WALHI Jatim Sebut Kawasan Karst Trenggalek Lebih Sensitif dan Miliki Kekayaan Varietas Tanaman Khas
Rendy Nicko August 08, 2026 07:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menyoroti keunikan dan tingkat sensitivitas ekosistem karst yang membentang di wilayah Kabupaten Trenggalek.

Bentang alam karst di Trenggalek dinilai memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan daerah lain, mulai dari kerentanan lingkungan hingga kekayaan varietas tanaman khasnya.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur periode 2025–2029, Pradipta Indra Ariono, mengungkapkan, selain tingkat sensitivitas dan permasalahan lingkungannya yang khas.

Yaitu kawasan karst Trenggalek menyimpan potensi ekonomi berkelanjutan melalui kekayaan vegetasi dan varietas tanaman endemiknya.

Baca juga: Hindari Konflik Lomba Sepakbola, Warga Botoran Tulungagung Pilih Lomba Dayung Perahu Tradisional

"Bahkan soal varietas tanaman dan sebagainya itu juga memiliki kekhasannya sendiri dari Trenggalek. Nah, ini yang kemudian seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai pilihan ekonomi berkelanjutan," papar Pradipta Indra Ariono, Sabtu (8/8/2026).

Ia pun mengimbau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek untuk tidak mengambil opsi kebijakan ekonomi yang bersifat destruktif dan berjangka pendek.

Menurutnya, pilihan ekonomi yang merusak atau mengubah ekosistem karst justru akan membawa dampak kerugian yang besar bagi ruang hidup masyarakat.

Berdasarkan data riset Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2SDM LHK), kawasan ekosistem karst di Trenggalek mencakup luas lebih dari 153.000 hektare. 

Dikatakannya, luasan tersebut menegaskan betapa pentingnya peran kawasan karst sebagai tumpuan sumber kehidupan warga setempat.

"Ekosistem karst ini menjadi kawasan yang sangat penting untuk dijaga karena berkaitan langsung dengan kondisi ekosistem sumber-sumber kehidupan warga Trenggalek," paparnya.

Menurut Indra kawasan itu sebagai cadangan air, pengendali iklim mikro, maupun penyerap karbon. Jika kawasan ini terancam, potensi bencana ekologis akan sangat tinggi.

"Dari total 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Trenggalek, sebanyak 13 kecamatan di antaranya merupakan kawasan karst," ulasnya.

Dominasi ekosistem ini menuntut perlakuan (treatment) serta kebijakan pembangunan yang berbeda dibandingkan wilayah lain.

"Trenggalek itu memiliki ciri khas sendiri hampir keseluruhannya yakni 13 kecamatan memiliki wilayah karst. Tentu treatment dalam proses pembangunan dan kebijakannya sangat berbeda dengan wilayah lain," akuinya.

Indra merinci, ancaman bencana ekologis yang membayangi meliputi krisis air bersih, bencana banjir dan tanah longsor di area karst yang rawan, hingga peningkatan emisi gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim.

Oleh karena itu, WALHI Jawa Timur bersama koalisi masyarakat sipil terus mendorong Pemkab Trenggalek untuk menerbitkan kebijakan strategis yang berpihak pada keselamatan lingkungan. 

Pemkab Trenggalek diharapkan mampu menerbitkan regulasi yang melindungi kawasan karst dari ancaman industri ekstraktif maupun eksploitasi berlebihan.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.