Saling Tuding Pengurus Yayasan Lama dan Baru Soal 995 Senjata, Narkoba dan VCD di Sekolah Jaksel
Musahadah August 08, 2026 11:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Temuan 995 airsoft gun, senjata api, narkoba dan kepingan VCD asusila di sekolah kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, memunculkan beda pendapat antara pengurus yayasan lama dan baru. 

Pihak pengurus yayasan baru menyebut senjata, narkoba dan kepingan VCD asusila itu ditemukan di ruangan yang sebelumnya ditempati ketua yayasan lama.

Temuan itu berawal  pada Jumat, 10 Juli 2026, saat pihak yayasan membuka salah satu ruangan yang telah lama terkunci.

Di dalam ruangan tersebut ditemukan sekitar 995 pucuk senjata, amunisi, dan berbagai aksesori senjata.

Temuan itu membuat pihak yayasan kembali meminta pendampingan polisi ketika hendak membuka ruangan lain yang juga selama ini terkunci.

Penggeledahan lanjutan yang dilakukan pada Rabu (5/8/2026) kembali menghasilkan temuan mengejutkan.

Baca juga: Alasan Polisi Panggil Indra Wargadalem Soal Temuan 995 Senjata di Sekolah, Terungkap Rekam Jejaknya

Di ruangan tersebut ditemukan laras senjata kaliber 5,56 milimeter, senjata genggam kaliber 9 milimeter dan .40, magazine untuk pistol Glock dan Walther, magazine senapan serbu M4, serta alat pembuat peluru.

Tak hanya senjata, pihak sekolah juga menemukan barang yang diduga narkotika jenis sabu dan ganja, serta sekitar 25 keping VCD bermuatan pornografi.

Berikut beda pendapat antara pengurus yayasan lama dan baru terkait hal ini: 

Soal Pemecatan Eks Ketua Yayasan Lama

Kuasa hukum Indra Wargadalem alias IWD, Alhadid Endar Putra, membantah kliennya dipecat sebagai ketua yayasan karena melakukan penyelewengan dana sekolah.

Awalnya tudingan itu dilontarkan kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, pada Kamis (6/8/2026) kemarin.

Hermawanto mengungkapkan bahwa IWD dipecat karena diduga telah menggelapkan dana yayasan untuk keperluan pembelian tanah atas nama istrinya.

"Jadi alasan dipecat itu adalah karena ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi," jelas Hermawanto.

Pernyataan ini disampaikan Hermawanto saat menjelaskan terkait lokasi ditemukannya 995 senjata yaitu ruangan yanng sempat digunakan IWD semasa masih menjadi ketua yayasan.

Sebagai informasi, IWD tercatat menjabat sebagai ketua yayasan sekolah tersebut pada tahun 2020 dan dipecat pada April 2026 lalu.

Terkait tudingan ini, Alhadid meminta bukti. 

Dia mengungkapkan bahwa pihak sekolah justru berutang kepada IWD sebesar Rp7 miliar pada tahun 2010.

Hingga saat ini, sambung Alhadid, utang tersebut baru terbayar Rp4 miliar. Dia mengeklaim catatan utang itu terlampir dalam laporan keuangan yayasan.

"Kalau seandainya ada penggelapan, coba tunjukkan laporan keuangannya. Dari 2010 sampai tahun 2026, itu laporan keuangan menunjukkan yayasan justru berutang sama Pak IWD dari awalnya Rp7 miliar, sekarang tinggal Rp3 miliar," katanya ketika diwawancarai Tribunnews.com melalui sambungan telepon di Solo, Jawa Tengah, Jumat (7/8/2026).

Alhadid mengungkapkan kontribusi IWD terhadap yayasan inilah yang membuatnya diangkat menjadi pembina.

"Makanya mengapa diangkat menjadi pembina karena kontribusi kita ke yayasan. Coba ditanyakan kepada Bu N (salah satu pembina yayasan), ada nggak kontribusinya," tuturnya.

Soal Ruangan Tempat Senjata Ditemukan

Alhadid Endar Putra yang juga Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin membantah airsoft gun tersebut ditemukan di bekas ruangan Indra Wargadalem. 

Menurut Alhadid, barang-barang itu berada di gudang yang telah dikuasai pihak lain sejak April 2026 sehingga pihak PT Lokta Karya Perbakin tidak lagi memiliki akses ke lokasi.

