TRIBUNSTYLE.COM, KUTAI KARTANEGARA – Bagi wisatawan yang mencari destinasi pantai dengan suasana tenang sekaligus cocok untuk berkemah, Pantai Panrita Lopi di Pulau Pangempang, Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, bisa menjadi pilihan.
Pantai Panrita Lopi mulai dirintis pada 2016 dan resmi dibuka untuk wisatawan pada 2017. Destinasi ini menawarkan hamparan pasir putih yang berpadu dengan rindangnya pohon cemara, sehingga suasananya tetap terasa sejuk meski berada di kawasan pesisir.
Baca juga: Liburan ke Kalimantan Timur, Jelajahi Taman Mangrove Mentawir dengan Boardwalk dan Sunset Memikat
Nama Pantai Panrita Lopi sendiri memiliki makna yang cukup unik.
Pengelola Pantai Panrita Lopi, Agus Santoso, menjelaskan bahwa nama tersebut berasal dari bahasa Bulukumba, Sulawesi Selatan.
"Panrita artinya pencipta, sedangkan Lopi berarti kapal. Bulukumba terkenal sebagai daerah pembuat kapal pinisi, jadi maknanya pembuat kapal," ujarnya.
Untuk mencapai Pantai Panrita Lopi, pengunjung harus menyeberang menggunakan kapal dari dermaga dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 15 menit.
Biaya penyeberangan tersebut sudah termasuk tiket masuk kawasan wisata. Pada hari kerja, tarif pulang pergi sebesar Rp50 ribu untuk wisata harian dan Rp60 ribu bagi pengunjung yang ingin camping.
Sementara pada akhir pekan, tarifnya menjadi Rp60 ribu untuk kunjungan harian dan Rp70 ribu untuk camping.
Adapun tarif parkir kendaraan di dermaga sebesar Rp5 ribu untuk sepeda motor dan Rp15 ribu untuk mobil. Kawasan wisata ini juga buka hingga 24 jam bagi para wisatawan.
Berbagai fasilitas disediakan untuk menunjang kenyamanan pengunjung, mulai dari kamar mandi gratis, gazebo gratis, hingga musala.
Uniknya, musala di Pantai Panrita Lopi memiliki bentuk yang mirip dengan Ka'bah.
Bagi wisatawan yang ingin menginap, tersedia dua kamar sewa. Selain itu, pengelola juga menyediakan penyewaan tenda, tikar, hammock, serta area untuk membakar ikan.
Harga sewa tenda bervariasi, mulai dari Rp100 ribu untuk kapasitas dua orang, Rp120 ribu untuk empat orang, hingga Rp150 ribu untuk enam orang per malam.
Menurut Agus, akhir pekan menjadi waktu yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Menariknya, mayoritas pengunjung justru berasal dari luar Muara Badak.
"Pengunjung lokal Muara Badak mungkin hanya sekitar lima persen. Selebihnya banyak dari Samarinda, Bontang, Sangatta, Tenggarong, bahkan Balikpapan," katanya.
Meski sempat mengalami penurunan jumlah kunjungan saat pandemi Covid-19, kondisi wisata kemudian kembali stabil. Namun, belakangan jumlah wisatawan kembali menurun akibat kondisi ekonomi dan meningkatnya biaya transportasi.
Di balik pesonanya, Pantai Panrita Lopi masih menghadapi kendala infrastruktur, terutama belum tersedianya jaringan listrik dari PLN.
Baca juga: Liburan ke Kalimantan Timur, Intip Goa Batu Tapak Raja dengan Lorong Eksotis dan Alam yang Asri
Selama ini, operasional kawasan wisata masih mengandalkan genset dengan biaya bahan bakar yang cukup tinggi.
Agus berharap jaringan listrik dapat segera menjangkau kawasan tersebut. Menurutnya, kebutuhan tersebut bukan hanya dirasakan Pantai Panrita Lopi, tetapi juga tujuh pengelola pantai lain yang berada di hamparan pesisir Pulau Pangempang.
Dengan panorama alam yang masih asri, pasir putih yang bersih, serta pengalaman camping di tepi laut, Pantai Panrita Lopi menjadi salah satu destinasi wisata bahari di Kalimantan Timur yang layak masuk dalam daftar kunjungan wisatawan.
(TribunKaltim.com/TribunStyle.com/Naja Taqiyyudin)