3 Jembatan 4 Kamera: Iqra Perjalanan Prof JJ melalui Bourdieu, Ibn Khaldun, Harari, dan Durkheim
AS Kambie August 08, 2026 06:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Ada tulisan yang selesai ketika kisahnya selesai. Ada pula tulisan yang justru baru mulai bekerja setelah pembaca menutupnya. Setelah “billahi taufiq wal hidayah.”

Tulisan Supratman berjudul “Tiga Jembatan dari Minahasa dalam Perjalanan Prof JJ” termasuk yang kedua. Tulisan ini terbit di Tribun Timur cetak edisi 8 Agustus 2026. Lalu muncul di online Tribun-Timur.com. 

Tulisan itu bercerita tentang tiga tokoh: Arnold Achmad Baramuli, Arnold Mononutu, dan Tony Wenas. Tiga orang dari zaman, latar, dan ruang sosial yang berbeda. Satu berhubungan melalui akar keluarga dan kebudayaan, satu melalui sejarah kelembagaan, dan satu lagi melalui ruang profesional. 

Sekilas tidak seiring sejalan. Sepintas laksana asam di gunung garam di laut.

Tapi jalan terputus itu dihubungkan oleh jembatan. Asam di gunung garam di laut bertemu dalam kuali. Sebab, di antara ketiganya berdiri Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc atau Prof JJ, yang kini memasuki periode kedua kepemimpinannya sebagai Rektor Universitas Hasanuddin.

Supratman, saya biasa menyapanya Supa dan ditambah Atha’na, menyebut “jembatan”.

Baca juga: Tiga Jembatan dari Minahasa dalam Perjalanan Prof JJ

Kalau dibaca sepintas, tulisan itu adalah kisah tentang tiga jembatan.

Tetapi kalau kameranya digeser sedikit, yang tampak bukan lagi sekadar tiga jembatan. Tampak sebuah proses yang lebih panjang. 

Bagaimana asal-usul berubah menjadi identitas. Identitas menjadi hubungan sosial. Hubungan sosial menjadi kepercayaan. Kepercayaan menjadi legitimasi. Dan legitimasi akhirnya menjadi kekuasaan simbolik.

Di sinilah Pierre Bourdieu dan Ibn Khaldun menjadi dua kamera pertama yang sangat berguna. Seperti yang diajarkan di Departemen Sosiologi FISIP Unhas. Salah seorang dosen yang mengajarkan adalah Dr Sawedi Muhammad MA. Pak Prof Dr M Tahir Kasnawi, Prof Dr Hasbi Maressangang, Dr Iqbal Latief,  Dr Buchari Mengge, Dr M Ramli AT, Dr Sakaria To Anwar, Dr Nurvida. dan Dr Rahmat Muhammad juga sering menyebut nama-nama ini.

Bourdieu bertanya tentang modal dan arena. Ibn Khaldun bertanya tentang ikatan yang membuat orang-orang dapat berdiri dalam satu barisan.

Yuval Noah Harari membantu melihat bagaimana manusia membangun kenyataan bersama melalui cerita dan imajinasi kolektif. Emile Durkheim membawa kamera lebih jauh lagi: apa yang terjadi ketika simbol, tokoh, institusi, dan perasaan bersama bertemu dalam sebuah momen kolektif?

Empat kamera itu menghasilkan gambar yang berbeda, tetapi objeknya sama.

Darah Modal

Bagian pertama tulisan Supratman membawa kita ke Pinrang, kepada Arnold Achmad Baramuli.

Ayah Baramuli berdarah Minahasa. Ibunya, Adolfina La Roempoeh atau Ibu Pole, berasal dari Letta. Di sisi lain, ibu Prof JJ berasal dari Batulappa, tepatnya Bulisu, wilayah yang secara kultural berdekatan dengan Letta dan berada dalam rumpun Pattinjo. Di sini sebuah garis sedang ditarik. 

Minahasa bertemu Letta. Letta bertemu Pattinjo. Pattinjo kemudian bertemu Batulappa. Dari garis-garis geografis dan genealogis itu dibangun sebuah ruang kebudayaan yang lebih luas.

Bourdieu akan segera bertanya: apa yang sebenarnya sedang bergerak di antara ruang-ruang tersebut? Bukan uang. Bukan jabatan. Supratman mengeja modal budaya dan modal sosial. Bahasa, ingatan tentang kampung, hubungan kekerabatan, asal-usul, tradisi, serta pengakuan terhadap identitas tertentu dapat menjadi sumber daya sosial. Ketika identitas itu memperoleh pengakuan, ia dapat berubah menjadi modal simbolik.