Alhadid mengklaim air softgun yang ditemukan di sekolah itu legal. 

Dikatakan, 995 senjata di ruangan adalah legal sesuai Surat Izin SI/5483-XII/2008 diterbitkan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) milik dari PT Lokta Karya Perbakin.

Alhadid mengatakan, senjata tersebut memiliki izin Polri dan sebagian besar sudah tidak dapat digunakan karena berupa suku cadang. 

“Betul, milik Lokta dan legal. Namun gudang kami di sana juga sudah dikuasai sejak bulan April oleh pihak-pihak yang tidak berhak tersebut dari N (pembina yayasan sekolah saat ini), dan kami pun tidak boleh masuk,” ujar Alhadid saat dihubungi, Kamis (6/8/2026).

Alhadid mengaku tak tahu permasalahannya hingga pihak yayasan sekolah diwakili Untung Sangaji meminta pada akhir Juli untuk mengambil barang itu. 

Meski begitu saat stafnya ke lokasi, ruangan sudah dibuka dengan ada anggota Polisi dan TNI.

“995 seluruhnya merupakan air soft yang sudah tidak dapat digunakan dan legal. Sebagian besar juga berbentuk spare parts,” sambungnya.

Di sisi lain, perihal temuan senjata api (senpi) 215 tipe pistol, empat senapan kaliber 4,5 mm, narkoba dan CD porno, ditegaskan Alhadid bahwa barang itu bukan milik perusahaannya.

“Perihal itu bukan milik kami, namun coba ditanyakan kepada N, yang telah menduduki dan menguasai sekolah serta seluruh ruangan-ruangan itu di dalam sejak April 2026 bersama Untung Sangaji dan ormasnya. Kami sudah tidak ada disana dan tidak diperbolehkan masuk sejak April,” jelas dia.

Soal Ekstrakurikuler Menembak

MISTERIUS - 995 senjata api dan air soft gun yang ditemukan di sebuah sekolah kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
MISTERIUS - 995 senjata api dan air soft gun yang ditemukan di sebuah sekolah kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (istimewa/dok,kuasa hukum sekolah)

Alhadid Endar Putra menyebut ratusan senpi  itu akan digunakan untuk ekstrakurikuler menembak dan panahan sekolah yang telah direncanakan sejak 2021.

“Airsoft tersebut merupakan stok untuk persiapan ekskul menembak dan panahan dari sekolah. Yang akan dilaksanakan dan telah diketahui pada tahun 2021 bersama dengan Jendral Suryo Pembina Yayasan (sudah meninggal),” tambah dia.

Terbaru. Hermawanto menyebut berdasarkan keterangan para guru yang telah lama mengajar, sekolah tidak pernah menyelenggarakan ekstrakurikuler menembak.

"Berdasarkan informasi dari para guru yang sudah lama di sini, di sekolah ini tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak," kata Hermawanto kepada wartawan di lokasi, Jumat (7/8/2026).

Pengurus yayasan mengaku baru tahu keberadaan ratusan senjata usai memperoleh akses ke sejumlah ruangan yang sebelumnya dikuasai pengurus lama.

Pihak yayasan menegaskan, proses pembongkaran ruangan dilakukan di luar jam pelajaran sehingga tidak mengganggu aktivitas siswa.

"Semua berjalan baik, kegiatan belajar mengajar tidak terganggu karena pembongkaran dilakukan pada sore hingga malam hari, di luar jam sekolah," kata Hermawanto, Jumat siang.

Menurutnya, seluruh aktivitas pendidikan tetap berjalan seperti biasa. 

Siswa tetap mengikuti pembelajaran dan kegiatan di sekolah tanpa adanya gangguan dan seluruh barang bukti berupa senjata kini telah berada dalam penguasaan kepolisian.

Terkait asal-usul dugaan senjata itu, pihak yayasan mengaku tak tahu bagaimana barang-barang itu bisa berada di lingkungan sekolah. 

Pengurus yang kini menjabat menyatakan baru mengetahui keberadaan senjata usai memasuki ruangan yang sebelumnya dikelola pengurus lama.

"Pengurus baru tidak mengetahui keberadaan senjata itu, bagaimana masuknya dan siapa yang bertanggung jawab, kami tidak tahu, ruangan tersebut sebelumnya dikelola pengurus lama yang telah kami berhentikan," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.