, Wang Xiaoling datang ke rumah sahabatnya dengan mengenakan pakaian yang sengaja dibuat terbuka. Ia juga membawa minuman keras untuk diminum bersama Wang Wenni.

Setelah mengonsumsi minuman beralkohol, Wang Wenni tidak mampu menahan godaan dan akhirnya menjalin hubungan terlarang dengan Wang Xiaoling.

Perselingkuhan itu terus berlangsung. Setiap kali Zhang Xiaohua bekerja pada malam hari, Wang Xiaoling datang ke rumah dan menemui Wang Wenni. Hubungan tersebut berlangsung selama sekitar enam bulan.

Perbuatan keduanya akhirnya terbongkar ketika Zhang Xiaohua pulang lebih awal dari tempat kerja karena mesin di pabrik mengalami kerusakan sehingga giliran kerja malam dibatalkan.

Saat memasuki rumah pada tengah malam, Zhang Xiaohua mendapati suami dan sahabatnya sedang berhubungan intim di atas ranjang.

Mengetahui perbuatannya terbongkar, Wang Xiaoling langsung berlutut sambil menangis dan memohon agar dimaafkan. Ia juga menyalahkan Wang Wenni dengan mengatakan bahwa pria tersebut yang lebih dahulu merayunya.

Zhang Xiaohua yang tidak ingin keluarganya hancur memilih memaafkan mereka setelah mempertimbangkan berbagai hal. Ia berharap hubungan terlarang tersebut benar-benar berakhir.

Harapan itu tidak menjadi kenyataan. Wang Xiaoling justru semakin berani dan secara terbuka mengakui dirinya sebagai kekasih Wang Wenni.

Bahkan ketika ibu Wang Wenni memarahinya dan mengatakan bahwa dirinya tidak pantas menjadi bagian dari keluarga mereka, Wang Xiaoling tetap bersikeras bahwa ia hanya sedang mengejar kebahagiaannya sendiri dan tidak akan melepaskan Wang Wenni.

Merasa dikhianati oleh suami dan sahabatnya sekaligus, Zhang Xiaohua akhirnya memutuskan mengajukan gugatan cerai.

Setelah perceraian itu, Wang Xiaoling resmi tinggal bersama Wang Wenni. Namun, kehidupan yang diimpikannya tidak berlangsung lama. Kurang dari satu tahun tinggal bersama, Wang Wenni mulai merasa menyesal. Menurutnya, meski Wang Xiaoling lebih cantik, ia jauh kalah dibanding mantan istrinya dalam berbagai hal.

Wang Wenni kemudian berniat mengakhiri hubungan dengan Wang Xiaoling dan kembali kepada Zhang Xiaohua.

Mengetahui hal tersebut, Wang Xiaoling menjadi panik karena khawatir semua usahanya selama ini sia-sia. Ia berusaha menghubungi Wang Wenni, tetapi tidak mendapat respons.

Dalam keadaan putus asa, Wang Xiaoling menculik anak Wang Wenni dan Zhang Xiaohua dari sekolah. Anak tersebut kemudian dibawa ke tepi sungai untuk memaksa Wang Wenni datang menemuinya.

Namun, peristiwa tragis terjadi. Anak itu terjatuh ke sungai dan meninggal dunia akibat tenggelam.

Saat melakukan penyelidikan, polisi tidak dapat memastikan apakah korban terpeleset sendiri atau didorong oleh Wang Xiaoling karena tidak terdapat kamera pengawas maupun saksi mata di lokasi kejadian.

Meski demikian, tindakan Wang Xiaoling yang menculik anak tersebut telah memenuhi unsur tindak pidana sehingga ia tetap dijatuhi hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

(cr31/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.