Karena itu, kalimat “putra Pinrang” dan “rumpun Pattinjo” dalam tulisan Supratman menjadi menarik. Memang diksi “rumpun Pattinjo” itu belum setenar “La Sinrang bakka’ lolona Sawitto”. Tapi ia tidak lagi sekadar menunjuk tempat seseorang dilahirkan. Ia menjadi sebuah kategori kebudayaan. Di sinilah sebuah tempat berubah menjadi simbol.

Letta bukan lagi hanya Letta. Bulisu bukan lagi sekadar Bulisu. Minahasa bukan hanya sebuah provinsi. Ketiganya dipertemukan melalui ingatan, garis keluarga, bahasa, dan kebudayaan. Jembatannya pas dan kokoh. Menjulur kuat dan tegas. Bahasa Bugisnya “Magetteng na malempu’ maddenreng temmalereh.”

Bourdieu akan menyebut proses semacam ini sebagai permainan modal dalam sebuah arena. Sesuatu yang pada satu ruang mungkin tampak sebagai identitas biasa, di ruang lain dapat menjadi modal yang menghasilkan pengakuan.

Maka perjalanan Baramuli dari Pinrang menuju panggung nasional juga memperlihatkan bagaimana modal yang berakar pada tempat asal tidak harus hilang ketika seseorang memasuki arena yang lebih luas. Ia justru dapat dikonversi.

Dari asal-usul menjadi identitas. Dari identitas menjadi jaringan. Dari jaringan menjadi reputasi. Dari reputasi menjadi kekuasaan simbolik.

Ibnu Khaldun merekamnya dengan kamera merk berbeda. Kalau kamera Bourdieu melihat modal, kamera Ibn Khaldun akan mencari ashabiyyah. Ini Bahasa Arab. Bahasa Bugis: assikampongeng, assilessurengeng, atau assilaongeng. Tapi orang Bugis tidak hanya mengenal ketiga diksi ini dalam ikatan keluarga dan perkawinan. Ada siri na pesse yang juga bisa melahirkan ketiganya.

Apa yang membuat manusia merasa memiliki hubungan dengan manusia lain? Pada masyarakat tradisional, jawabannya dapat berupa darah, keluarga, nasab, dan asal-usul. Tetapi solidaritas tidak selalu berhenti pada darah. Ia dapat berkembang menjadi solidaritas kelompok, solidaritas wilayah, solidaritas politik, bahkan solidaritas yang dibangun oleh nilai dan tujuan bersama.

Dalam cerita Baramuli dan Prof JJ, kita melihat bentuk awalnya. Ada sebuah rasa kedekatan yang dibangun melalui ruang kultural Pattinjo. Tidak harus berupa hubungan keluarga langsung. Cukup ada kesamaan akar budaya yang dikenali bersama.

Itulah bentuk ashabiyyah yang sudah bergerak dari darah menuju kebudayaan. Tetapi perjalanan itu tidak berhenti di sana. Pada Arnold Mononutu, bentuknya berubah.

Darah Sejarah

Dalam lieratur kepahlawanan, sejarah bersimbah darah. Seperti dalam potongan puisi Udin Palisuri. Eh, kebetulan juga ada potongan Pinrang-nya plus Enrekang-Toraja.

Mononutu tidak mempunyai hubungan genealogis dengan Prof JJ sebagaimana narasi Baramuli. Jembatannya adalah Universitas Hasanuddin. Mononutu pernah menjadi Rektor Unhas. Puluhan tahun kemudian, Prof JJ menduduki kursi yang sama.

Di sini yang diwariskan bukan darah. Yang diwariskan adalah jejak. Supratman, yang sangat paham Bahsa Persia itu, menghubungkannya dengan apik.

Sebuah kursi rektor ternyata dapat menyimpan ingatan. Seorang yang pernah duduk di sana meninggalkan simbol. Orang yang datang kemudian memasuki ruang yang sudah memiliki sejarah.

Bourdieu melihatnya sebagai modal simbolik dan institusional.

Ibn Khaldun melihat sesuatu yang lain: solidaritas yang sudah bergerak dari hubungan genealogis menuju solidaritas institusional dan kebangsaan.

Mononutu adalah putra Minahasa yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Ia pernah menjadi Menteri Penerangan, diplomat, dan kemudian Rektor Unhas. Pengalaman kenegaraan itu dibawa ke sebuah universitas yang masih muda.

Prof. JJ datang enam puluh tahun lebih kemudian dengan pengalaman yang berbeda. Ia datang dari dunia biologi dan ekologi laut, pendidikan internasional, riset terumbu karang, biodiversitas, dan jejaring akademik global.

