Kehilangan Rodri ke Barcelona tentu akan menjadi tamparan bagi Real Madrid, tetapi itu bukan akhir dari segalanya.
Real Madrid jelas tidak ingin kehilangan Rodri dengan cara seperti ini. Ini bukan sekadar transfer biasa yang gagal pada jam-jam terakhir bursa, juga bukan situasi ketika seorang pemain memilih tawaran lain setelah menimbang semua opsinya. Los Blancos menginginkan gelandang Spanyol itu, dan untuk beberapa waktu semua tanda mengarah ke hasil yang mereka harapkan, sebelum muncul tikungan yang sama sekali tidak diperkirakan siapa pun di klub.
Mereka bergerak terlalu lambat. Keraguan saat seharusnya bertindak cepat dan tegas memberi Rodri ruang untuk memikirkan ulang masa depannya.
Lalu datang pukulan terbesar: Rodri memilih Barcelona.
Di situlah letak rasa sakit bagi Real Madrid. Kehilangan target ke klub lain adalah hal yang biasa terjadi dalam sepak bola. Namun kehilangan pemain dengan status sebesar ini ke rival terbesar Anda, setelah nama klub Anda begitu dominan dalam perburuan, adalah perkara yang sama sekali berbeda.
Itu adalah tamparan di wajah.
Namun, itu bukan akhir dunia.
Pertanyaan sebenarnya kini bukan lagi mengapa Real Madrid kehilangan Rodri. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mereka merespons kegagalan mendapatkan dirinya.
Rodri bukan sekadar rekrutan baru
Untuk memahami besarnya masalah ini, pertama-tama kita harus memahami mengapa Real Madrid begitu menginginkan Rodri.
Ini tidak pernah semata-mata soal menambah nama besar ke dalam daftar skuad.
Los Blancos sedang mencari jawaban atas salah satu persoalan teknis paling jelas dalam susunan tim mereka: siapa yang mengendalikan lini tengah?
Real Madrid memiliki nama-nama luar biasa di lini depan, dan kualitas menyerang mereka tidak perlu banyak penjelasan. Namun, mengendalikan pertandingan adalah persoalan lain. Saat menghadapi tim yang menekan keras atau memiliki lini tengah kuat, mereka membutuhkan pemain yang mampu menerima bola di bawah tekanan, mengalirkan permainan, mengatur pembangunan serangan dari belakang, melindungi tim ketika kehilangan penguasaan bola, lalu merebutnya kembali dengan cepat.
Rodri menawarkan nilai luar biasa tepat di area tersebut.
Maka, menggantikannya bukan soal mencari pemain yang memakai nomor punggung sama atau menempati posisi identik.
Tugas sesungguhnya adalah menggantikan fungsi yang seharusnya ia jalankan.
Pekerjaan José Mourinho kini menjadi jauh lebih rumit.
Bastoni: solusi sangat bagus, tetapi tidak menyelesaikan semuanya
Setelah gagal mendapatkan Rodri, media Madrid mulai membicarakan nama-nama lain yang bisa masuk ke rencana Real Madrid, dengan pemimpin redaksi surat kabar "AS", Jose Felix Diaz, menunjuk nama-nama seperti Ayoub Bouaddi, Adam Wharton, dan Kees Smit.
Selain itu, ada pula pembicaraan mengenai keinginan Mourinho untuk merekrut bek sisi kiri. Bastoni menjadi target, dan pemain dengan kualitas seperti itu bisa memberi bentuk akhir bagi lini pertahanan Real Madrid.
Di sinilah, menurut saya, terdapat sisi yang sangat positif: Bastoni akan menjadi rekrutan yang sangat bagus untuk Real Madrid, meski ia bukan gelandang yang sedang dicari tim ini.
Ia tidak hanya memberi Anda bek tangguh di lini belakang. Ia juga menghadirkan pemain yang mampu berkontribusi dalam pembangunan permainan.
