SERAMBINEWS.COM – Iran dinilai keluar sebagai pemenang strategis dari perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, meski harus menanggung kerugian besar berupa korban jiwa serta kerusakan infrastruktur militer dan ekonomi.
Kesimpulan itu disampaikan Kepala Analis Luar Negeri The Telegraph, Roland Oliphant, dalam analisis terbarunya. Ia menilai Washington gagal mencapai tujuan utamanya untuk melemahkan atau menjatuhkan Republik Islam Iran.
Sebaliknya, menurut Oliphant, posisi Teheran justru menguat, terutama terkait sengketa Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Laporan tersebut mengungkap bahwa Iran dan Oman kini semakin dekat mencapai kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Jika terealisasi, Iran akan memperoleh peran lebih besar dalam mengawasi lalu lintas kapal yang memasuki Teluk Persia, sementara Oman mengelola jalur keluar.
Selain itu, kedua negara disebut akan memungut biaya pelayaran yang digunakan untuk membiayai keamanan, perlindungan lingkungan, serta pengelolaan jalur strategis tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebut pengaturan itu sebagai bentuk penguatan kedaulatan efektif Iran atas Selat Hormuz.
Menurut Oliphant, hasil tersebut sangat berbeda dengan target awal Washington dan Tel Aviv ketika melancarkan perang terhadap Iran.
"Perdamaian seperti ini bukanlah yang diinginkan Amerika Serikat," tulisnya.
Ia bahkan menyimpulkan bahwa perang yang dipimpin Presiden Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru berakhir dengan meluasnya pengaruh regional Iran.
"Perang Donald Trump dan Benjamin Netanyahu untuk menggulingkan atau mencemarkan Republik Islam berakhir dengan perluasan pengaruh regional Iran. Mereka kalah. Iran menang," tulis Oliphant.
Analisis itu juga menyoroti bahwa eskalasi militer AS, termasuk serangan terhadap infrastruktur yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di kawasan Teluk Persia, gagal memaksa Iran menyerah atau mencabut tuntutannya atas Selat Hormuz.
Trump bahkan sempat mengancam akan melancarkan gelombang serangan baru apabila Iran tidak membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Namun ancaman itu disebut tidak pernah diwujudkan setelah adanya intervensi diplomatik dari sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi.
Sebelumnya, Iran dikabarkan telah memperingatkan negara-negara tetangga bahwa wilayah mereka dapat menjadi sasaran apabila membantu serangan militer AS.
Bagi Oliphant, situasi itu menunjukkan meningkatnya daya gentar (deterrence) Iran terhadap negara-negara di kawasan.
"Iran kini tidak hanya memiliki kendali lebih besar atas Selat Hormuz dibanding sebelum perang, tetapi juga memiliki pengaruh militer yang lebih kuat untuk memengaruhi perilaku negara-negara tetangganya," tulisnya.
Negosiasi Belum Selesai
Meski demikian, kesepakatan final mengenai Selat Hormuz belum diumumkan secara resmi.
Iran menegaskan penerapan pengaturan tersebut bergantung pada pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di sisi lain, Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Sejumlah isu penting lain juga masih menjadi bagian dari pembahasan, termasuk program nuklir Iran, pencabutan sanksi AS, serta pelepasan aset-aset Iran yang masih dibekukan.
Namun Oliphant menilai keberhasilan Iran dalam sengketa pertama terkait implementasi nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu dapat menjadi modal penting dalam negosiasi berikutnya.
"Ujian pertama telah berjalan sesuai keinginan Iran, dan ada banyak alasan untuk percaya bahwa isu-isu lain juga akan menguntungkan mereka," tulisnya.
Dalam analisanya, Oliphant bahkan membandingkan kegagalan strategi Washington dengan Krisis Suez tahun 1956 yang menandai kemunduran pengaruh global Inggris.
Menurutnya, konflik Iran berpotensi dikenang sebagai salah satu titik balik menurunnya dominasi Amerika Serikat di panggung dunia.
Meski mengakui Iran membayar harga yang sangat mahal dengan ribuan korban jiwa dan kerusakan besar pada infrastruktur militernya, Oliphant tetap menilai hasil akhirnya berpihak kepada Teheran.
"Bagaimanapun, ini tetap sebuah kemenangan. Tidak bisa dihindari kenyataan bahwa Iran memenangkan perang ini. Amerika kalah," pungkasnya.(*)