Zamannya berbeda. Tetapi institusinya sama. Di situlah sejarah bekerja.

Bukan dengan cara mengulang masa lalu, melainkan dengan menyediakan panggung bagi generasi berikutnya.

Mononutu tidak sedang “membantu” Prof JJ dalam pengertian hubungan personal. Ia bahkan sudah lama tidak berada di sana ketika Prof JJ menjadi rektor.

Yang bekerja adalah sesuatu yang lebih halus: warisan simbolik.

Sebuah institusi mempunyai ingatan. Dan orang-orang yang memasukinya tidak pernah benar-benar masuk ke ruang yang kosong.

Sejarah Kepercayaan

Kemudian datang Tony Wenas. Ana’rimonri ini dijadikan jembatan ketiga.

Jembatan ketiga itu berbeda lagi. Tidak ada garis genealogis yang harus dicari. Tidak pula harus menunggu puluhan tahun agar sejarah bekerja. Hubungannya berlangsung di depan mata.

Tony Wenas datang dari dunia industri. Ia membawa pengalaman kepemimpinan korporasi, jaringan bisnis, dan reputasi profesional. Ketika masuk ke Majelis Wali Amanat Unhas, modal yang dimilikinya dari arena korporasi memasuki arena perguruan tinggi.

Inilah kamera Bourdieu bekerja paling terang. Modal tidak selalu tinggal di tempat asalnya. Modal dapat berpindah arena.

Pengalaman korporasi dapat menjadi modal sosial di perguruan tinggi. Jaringan profesional dapat menjadi modal simbolik. Reputasi seorang pemimpin industri dapat memberikan nilai tertentu ketika ia berbicara di hadapan mahasiswa.

Sebaliknya, Unhas juga memberi legitimasi kepada orang-orang yang masuk ke dalam ruangnya.

Di sana terjadi pertukaran yang tidak selalu berupa transaksi. Ada pertukaran kepercayaan.

Itulah sebabnya Tony Wenas tidak perlu ditempatkan sebagai orang yang “menentukan” perjalanan Prof JJ. Tulisan Supratman sendiri cukup hati-hati untuk tidak menyederhanakan hubungan itu.

Ia lebih tepat disebut sebagai bagian dari ekosistem kepercayaan. Dan kepercayaan adalah modal sosial yang sangat mahal.

Ketika Tony Wenas memainkan piano pada pelantikan Prof. JJ untuk periode kedua dan membawakan We Are the Champions, adegan itu menjadi lebih dari sekadar hiburan.

Sebuah lagu, sebuah piano, sebuah panggung pelantikan, seorang rektor, dan seorang tokoh industri bertemu dalam satu momen.

Di situlah kamera Durkheim mulai menyala. Gora. Mengingatkan. Mapparengngerang.

Energi Kolektif

Durkheim mempunyai konsep collective effervescence. Semacam luapan energi emosional yang muncul ketika orang-orang berkumpul dalam sebuah peristiwa yang memiliki makna bersama.

Kita mengenalnya dalam ritual keagamaan, upacara adat, perayaan, pertandingan olahraga, demonstrasi, atau peristiwa kebangsaan.

Manusia yang hadir dalam sebuah ruang tidak lagi hanya menjadi individu-individu. Mereka merasakan sesuatu secara bersama.

Pelantikan seorang rektor tentu memiliki dimensi administratif. Ada keputusan, sumpah, jabatan, dokumen, dan prosedur.

Tetapi manusia tidak hidup hanya dari prosedur.

Ada simbol. Ada pakaian. Ada tepuk tangan. Ada tokoh-tokoh yang hadir. Ada lagu. Ada sejarah yang disebut kembali. Ada rasa bangga. Ada masa lalu yang disambungkan dengan masa depan.

Ketika Tony Wenas memainkan We Are the Champions, sebuah lagu populer masuk ke dalam ritual institusional.

Musik itu membawa emosi. Emosi membawa orang kepada pengalaman bersama. Pengalaman bersama memperkuat makna. Inilah collective effervescence.

Tidak perlu mengatakan bahwa semua orang di ruangan mengalami perasaan yang sama persis. Durkheim tidak membutuhkan keseragaman psikologis semacam itu. Yang penting adalah munculnya suatu energi simbolik yang membuat sebuah peristiwa terasa lebih besar daripada sekadar prosedur administratif.

Pelantikan berubah menjadi peristiwa. Dan peristiwa berubah menjadi ingatan bersama.

Kamera Harari

Yuval Noah Harari menawarkan kamera yang berbeda lagi.

