Ankara (ANTARA) - Wakil Presiden Turkiye Cevdet Yilmaz pada Sabtu mengatakan bahwa Mesir berpotensi bergabung dalam perjanjian pertahanan antara Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan.

"Di masa depan, tentu saja, hal ini (perluasan) mungkin terjadi. Mesir adalah negara yang cukup kuat, dan partisipasinya bisa menjadi hal yang signifikan bagi format kerja sama semacam itu," ujar Yilmaz dalam sebuah wawancara dengan CNN Turk.

Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani perjanjian pertahanan pada Jumat (7/8). Menurut surat kabar Turkiye, kesepakatan tersebut mencakup kerja sama dalam pertukaran intelijen dan koordinasi keamanan regional.

Pakar Timur Tengah Yusuf Ener mengatakan kepada RIA Novosti bahwa ketiga negara tersebut memiliki kemampuan yang saling melengkapi: Turki memiliki industri pertahanan yang kuat dan potensi militer, Arab Saudi memiliki sumber daya keuangan dan energi, sementara Pakistan memiliki angkatan bersenjata yang besar serta kemampuan nuklir.

"Jika format trilateral ini dilembagakan, kemungkinan perluasannya untuk mencakup negara-negara kawasan lainnya tidak dapat dikesampingkan. Dalam hal itu, sebuah poros keamanan baru bisa terbentuk, membentang dari Anatolia hingga ke Laut Merah, Teluk Persia, dan Samudra Hindia," ujarnya.

Sebuah klausul dalam perjanjian tersebut menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara itu dianggap sebagai serangan terhadap seluruh pihak yang terlibat, sehingga kesepakatan ini memiliki karakteristik jaminan pertahanan bersama yang melampaui sekadar kerja sama persenjataan konvensional, kata Ener.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

​​​​​​​