UT Beri Penguatan Literasi Numerasi Berbasis Kearifan Lokal Pesisir Pahawang
Reny Fitriani August 08, 2026 05:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Pesawaran - Memperkuat kualitas pendidikan dasar dan 
menengah sekaligus mendukung implementasi pembelajaran abad ke-21, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Terbuka (UT) Bandar Lampung gelar Workshop Literasi Numerasi Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal Pesisir Pulau Pahawang Jenjang SD dan SMP pada 5–6 Agustus 2026. 

Kegiatan ini menjadi bagian komitmen perguruan tinggi dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi akademik bersama sekolah dan masyarakat untuk menghasilkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan karakteristik daerah kepulauan.

Workshop dilaksanakan melibatkan guru-guru SD dan SMP sebagai aktor utama transformasi pembelajaran di sekolah.

Kegiatan dirancang tidak hanya sebagai forum peningkatan kapasitas profesional guru, tetapi juga sebagai ruang kolaboratif dalam merumuskan model pembelajaran literasi dan numerasi yang berpijak pada realitas sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan masyarakat pesisir Pulau Pahawang.

Ketua PKM Nasional Universitas Terbuka (UT) Dr. Mualimin menyampaikan, literasi dan numerasi sebagai fondasi pembelajaran kontekstual.

"Perubahan paradigma pendidikan menuntut pembelajaran tidak lagi berorientasi pada penguasaan konsep secara abstrak semata, melainkan pada kemampuan peserta didik dalam menginterpretasikan 
informasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta mengaplikasikan pengetahuan dalam 
kehidupan sehari-hari," urai dia. 

Oleh karena itu, literasi dan numerasi dipandang sebagai kompetensi fundamental yang perlu dikembangkan melalui pengalaman belajar yang autentik dan kontekstual.

Ia juga menegaskan, Pulau Pahawang memiliki kekayaan sumber belajar yang sangat potensial, mulai dari ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun, aktivitas nelayan, budidaya perikanan, transportasi laut, hingga budaya gotong royong masyarakat pesisir.

Keseluruhan potensi tersebut menjadi konteks nyata yang dapat digunakan guru untuk mengembangkan aktivitas pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan membaca, menalar, mengomunikasikan gagasan, serta menyelesaikan persoalan berbasis data.

Di akhir sambutan mualimin berharap melalui pendekatan ini, matematika, sains, bahasa Indonesia, 
IPS, maupun mata pelajaran lainnya tidak lagi dipelajari sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari 
kehidupan peserta didik, melainkan sebagai alat berpikir untuk memahami fenomena yang mereka 
temui setiap hari.

Kegiatan Wokshop PKM UT menghadirkan Akademisi Universitas Lampung Dr. Fitriadi, M.Pd. Salah 
satu gagasan utama yang dikembangkan dalam workshop adalah menjadikan kearifan lokal sebagai 
fondasi pedagogis dalam penyelenggaraan pembelajaran.

Kearifan lokal dipahami bukan hanya sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang mengandung nilai ilmiah, ekologis, sosial, ekonomi, dan karakter.

Dalam berbagai sesi diskusi, peserta mengidentifikasi beragam konteks lokal yang dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran, antara lain: pengukuran hasil tangkapan nelayan sebagai konteks numerasi; analisis pasang surut air laut sebagai pembelajaran sains dan matematika; perhitungan luas kawasan mangrove dan terumbu karang menggunakan data sederhana.

Lalu pengelolaan sampah pesisir sebagai tema literasi lingkungan; aktivitas ekonomi masyarakat melalui perdagangan hasil laut sebagai konteks pembelajaran persentase, statistik, dan pengolahan data; cerita rakyat, budaya maritim, dan tradisi masyarakat Pulau Pahawang sebagai bahan penguatan literasi membaca dan menulis. 

Pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna karena peserta didik 
belajar dari lingkungan yang mereka kenal sehingga mampu menghubungkan konsep akademik 
dengan realitas kehidupan.

Dr. Fitriadi, M.Pd. memberikan Gagasan Strategis Pengembangan Pendidikan Pesisir. Salah satu 
rekomendasi penting yang mengemuka selama workshop adalah perlunya membangun ekosistem 
pendidikan berbasis wilayah (place-based education), yaitu pendekatan pendidikan yang menjadikan 
lingkungan lokal sebagai laboratorium belajar.

Melalui pendekatan ini, sekolah di kawasan pesisir tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran masyarakat yang mengembangkan budaya literasi, numerasi, konservasi lingkungan, kewirausahaan, serta pelestarian budaya maritim.

Menurut Fitraidi, Model pembelajaran seperti ini diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik karena materi yang dipelajari memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

Di sisi lain, guru memperoleh ruang untuk berinovasi dalam mengembangkan pembelajaran yang kreatif, adaptif, dan berbasis penelitian sederhana.

Kepala sekolah Negeri 8 Desa Pahawang mengucapkan banyak terima kasih kepada Universitas Terbuka dan tim PKM Dosen UT Bandar Lampung.

Ia berharap workshop ini menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dengan sekolah.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.