Manusia, menurut cara Harari membaca sejarah manusia, memiliki kemampuan untuk hidup dalam realitas bersama yang dibangun oleh cerita, simbol, dan kesepakatan kolektif.

Negara, agama, uang, perusahaan, universitas, bahkan banyak institusi modern, bertahan bukan semata-mata karena bangunan fisiknya. Ia bertahan karena manusia mempercayai makna yang melekat pada simbol dan aturan tersebut.

Dalam konteks tulisan Supratman, Universitas Hasanuddin bukan hanya kumpulan gedung, dosen, mahasiswa, laboratorium, dan dokumen hukum.

“Unhas” adalah sebuah imajinasi kolektif.

Ada sejarah yang dipercayai bersama. Ada nama Hasanuddin. Ada kebanggaan sebagai kampus Indonesia Timur. Ada memori tentang para rektor terdahulu. Ada cita-cita menjadi universitas berkelas dunia. Ada keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus berguna bagi masyarakat.

Semua itu tidak bisa disentuh seperti batu. Tetapi ia nyata karena dipercaya bersama. Di sinilah kisah Mononutu menjadi penting.

Mononutu adalah bagian dari cerita besar Unhas. Ketika Prof JJ duduk di kursi yang pernah ditempati Mononutu, yang bergerak bukan hanya tubuh seorang manusia menuju sebuah kursi.

Yang bergerak adalah sebuah cerita. Cerita tentang kesinambungan. Cerita tentang kepemimpinan. Cerita tentang universitas yang melampaui generasi.

Cerita tentang Indonesia Timur yang tidak ingin hanya menjadi penonton dalam produksi pengetahuan nasional dan global.

Itulah collective imagination. Manusia tidak hanya mewarisi institusi. Manusia juga mewarisi cerita tentang institusi tersebut.

Jembatan Solidaritas

Kalau kamera Ibn Khaldun diarahkan kembali kepada tiga tokoh tersebut, kita menemukan perubahan yang menarik.

Baramuli membawa solidaritas genealogis dan kultural. Mononutu membawa solidaritas historis dan kebangsaan. Tony Wenas membawa solidaritas profesional.

Darah. Sejarah. Kepercayaan. Tiga-tiganya berbeda. Tetapi ketiganya mempunyai satu kesamaan: membangun rasa keterhubungan.

Di sinilah konsep ashabiyyah dapat dibaca secara lebih luas dalam masyarakat modern.

Ashabiyyah tidak harus selalu berarti satu darah.

Ia dapat berubah menjadi rasa “kita”. Kita satu keluarga. Kita satu kebudayaan. Kita satu sejarah. Kita satu institusi. Kita satu profesi. Kita satu tujuan.

Orang Bugis merumuskannya “Idi’maneng. Padaidi padaelo. Sipatua sipatokkong.Sirui’ menre’, tessirui’ no’…!

Ketika “kita” menjadi cukup kuat, manusia dapat bergerak bersama.

Bourdieu kemudian bertanya: modal apa yang membuat “kita” itu mempunyai daya?

Durkheim bertanya: kapan “kita” itu berubah menjadi energi kolektif?

Harari bertanya: cerita apa yang membuat “kita” percaya bahwa kita memang “kita”?

Empat kamera itu akhirnya bertemu. Prof JJ berada di persilangan itu.

Di sinilah posisi Prof JJ menjadi menarik. Ia tidak harus dipandang sebagai penerima pasif dari tiga jembatan tersebut.

Ia adalah aktor yang memiliki trajectory sendiri.

Ada Batulappa dan Bulisu. Ada lingkungan keluarga. Ada pendidikan. Ada Unhas. Ada McMaster University. Ada James Cook University. Ada penelitian kelautan. Ada jejaring internasional. Ada pengalaman akademik. Ada kepemimpinan.

Semua pengalaman itu membentuk habitus. Habitus bukan watak bawaan.

Habitus adalah disposisi yang dibentuk oleh perjalanan hidup, pengalaman sosial, pendidikan, lingkungan, dan berbagai arena yang pernah dimasuki seseorang.

Karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa akar Pattinjo otomatis menghasilkan gaya kepemimpinan Prof JJ.

Itu akan terlalu sederhana.

Yang lebih masuk akal adalah melihat bagaimana berbagai pengalaman tersebut berinteraksi dan membentuk cara seseorang membaca dunia, mengambil keputusan, membangun hubungan, dan menjalankan kepemimpinan.

Habitus bertemu field. Modal bergerak di dalamnya. Jaringan menghasilkan kepercayaan. Kepercayaan menghasilkan legitimasi. Dan legitimasi melahirkan kekuasaan simbolik.

