Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - COSPLAYER hantu di sepanjang Jalan Asia Afrika, Kota Bandung menjadi pemandangan yang akrab ditemui di kawasan ini.
Bakat aksinya yang “menakuti-nakuti” pengendara lalu lintas atau pengguna jalan, kini menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Di antara beberapa cosplayer hantu, wajahnya dibuat seseram mungkin. Bahkan, rupanya berwarna hijau. Rambut panjang terurai, pakaian lusuh, dan riasan yang membuat siapa pun yang melihatnya sekilas mungkin memilih untuk menjauh. Tapi jangan buru-buru takut.
Sosok Nenek Lampir yang berdiri di sepanjang Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, itu sebenarnya sedang bekerja.
Di balik kostum tersebut ada Andi (46), pria yang sudah sejak 2018 menjalani aktivitas sebagai cosplayer hantu di kawasan tersebut.
Meski panas terik, Andi dengan spontan mengagetkan beberapa kendaraan yang melewat. Tak sedikit yang membuka kaca mobil untuk sekedar menyapa para hantu di kawasan tersebut.
Menjadi hantu bagi Andi bukan perkara menakut-nakuti orang. Ia dan rekan-rekannya justru menunggu wisatawan yang ingin berfoto.
Kostum yang dikenakan pun sudah menjadi identitas masing-masing. Andi memilih karakter Lampir, sementara cosplayer lain tampil sebagai pocong, Wewe Gombel, hingga karakter hantu lainnya.
Mereka ini tergabung dalam komunitas cosplayer. Sedikitnya, ada tiga komunitas besar yang menaungi para hantu tersebut.
"Kalau untuk kostum model Wewe Gombel itu ditentukan dari komunitas. Komunitas kita yang bikin. Jadi sudah ditentukan, siapa jadi hantu apa, semuanya berbeda karakternya,” ujarnya, saat berbincang dengan Tribun Jabar, Sabtu (8/8/2026).
Andi mengatakan, keberadaan cosplayer tersebut telah diakui pemerintah. Meski begitu, perjalanannya tidak mudah.
“Dulu para senior di sini sering dikejar Satpol PP, hingga beberapa tahun ke belakang juga gitu. Terus kami mikir, masa gini terus. Jadi membuat permohonan ke dinas dan sekarang diakui sebagai salah satu penarik wisatawan untuk datang ke Bandung,” jelasnya.
Bagi Andi, pekerjaan ini memang punya tantangan. Kostum yang menutup tubuh membuat panas dan gerah, terutama ketika harus berlama-lama di pinggir jalan.
Tapi ia punya alasan untuk tetap bertahan.
"Sebenarnya gerah sih ya. Cuma ada satu kata, jangan pernah bilang gerah buat anak dan istri," ujarnya.
Sebab, di balik karakter hantu yang dimainkan, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.
"Dan hidup laki-laki itu hanya untuk bekerja. Untuk menafkahi anak dan istri," katanya.
Para cosplayer itu pun tidak hanya bekerja di Asia Afrika. Mereka bisa dipanggil untuk menghadiri ulang tahun, gathering perusahaan, hingga acara pernikahan.
Jumlah anggota komunitas yang aktif saat ini sekitar 37 orang. Sebagian lainnya menjadi cadangan ketika ada anggota yang berhalangan.
Alga (23), cosplayer yang mengenakan kostum Wewe Gombel, merasakan sisi lain pekerjaan tersebut.
Ketika kawasan ramai, penghasilan yang dibawa pulang bisa lebih banyak.
“Kalau lagi rame bisa ratusan ribu. Bisa lah kalau dulu gaji Pegawai Negeri Sipil,” kelakarnya.
“Sebaliknya, saat jalanan sepi, penghasilan ikut menurun,” tuturnya.
Daya tarik cosplayer membawa peruntungan lain. Alga menyebut, pihaknya beberapa kali bertemu hingga berkolaborasi dengan artis besar.
Meski demikian, kegiatan sehari-hari di jalan tak lepas pandangan sebagian orang yang masih menganggap pekerjaan tersebut sebelah mata.
“Kita juga tidak ada tarif khusus, seikhlasnya. Mau Rp2 ribu, Rp5 ribu. Kalau yang baik suka ada yang ngasih Rp50 ribu. Tapi juga kalau ada tarif khusus itu oknum.”
“Mungkin ada yang mengira ini menganggu, padahal kita tidak ada kontak fisik, kecuali orangnya ingin dipegang, ya, peragaan misalnya pura-pura dicekik itu ada,” tuturnya.
Tersohor sebagai salah satu ciri khas di Kota Kembang, kini, pekerjaan mereka bahkan akan dibawa ke layar lebar.
“Nanti ada Film Counjurig Bandung, mengangkat cerita para cosplayer hantu di Asia Afrika dijadwalkan tayang di bioskop pada 1 Oktober 2026,” katanya.
Dia menambahkan, beberapa artis terkenal juga ikut terjun dalam karya tersebut.
Film tersebut menggabungkan cerita kehidupan para cosplayer dengan kisah percintaan dan dikemas sebagai horor komedi. (*)