Saat Anda memiliki kemampuan membawa bola dari belakang dan maju bersamanya, lalu mematahkan garis lawan lewat umpan, maka sebagian tekanan yang dibebankan kepada para gelandang akan berkurang.
Kehadirannya bisa membuat fase membangun serangan dari belakang menjadi lebih fleksibel, sekaligus memberi para gelandang dan pemain sayap kebebasan yang lebih besar.
Itu bisa memungkinkan pemain seperti Bernardo Silva atau Arda Guler mengambil peran yang lebih besar dalam menciptakan permainan dari area dalam, alih-alih membebani salah satu dari mereka dengan seluruh tanggung jawab membangun serangan dan memaksanya terlalu sering turun terlalu dalam.
Namun ada masalah: Bastoni bukan pengganti Rodri, dan ini adalah perbedaan yang tidak boleh dilupakan Real Madrid.
Merekrut bek top yang piawai memainkan bola dari belakang tidak otomatis menyelesaikan persoalan penguasaan lini tengah.
Itu memang akan membuat tim lebih baik di area lain, tentu saja, tetapi tidak memberikan solusi lengkap atas masalah yang seharusnya diatasi Rodri.
Bagaimana dengan Tchouaméni?
Real Madrid tidak bisa menghindari satu pertanyaan: bisakah Mourinho membangun lini tengahnya di sekitar Tchouameni?
Jawaban sederhananya, tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Tchouameni bisa memberi tim segala hal yang seharusnya diberikan Rodri.
Di sinilah jawabannya menjadi lebih rumit.
Tchouameni membawa kekuatan fisik, kemampuan merebut kembali bola, perlindungan defensif, dan kapasitas untuk mengisi banyak peran.
Namun menjadikannya satu-satunya solusi untuk seluruh problem lini tengah Real Madrid akan menjadi risiko besar.
Rodri bukan gelandang bertahan biasa. Ia adalah poros dari sebuah sistem secara keseluruhan.
Mengandalkan Tchouameni seorang diri berarti meminta pemain Prancis itu menjadi perebut bola, pengatur pembangunan serangan, pusat distribusi umpan, sekaligus pelindung pertahanan, semuanya pada saat yang sama.
Itulah tepatnya skenario terburuk yang bisa menjerumuskan Real Madrid.
Adam Wharton: bukan Rodri, tetapi bisa jadi!
Jika Real Madrid kembali ke pasar untuk mencari gelandang murni, Adam Wharton menurut saya adalah salah satu opsi paling menarik.
Ia tentu bukan Rodri.
Setiap upaya membandingkannya sekarang dengan bintang Spanyol itu akan tidak adil bagi pemain Inggris tersebut. Namun tujuan utamanya memang bukan mencari salinan Rodri.
Yang penting adalah menemukan pemain dengan karakteristik yang dibutuhkan Real Madrid, dan Wharton memiliki banyak di antaranya: ketenangan di bawah tekanan, kemampuan menjaga bola, distribusi umpan dari area dalam, visi lapangan yang tajam, serta hasrat untuk melakukan counter-press dan merebut kembali bola.
Di atas segalanya, usianya baru 22 tahun. Itu adalah keuntungan yang tidak bisa diabaikan.
Jika merekrut Wharton, Real Madrid tidak membeli pemain yang sudah mencapai puncaknya. Mereka akan mendapatkan pemain yang bisa berkembang sangat signifikan dalam beberapa tahun ke depan, dan mungkin menjadi salah satu yang terbaik di posisinya di Eropa.
Transfer ini mungkin membutuhkan kesabaran. Wharton mungkin tidak langsung menampilkan versi dirinya setingkat Rodri sejak hari pertama, tetapi plafon teknisnya sangat tinggi.
Dalam proyek yang dipimpin Mourinho, tipe pemain seperti itu bisa menjadi sangat penting.