Tetapi ada satu hal yang lebih menarik: tulisan Supratman sendiri

Di sinilah kamera Bourdieu harus diarahkan kepadanya. Sebab tulisan tentang kekuasaan juga dapat menjadi bagian dari kekuasaan.

Supratman memilih tiga nama: Baramuli. Mononutu. Tony Wenas. Kemudian ketiganya dirangkai menjadi “tiga jembatan”. Ini bukan fakta yang berbicara dengan sendirinya. Ini adalah konstruksi naratif.

Supratman memilih hubungan tertentu, menyusunnya, memberinya makna, kemudian mempertemukannya pada satu figur: Prof JJ.

Dengan demikian, tulisan itu tidak hanya menggambarkan symbolic capital. Ia juga dapat ikut memproduksi symbolic capital.

Pembaca kemudian tidak hanya melihat seorang rektor. Pembaca melihat seorang rektor yang ditempatkan dalam jaringan asal-usul, sejarah, profesionalisme, dan kepercayaan. Ia tidak hadir sendirian. Ia hadir dengan cerita di belakangnya. Dan cerita adalah salah satu sumber kekuasaan manusia yang paling tua.

Dari tiga jembatan menuju satu imajinasi. Baramuli memberikan akar. Mononutu memberikan jejak.BTony Wenas memberikan kepercayaan. Prof JJ berada di tengah ketiganya.

Tetapi sesungguhnya ada sesuatu yang lebih besar daripada tiga orang itu. Ada imajinasi tentang Sulawesi yang tidak selesai pada batas provinsi.

Minahasa bertemu Pinrang. Letta bertemu Batulappa. Manado bertemu Makassar. Politik bertemu pendidikan. Korporasi bertemu universitas. Lokal bertemu global. Masa lalu bertemu masa depan.

Itulah mengapa metafora “jembatan” dalam tulisan Supratman bekerja cukup kuat. Jembatan bukan tempat orang tinggal. Jembatan adalah tempat orang berpindah. Dari satu tepian ke tepian lainnya.

Dan perjalanan Prof JJ dalam tulisan itu sesungguhnya bukan perjalanan dari Pinrang menuju Makassar saja. Ia adalah perjalanan dari satu arena sosial ke arena sosial yang lain.

Dari akar kultural menuju dunia akademik. Dari pendidikan lokal menuju pengalaman global. Dari ilmu pengetahuan menuju kepemimpinan institusional. Dari reputasi personal menuju legitimasi kolektif.

Pada akhirnya, yang bekerja bukan satu teori Bourdieu membantu kita melihat modal. Ibn Khaldun membantu kita melihat solidaritas. Harari membantu kita melihat cerita bersama yang membuat institusi dan identitas menjadi nyata. Durkheim membantu kita melihat energi emosional yang muncul ketika cerita dan simbol itu dirayakan bersama.

Keempatnya dapat diringkas dalam satu alur: Ashabiyyah membangun rasa keterikatan. Modal menyediakan sumber daya. Field menentukan nilai dari sumber daya itu. Imajinasi kolektif memberikan cerita tentang siapa “kita”. Collective effervescence menghidupkan cerita itu dalam ritual dan peristiwa.

Dan ketika semuanya bertemu, lahirlah sesuatu yang lebih besar daripada hubungan antarindividu: legitimasi. Mungkin karena itu, tulisan “Tiga Jembatan dari Minahasa” menarik dibaca lebih dari sekadar tulisan tentang tiga tokoh.

Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia membangun hubungan, bagaimana hubungan menjadi jaringan, bagaimana jaringan menghasilkan kepercayaan, bagaimana kepercayaan berubah menjadi legitimasi, dan bagaimana legitimasi akhirnya menjadi bagian dari perjalanan seorang pemimpin.

Sebab pada akhirnya, seorang pemimpin tidak pernah berdiri sendirian.

Di belakangnya ada keluarga. Ada kampung. Ada bahasa. Ada sejarah. Ada institusi. Ada guru. Ada silaong. Ada langgo. Ada kolega. Ada jaringan. Ada orang-orang yang percaya. Dan ada cerita yang membuat semua itu terasa sebagai satu perjalanan.

Di situlah tiga jembatan itu bertemu.

Bukan hanya antara Minahasa dan Pinrang. Bukan hanya antara masa lalu dan masa kini.

Tetapi antara ashabiyyah, modal, imajinasi kolektif, dan energi bersama yang membuat sebuah kepemimpinan memperoleh maknanya. Tapada salama.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.