TRIBUN-SULBAR.COM - Salat Istisqa adalah salah satu salat sunah yang dilakukan umat Islam pada waktu tertentu.
Salat Istisqa dilaksanakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika masyarakat mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.
Salat ini menjadi bentuk pengakuan manusia bahwa mereka membutuhkan pertolongan Allah SWT dalam menghadapi kondisi alam.
Baca juga: Warga Kuajang Polman Salat Istisqa, Meminta Hujan di Musim Kemarau Panjang
Saat melaksanakan Salat Istisqa, dianjurkan memperbanyak bacaan istigfar, bertobat, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
Biasanya, Salat Istisqa dilakukan secara berjamaah di lapangan atau tempat terbuka sehingga menjadi momentum doa bersama masyarakat.
Berikut ini niat salat meminta hujan (Salat Istisqa):
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal istisqo’i rak’ataini ma’muman lillahi taala
Artinya: “Aku berniat salat istisqa’ dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”
Pelaksanaan salat sama dengan Salat Idulfitri atau Iduladha.
Setelah takbiratul ihram, melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.
Selanjutnya, dilanjutkan dengan rukuk, sujud, hingga duduk tahiyat kemudian salam.
Khatib kemudian menyampaikan khutbah yang didengarkan oleh jemaah yang hadir.
Khutbah Salat Istisqa terdiri atas dua khutbah yang disampaikan khatib dengan cara berdiri dan sekali duduk di antara kedua khutbah.
Rukun khutbah dan tata caranya dalam Salat Istisqa sama dengan yang dilakukan khatib Salat Id, yakni membaca takbir sembilan kali pada khutbah pertama dan takbir tujuh kali pada khutbah kedua.
Dalam materi khutbah, dianjurkan khatib mengajak umat Islam untuk bertobat, meminta ampun atas segala dosa, serta memperbanyak istigfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya saat kemarau panjang.
Setiap mengakhiri khutbah pertama dan khutbah kedua, khatib disunahkan membaca doa dengan cara membalikkan badan dan membelakangi jemaah untuk menghadap kiblat, menukar posisi selendang atau sorban di pundaknya, seraya mengangkat kedua tangannya.(*)