Mourinho menghadapi persamaan yang sulit
Yang membuat situasi ini begitu menarik adalah bahwa kegagalan mendapatkan Rodri bisa mendorong Mourinho untuk memikirkan ulang bentuk Real Madrid, alih-alih sekadar berburu pengganti langsung.
Bastoni bisa menjadi bagian dari solusi di sini, tetapi bukan keseluruhannya.
Seorang bek yang mampu membangun permainan dari belakang akan meringankan tekanan pada lini tengah. Jika itu dipadukan dengan pemain jangkar seperti Tchouaméni untuk keseimbangan defensif, maka peran kreatif bisa diberikan kepada pemain seperti Bernardo Silva dan Arda Güler.
Jika merekrut Wharton, Mourinho akan memiliki satu opsi tambahan: lini tengah yang lebih siap mengendalikan bola.
Dengan kata lain, jawabannya tidak harus berupa Rodri pergi, lalu Rodri baru datang.
Pembagian ulang peran mungkin justru menjadi jalan yang lebih cerdas.
Real Madrid menghadapi dua opsi
Pada akhirnya, saya melihat Real Madrid menghadapi dua pilihan yang jelas.
Pertama: klub memutuskan bahwa lini tengah saat ini mampu menjalankan tugasnya, lalu mengalokasikan dana untuk memperkuat lini belakang dengan merekrut Bastoni, memberi Bernardo atau Güler peran kreatif yang lebih besar, dan mengandalkan Tchouaméni sebagai gelandang jangkar.
Pilihan itu memungkinkan. Namun itu menuntut keyakinan penuh bahwa grup yang ada sekarang benar-benar bisa menutup semua hal yang seharusnya diberikan Rodri.
Pilihan kedua, dan menurut saya yang lebih ambisius, adalah Real Madrid menerima bahwa kehilangan Rodri telah membuka kebutuhan nyata di lini tengah, lalu kembali ke pasar untuk mencari pemain yang bisa mengembangkan sistem. Adam Wharton akan menjadi salah satu opsi terbaik yang tersedia.
Bukan karena ia adalah Rodri, melainkan karena ia bisa menjadi Wharton yang dibutuhkan Real Madrid.
Tamparan yang sebenarnya bukanlah kehilangan Rodri
Kehilangan Rodri ke Barcelona mungkin menyakitkan bagi para pendukung Real Madrid.
Itu juga memang sebuah tamparan, dan hal itu perlu diakui. Pukulan ini datang dari rival tradisional mereka, dalam sebuah transfer di mana Real Madrid sebenarnya memiliki peluang nyata sebelum mereka bergerak lambat dan membiarkannya lepas.
Namun, sepak bola tidak memberi Anda banyak waktu untuk meratapi transfer yang gagal didapatkan.
Real Madrid kini memiliki pelatih baru, proyek baru, dan tim yang harus dibangun. Masalah sesungguhnya bukan bahwa Rodri pergi ke Barcelona. Masalahnya adalah apa yang terjadi jika Real Madrid membiarkan tamparan ini mendorong mereka menuju keputusan yang salah.
Bayangkan skenario terburuk. Klub kehilangan Rodri, lalu langsung memutuskan bahwa Tchouaméni bisa melakukan semuanya sendirian. Keputusan seperti itu membuat pertanyaan ini layak diajukan: apakah Real Madrid benar-benar sedang mencari solusi atas masalah mereka, atau hanya mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa masalah itu tidak ada?
Tidak seorang pun seharusnya menyebut ini sebagai akhir dunia.
Cara Real Madrid bangkit dari tamparan ini akan menentukan banyak hal.
Entah kehilangan Rodri hanya akan menjadi satu transfer yang lepas dan justru mendorong klub membangun tim yang lebih seimbang, atau dalam beberapa bulan Real Madrid akan menyadari bahwa Barcelona bukan sekadar merebut seorang pemain. Mereka menyingkap masalah yang selama ini ditunda-tunda oleh klub.